Blog Archives

Tersesat

Kertas putih, ya seperti itu aku merasakan diriku akhir – akhir ini. Kertas putih yang biasanya dianggap kondisi suci oleh banyak orang namun tidak bagiku kali ini. Polos tanpa pola tanpa goresan serupa dengan lembaran – lembaran lain dalam buku baru. Entah bagaimana sesorang bisa merasakan hal seperti ini. Yang jelas aku merasakan ini bukan keadaan yang menyenangkan.

Menjalani waktu dan hidup dengan sangat terlalu wajar dan noral. Merasa sperti setiap detik berlalu begitu saja tanpa ada jejak setitik pun. Jejak setitik yang bisa sekedar untuk kulihat saat menoleh ke belakang. Hanya seperti melangkah di atas lempeng es yang putih dan tiada bertepi.

Bukan, ini bukan sikap tak bersyukur seperti yang dibilang oang. Jika kita benar – benar bersyukur pastilah takkan membiarkan hidup ini tiada bermakna. Setiap hela nafas berlalu dan hilang bersama partikel karbon dioksida yang kita hembuskan. Bersyukur seharusnya menjalani setiap detik ini dengan penuh hasrat, penuh dengan kesadaran dan berusaha maksimal demi hasil terbaik. Ya, seperti itulah hidup seharusnya.

Ini hanya perasaan kosong seperti ketika berdiri di nuansa gelap yang tak tahu dimana kita sedang berada. Itulah akibat dari berjalan dengan melamun dan ketika sadar kaita tak tahu sedang berada dimana. Namun waktu telah beranjak pergi tanpa bisa kembali. Yang kita cintai telahberlalu tanpa sedikit kesan dan yang berharga lenyap seperti birunnya langit ditelan senja. Betapa perih mengingat kita tak sedikit pun berusaha menggapai itu semua dengan sekuat tenaga. Namun malah melangkah menjauh tanpa disadari.

Tuhan selalu ingatkan kita untuk utamakan niat. Niat bukan sekedar kecapan lidah pengolah udara yang datang dari tenggorokan kemudian menjadi kata – kata yang kemudian hilang bersama angin. Niat lebih dari itu, niat adalah hasrat, niat adalah keinginan kuat, niat adalah keyakinan teguh

Advertisements