Blog Archives

AHANGKARA (Sengketa Kekuasaan dan Agama)

IMG_20170725_122443_HDR[1]“Demak tak pernah sanggup tidur nyenyak setelah menghancurkan Majapahit pada tahun 1478 dan menobatkan Nyo Lay Wa sebagai raja boneka. Kekuatan yang masih setia pada Majapahit bisa memberontak kapan saja. Penguasa Demak Trenggana, pun menggalang kekuatan untuk menaklukkan tanah Jawa. Dahampura dan Tuban menjadi dua wilayah pertama yang bakal ditaklukkan. Dahampura siap menyambut pasukan Demak setelah mengungsikan rakyatnya dan lontar-lontar warisan Majapahit. Di Tuban, telik sandi disebar, seluruh pasukan disiagakan. Namun, Demak dibayang-bayangi oleh kekuatan yang ingin membelokkan tujuan perang. Penumpang gelap itu ingin mengubah perang penaklukan Jawa menjadi perang antar-keyakinan. Mereka ingin menghapus agama leluhur Jawasekaligus aliran agama Rasul yang dianggap sesat, terutama aliran Tuban sunan Kalijaga dan aliran Lemahbang  Syekh Siti Jenar.

Seperti keberulan yang sangat kebetulan buku ini terbit di saat negeri ini sedang dilanda gonjang-ganjing isu hukum, politik dan agama. Ini menunjukkan betapa pekanya pengamatan Makimuddin Samin melihat situasi dan kondisi akhir-akhir ini. Dikemas dengan latar waktu masa-masa akhir Kerajaan Majapahit yang kala itu mulai tergantikan posisinya oleh Kesultanan Demak. Peergeseran kutub kekuasaan dari Majapahit ke Demak menimbulkan banyak peperangan yang tak kunjung usai.

Keinginan Demak untuk menyatukan tanah Jawa agar bisa membendung pengaruh Portugis. Namun di luar dugaan usaha mempersatukan tanah Jawa itu mendapat penolakan keras dari kadipaten-kadipaten yang masih setia dengan Majapahit. Di mata para penguasa kadipaten-kadipaten Majapahit Demak tak ubahnya Portugis itu sendiri yang hendak menindas dan merongrong kejayaan Jawa.  Gagalnya para penguasa menemukan jalan tengah untuk bersatu membawa tanah Jawa ke dalam perang saudara yang justru menguntungkan Portugis untuk menguasai jalur perdagangan rempah-rempah.

Di tengah situasi genting diambang perang antara Demak dan sekutunya melawan kadipaten-kadipaten yang ada di BrangWetan (Jawa Timur) seorang prajurit telik sandi (mata-mata) Demak berada di persimpangan. Sagara harus memilih antara membela panji Demak tempatnya mengabdi atau desa tempat kelahirannya beserta para penduduknya. Tak hanya itu dilema Sagara bertambah ketika harus memilih selir kesayangan adipati Tuban dan kekasih yang dicintainya semasa kecil. Sangat menarik mengikuti petualangan Sagara dalam menyelamatkan desa Ambulu dar gelombang serangan pasukan darat Demak. Beragam intrik dan strategi dilakukan untuk mengalahkan pasukan besar Demak.

Selain bisa menikmati sengitnya peperangan kita juga bisa mengambil banyak kutipan-kutipan dalam buku ini. Petuah-petuah para Majelis Wali dan tokoh-tokoh spiritual Siwa Sogata bisa menjadi perspektif baru bagi pembaca untuk menyikapi isu-isu yang sedang hangat di Indonesia akhir-akhir ini.

Novel ini menunjukkan betapa jelinya Makimuddin Samin menyajikan cerita konflik politik, agama dan asmara. Dalam isu-isu sensitif seperti politik dan agama para tokoh dalam novel ditempatkan sebagai manusia yang sangat manusiawi yang bisa benar dan bisa juga salah. Sehingga menghindarkan novel ini dari lembah keberpihakan. Meskipun sebenarnya penulisannya cenderung condong pada pihak Majapahit. Ini disebabkan asng penulis sendiri mengakui bahwa ide pembuatan novel ini muncul dari sebuah candi tua di daerah Tuban asal dari sang penulis.

Berpikir jernih dan adil adalah poin utama yang saya dapatkan ketika selesai membaca novel ini. Ahangkara atau dalam bahasa sehari-hari kita kenal dengan amarah dan kebencian ibarat kotoran dan sampah yang menfotori air sehingga mengurangi kejernihann pikiran dan hati dalam menyikapi permasalahan. Ahangkara pula yang menyulut api permusuhan hingga terjadi perang besar. Meskipun begitu tak ada satu pun manusia yang luput dari ahangkara, mereka yang bisa mengendalikannya adalah yang bisa memenangkan kehidupan.

Sekian dulu ulasan buku Ahangkara-nya, bila ulasan ini bermanfaat bagi sobat alurkayu silahkan klik tombol “like”. Jika ada saran atau masukan silahkan tulis di kolom komentar ya sob.

Alurkayu mohon diri

Wassalam..

YANG SULIT DIMENGERTI ADALAH PEREMPUAN

IMG_20170713_114458_HDR[1]Pada abad ke -21 begitu banyak kemajuan dicapai manusia di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita bisa mneyebutkan beberapa contoh kemajuan di bidang ilmu pengetahuan ketika para ilmuwan sudah mulai mampu menemukan cara agar manusia bisa tinggal di planet Mars. Atau penemuan teknologi internet kecepatan tinggi seperti 4,5G. Dan masih banyak lagi kemajuan yang dihasilkan dari kberhasilan manusia memahami, menganalisa, dan menemukan solusi dari masalah kehidupan sehari-hari.

Namun dari semua keberhasilan manusia dalam pencapaian di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi masih ada banyak sekali problematika di sekitar kita yang masih belum terpecahkan. Dan uniknya permasalahan itu bukanlah hal yang jauh dari manusia, melainkan hal-hal yang sering kita temuai.dan novel yang saya beli meallui layanan online menyadarkan bahwa masalah klasik yang sulit terpecahkan itu memang benar-benar dekat dengan kita.

Novel berjudul “Yang Paling Sulit Dimengerti Adalah Perempuan” membuat saya sedikit tergelitik membayangkan bagaimana mungkin ketika manusia sudah hampir tinggal di planet Mars namun masih belum mengerti tentang perempuan. Ya perempuan, makhluk yang sudah ada sejak kaum lelaki pun ada ini ternyata masih sulit dimengerti oleh para lelaki. Agak lucu memang, namun Fitrawan Umar menuliskan kegelisahan seorang lelaki yang berjuang memenangkan hati perempuan pujaan hatinya dengan sangat serius dan realistis.

Meskipun menempatkan salah satu gender (perempuan) sebagai judul menurut saya novel ini layak dibaca perempuan. Bukan untuk menggurui atau menyudutkan kaum perempuan melainkan sebagai wahana para kaum hawa untuk memahami bahwa cinta sangatlah luas, agung dan indah. Karena dalam bagian akhir penulis menyelipkan harapan agar pembaca bisa terus menikmati perjalanan menemukan cinta yang dipenuhi rimba antah berantah penuh jebakan kesedihan dan tak sedikit pula mata air keahagiaan.

Dan bagi kaum lelaki yang sudah tentu menjadi subyek yang digali pemikirannya oleh Fitrawan Umar akan menjadi renungan dan cerminan betapa cinta memang tak sesederhana yang dibayangkan. Bagi para lelaki yang akan, sedang atau telah dilanda jatuhcinta buku ini sangatlah cocok. Dengan bahasa dan pemikiran skeptisnya tokoh utama dalam novel ini amatlah mencerminkan kondisi nyata bukan lelaki yang muram, pendiam, dan terlalu melankolis yang amat membosankan bagi pembaca lelaki.

Baik sekian sedikit ulasan yang bisa saya berikan tentang novel “Yang Paling Sulit Dimengerti Adalah Perempuan”. Satu poin penting yang saya ambil dari novel tersebut adallah memahami perempuan dan rasa cinta kita kepadanya memang sulit dipahami dan dimengerti namun memang untuk itulah kita diciptakan, karena sesulit-sulitnya mengerti perempuan masih lebih baik daripada mengerti lelaki ya… ngapain juga ???? hehehe……

Oh ya sob, jangan lupa klik tombol “like” kalau kamu suka dengan artikel ini dan jangan lupa klik follow untuk tau lebih banyak artikel-artikel terbaru.

Sekian terima kasih

Ketidaksengajaan yang Sangat Sengaja

Assalamualaikum wr.wb. Salam hangat sobat alurkayu dimana pun berada, semoga selalu  semnagat dan bahagia. Sangat penting bagi kita untuk mencapai kebahagiaan dalam hidup. Bayangan akan kebahagiaan yang ingin dicapai membeuat setap waktu kita terasa berharga, setiap langkah terasa ringan, mood jadi bagus dan hal – hal inilah yang menandakan semangat sedang mengalir dalam diri kita. Pada kenyataannya hidup kita tak selalu sesuai dengan yang kita mau sehingga muncul rasa kecewa, sedih dan khawatir. sekujur tubuh terasa lemah dan kehilangan tenaga manakala kesedihan menghampiri kita. Nafas terasa sesak karena himpitan kekhawatiran akan terjadinya hal – hal yang tidak inginkan.

Dalam artikel ini saya mencoba berbagi pengalaman dalam memahami kebahagiaan dan kesedihan dengan rujukan buku La Tahzan (Jangan Bersedih). Sebuah buku yang ditulis oleh Dr. Aidh al-Qarni yang membuka jalan saya untuk memahami Interaksi antara alam pikiran dan keadaan yang saya alami, entah itu kebahagiaan atau kesedihan. Sehingga memberikan pemahaman baru dan penegasan terhadap nasehat–nasehat baik yang saya terima sebelumnya.

Ketidaksengajaan

Seperti halnya pemuda kebanyakan saat sebelum saya menemukan buku La Tahzan, saya kesulitan memahami mengapa saya harus merasa bahagia dan bersyukur, lalu mengapa saya harus merasa sedih dan mengeluh. Meskipun sudah lama saya dengar nasehat guru dan orang tua bahwa harus banyak bersabar dan berseyukur. Tak kurang juga ceramah agama menyampaikan keutamaan–keutamaan bersyukur dalam agama.

Di tengah kedangkalan pemahaman itu saya mengalami masalah dalam hubungan dengan pasangan yang sudah lama dibina dan berencana ke jenjang serius malah berada diambang perpisahan. Pasangan yang sebentar lagi akan saya ajak ke pelaminan memutuskan untuk menyudahi hubungan kami. Kenyataan itu membuat saya jatuh dalam jurang kesedihan dan keputus-asa-an. Meratap dan bermuram hati adalah kegiatan yang nikmat dilakukan untuk mengisi hari–hari setelah itu.

Hingga suatu ketika teman yang ber-empati terhadap keadaan saya berniat menghibur saya dengan mengajak saya ke sebuah toko buku untuk melihat–lihat. Hobi membaca yang sedang redup mendadak tersentak melihat sebuah buku tebal bersampul kuning dengan judul yang seolah – olah bicara kepada saya tentang perasaan yang saya alami.

“Jangan Bersedih”

Buku tebal yang sekilas nampak membosankan untuk dibaca. Sulit membayangkan bisa selesai membaca buku La Tahzan ini dalam kondisi mood jelek untuk membaca. Dan harga yang relatif lebih mahal dari buku–buku yang saya beli. Tidak tahu kenapa saya begitu mantab membawa pulang buku ini hanya karena judulnya yang seolah menggoda untukk dibaca.

IMG_20160808_202726

Kesengajaan yang “sangat sengaja”

Entah bagaimana saya harus memberi sub-judul untuk bagian ini. Terbersit kata “sengaja” saja di pikiran ini. Tidak ada kata sepadan selain kata “sengaja” untuk menggambarkan campur tangan Sang Maha Berkehendak lagi Maha Penyayang. Apa yang menuntun saya pada sebuah perjalanan baru menuju danau–danau hikmah yang airnya jernih dan menenangkan jiwa.

Sebuah keberuntungan yang tak terhingga ketika saya bisa memulai perjalanan dari “tempat” yang seharusnya jadi “tempat” meng-akhir-i perjalanan pula. Dalam kepercayaan yang saya anut semua hal yang ada di dunia ini berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Sehinggga dimulai dengan memahami bahwa sekuat apa pun kita berusaha tetap saja ada bagian yang kita tidak akan bisa mengendalikannya, dan sebaik apa pun akal kita memahami suatu masalah tetap ada saat ketika akal kita tak mampu menggapai solusi.

Masalah hubungan antara laki – laki dan perempuan yang biasa dikeluhkan teman kepada saya dan seolah mudah bagi akal saya untuk mencerna masalah itu menjadi solusi. Namun keadaan sekarang berubah dan menempatkan saya pada posisi yang dialami teman saya tersebut. Dan ternyata akal pun mengakui bahwa ada sisi dimana logika tak mampu memproses hitungan. Hitungan tentang perasaan mendalam pada seseorang dan ikatan yang menyatukan dua insan sedang diambang perpisahan.

Dalam rasa sedih dan kecewa yang semakin menjadi–jadi setiap hari karena bayangan perpisahan itu. Bahasa lembut-Nya menyapa jiwa dengan perantara buku La Tahzan. Menyadarkan saya bahwa betapa tak pantasnya rasa sedih berlebihan bertahta di dalam hati orang–orang yang percaya pada-Nya. Karena begitu banyak kasih sayang dan anugerah yang Dia berikan kepada kita. Mengerti bahwa sedih itu sendiri hanya syarat untuk hadirnya kebahagiaan. Setiap tetes air mata akan diganti dengan kepuasan dan ketenangan hati jika mau bersyukur dan pasrah kepada-Nya.

Uluran tangan yang luar biasa indah dan hangat memeluk jiwa. Tuhan tahu saya bukan ahli kitab yang rajin membaca firman–firman-Nya. Dia pun tahu kalau saya umat-Nya yang dangkal pemahaman tentang-Nya. Dan akhirnya saya mengerti bahwa Dia selalu melihat, mendengar dan menolong saya dalam keadaan apa pun.

-Seleeai-

Note : Artikel ini bukan resensi, ini hanya cara saya untuk menerjemahkan apa yang saya pahami dan alami. Saya menyadari banyak kekurangan dalam pemahaman saya ini, sehingga artikel ini tak berhenti di bahasan ini dan akan terus dikembangkan seiring pemahamn dan pengalaman saya. Besar harapan saya artikel ini memberi manfaat bagi sobat alurkayu.

Saran dan masukan sangat saya harapkan untuk bisa menghasilkan tulisan yang lebih baik lagi. Atau bagi sobat yang ingin berbagi pengalaman yang sama tentang buku La Tahzan silahkan tulis di kolom komentar di bawah. Boleh berupa tulisan atau share link web/blog sobat. Akhirnya sekian dan terima kasih. Wassalam