Blog Archives

Ketidaksengajaan yang Sangat Sengaja

Assalamualaikum wr.wb. Salam hangat sobat alurkayu dimana pun berada, semoga selalu  semnagat dan bahagia. Sangat penting bagi kita untuk mencapai kebahagiaan dalam hidup. Bayangan akan kebahagiaan yang ingin dicapai membeuat setap waktu kita terasa berharga, setiap langkah terasa ringan, mood jadi bagus dan hal – hal inilah yang menandakan semangat sedang mengalir dalam diri kita. Pada kenyataannya hidup kita tak selalu sesuai dengan yang kita mau sehingga muncul rasa kecewa, sedih dan khawatir. sekujur tubuh terasa lemah dan kehilangan tenaga manakala kesedihan menghampiri kita. Nafas terasa sesak karena himpitan kekhawatiran akan terjadinya hal – hal yang tidak inginkan.

Dalam artikel ini saya mencoba berbagi pengalaman dalam memahami kebahagiaan dan kesedihan dengan rujukan buku La Tahzan (Jangan Bersedih). Sebuah buku yang ditulis oleh Dr. Aidh al-Qarni yang membuka jalan saya untuk memahami Interaksi antara alam pikiran dan keadaan yang saya alami, entah itu kebahagiaan atau kesedihan. Sehingga memberikan pemahaman baru dan penegasan terhadap nasehat–nasehat baik yang saya terima sebelumnya.

Ketidaksengajaan

Seperti halnya pemuda kebanyakan saat sebelum saya menemukan buku La Tahzan, saya kesulitan memahami mengapa saya harus merasa bahagia dan bersyukur, lalu mengapa saya harus merasa sedih dan mengeluh. Meskipun sudah lama saya dengar nasehat guru dan orang tua bahwa harus banyak bersabar dan berseyukur. Tak kurang juga ceramah agama menyampaikan keutamaan–keutamaan bersyukur dalam agama.

Di tengah kedangkalan pemahaman itu saya mengalami masalah dalam hubungan dengan pasangan yang sudah lama dibina dan berencana ke jenjang serius malah berada diambang perpisahan. Pasangan yang sebentar lagi akan saya ajak ke pelaminan memutuskan untuk menyudahi hubungan kami. Kenyataan itu membuat saya jatuh dalam jurang kesedihan dan keputus-asa-an. Meratap dan bermuram hati adalah kegiatan yang nikmat dilakukan untuk mengisi hari–hari setelah itu.

Hingga suatu ketika teman yang ber-empati terhadap keadaan saya berniat menghibur saya dengan mengajak saya ke sebuah toko buku untuk melihat–lihat. Hobi membaca yang sedang redup mendadak tersentak melihat sebuah buku tebal bersampul kuning dengan judul yang seolah – olah bicara kepada saya tentang perasaan yang saya alami.

“Jangan Bersedih”

Buku tebal yang sekilas nampak membosankan untuk dibaca. Sulit membayangkan bisa selesai membaca buku La Tahzan ini dalam kondisi mood jelek untuk membaca. Dan harga yang relatif lebih mahal dari buku–buku yang saya beli. Tidak tahu kenapa saya begitu mantab membawa pulang buku ini hanya karena judulnya yang seolah menggoda untukk dibaca.

IMG_20160808_202726

Kesengajaan yang “sangat sengaja”

Entah bagaimana saya harus memberi sub-judul untuk bagian ini. Terbersit kata “sengaja” saja di pikiran ini. Tidak ada kata sepadan selain kata “sengaja” untuk menggambarkan campur tangan Sang Maha Berkehendak lagi Maha Penyayang. Apa yang menuntun saya pada sebuah perjalanan baru menuju danau–danau hikmah yang airnya jernih dan menenangkan jiwa.

Sebuah keberuntungan yang tak terhingga ketika saya bisa memulai perjalanan dari “tempat” yang seharusnya jadi “tempat” meng-akhir-i perjalanan pula. Dalam kepercayaan yang saya anut semua hal yang ada di dunia ini berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Sehinggga dimulai dengan memahami bahwa sekuat apa pun kita berusaha tetap saja ada bagian yang kita tidak akan bisa mengendalikannya, dan sebaik apa pun akal kita memahami suatu masalah tetap ada saat ketika akal kita tak mampu menggapai solusi.

Masalah hubungan antara laki – laki dan perempuan yang biasa dikeluhkan teman kepada saya dan seolah mudah bagi akal saya untuk mencerna masalah itu menjadi solusi. Namun keadaan sekarang berubah dan menempatkan saya pada posisi yang dialami teman saya tersebut. Dan ternyata akal pun mengakui bahwa ada sisi dimana logika tak mampu memproses hitungan. Hitungan tentang perasaan mendalam pada seseorang dan ikatan yang menyatukan dua insan sedang diambang perpisahan.

Dalam rasa sedih dan kecewa yang semakin menjadi–jadi setiap hari karena bayangan perpisahan itu. Bahasa lembut-Nya menyapa jiwa dengan perantara buku La Tahzan. Menyadarkan saya bahwa betapa tak pantasnya rasa sedih berlebihan bertahta di dalam hati orang–orang yang percaya pada-Nya. Karena begitu banyak kasih sayang dan anugerah yang Dia berikan kepada kita. Mengerti bahwa sedih itu sendiri hanya syarat untuk hadirnya kebahagiaan. Setiap tetes air mata akan diganti dengan kepuasan dan ketenangan hati jika mau bersyukur dan pasrah kepada-Nya.

Uluran tangan yang luar biasa indah dan hangat memeluk jiwa. Tuhan tahu saya bukan ahli kitab yang rajin membaca firman–firman-Nya. Dia pun tahu kalau saya umat-Nya yang dangkal pemahaman tentang-Nya. Dan akhirnya saya mengerti bahwa Dia selalu melihat, mendengar dan menolong saya dalam keadaan apa pun.

-Seleeai-

Note : Artikel ini bukan resensi, ini hanya cara saya untuk menerjemahkan apa yang saya pahami dan alami. Saya menyadari banyak kekurangan dalam pemahaman saya ini, sehingga artikel ini tak berhenti di bahasan ini dan akan terus dikembangkan seiring pemahamn dan pengalaman saya. Besar harapan saya artikel ini memberi manfaat bagi sobat alurkayu.

Saran dan masukan sangat saya harapkan untuk bisa menghasilkan tulisan yang lebih baik lagi. Atau bagi sobat yang ingin berbagi pengalaman yang sama tentang buku La Tahzan silahkan tulis di kolom komentar di bawah. Boleh berupa tulisan atau share link web/blog sobat. Akhirnya sekian dan terima kasih. Wassalam

Advertisements