Category Archives: Catatan

Pengalaman

Seratus Dua Puluh Jam Membuang Cinta (Part 1)

Apa yang terlintas di pikiran ketika mendengar kata patah hati ? kebanyakan dari kita pasti menjawab soal putus cinta, perselingkuhan, ditolak, atau mungkin gagal merried. Ya, apa pun jawabannya sebenarnya sah – sah saja. Karena yang akan dibahas dalam artikel ini bukan soal kenapa kita patah hati tetapi tentang apa yang kita pikirkan saat mengalami patah hati dan bagaimana melaluinya. Dan ini murni perspektif pribadi dan dari bebrapa pengalaman teman, so semoga bermanfaat bagi anda yang membaca.

Seratus dua puluh jam membuang cinta adalah salah satu metode yang saya jalani untuk mengobati patah hati saya sama mantan. Kumpulan peristiwa dan kejadian yang membawa pada satu posisi berpikir baru pasca patah hati.

24 jam pertama

Satu jam pertama adalah saat – saat menegangkan dan sangat menentukan dalam menjalani step – step berikutnya. Karena saat – saat selama satu jam itulah rasa kecewa dan patah hati benar – benar hilang dan tidak terasa kesedihan sama sekali.  Semua rasa itu hilang begitu saja dan berganti rasa mual. Yap, anda tidak salah baca, itu memang rasa mual karena lama tidak melakukan perjalanan udara dengan pesawat terbang. Singkat cerita saat itu saya merasakan mabuk di 10 menti terakhir penerbangan dari Surabaya menuju Denpasar.

Suasana baru, orang – orang baru begitu menarik perhatian saya yang merubah rasa mual tadi menjadi rasa antusias yang tingg. Debur ombak pantai Kuta memberikan ketenangan batin yang cukup lama saya rindukan. Hingga kemudian perjalanan harus berlanjut menuju Ubud. Dan wow, 2 jam perjalanan yang cukup melelahkan terbayar dengan keindahan alam Ubud. Deretan petak – petak sawah menghampar sejauh mata memandang dan diselimuti udara sejuk yang mengusir segala penat pikiran siapa pun yang memandang.  Dan terakhir disambut dengan kamar hotel mewah yang tentu kenyamanannya jauh dia atas dibanding dengan harga yang harus dibayar.

24 jam pertama yang luar biasa dan semua panca indra merasakan sensasi yang hebat dan membahagiakan. Sehingga rasa sedih akibat patah hati sirna begitu saja. (Bersambung)

Trip ke Ubud Bali

Indonesia sebagai salah satu negara kepulauan dengan lebih dari 15 ribu pulau selalu memiliki daya tarik untuk dikunjungi. Ribuan turis mancanegara datang setiap tahun untuk menikmati keindahan alam Indonesia dan keanekaragaman budayanya, belum lagi ditambah dengan wisatawan domestik. Data dari kementrian pariwisata menyebutkan lebih dari 9 juta orang wisatawan mancanegara mengunjungi Indonesia di tahun 2014. Dan 250 ribu lebih perjalanan yang dilakukan wisatawan domestik di tahun 2013.

Dari sekian banyak pulau di Nusantara saya berkesempatan mengunjungi salah satu pulau yang reputasinya sudah mendunia., mana lagi kalau bukan Pulau Dewata Bali. Di artikel ini saya ingin berbagi cerita perjalanan saya tersebut. Semoga cerita saya ini bisa bermanfaat dan tentunya menarik minat sobat alurkayu untuk pergi berlibur.

  1. ALASAM

Ada banyak pilihan kata untuk judul Bab ini, namun yang terlintas justru kata alasan mungkin supaya saya gampang untuk mengabstraksikan tentang apa yang akan saya ceritakan di bab ini (Hehee*ngelesmodeon).  Setiap hal yang terjadi di dunia pasti terikat dengan hukum sebab akibat yang digariskan Tuhan. Seperti itu jugalah perjalanan saya kali ini yang pasti ada alasan atau sebab yang memicunya.

Pada dasarnya saya adalah pria rumahan yang banyak menghabiskan waktu di rumah daripada di luar rumah. Kegiatan di luar rumah seperti traveling bukan hobi saya. Untuk bepergian jauh membutuhkan alasan yang cukup kuat bagi saya. Seperti keperluan keluarga, kepentingan dinas atau memang acara tur yang diadakan sekolah atau kampus tempat saya belajar. Dan ternyata alasan itu muncul dari saya sendiri. Usia yang sudah tidak lagi muda dan dianggap “mapan” oleh lingkungan sekitar memunculkan berbagai dorongan atau kadang agak sedikit berbau paksaan untuk segera menikah.

Belum lagi kandasnya hubungan yang saya jalin selama dua tahun dengan pasangan saya memberikan beban yang cukup berat di pikiran saya. Rasa kecewa yang mendalam dan keinginan untuk melupakan kenangan bersamanya mendorong saya untuk merencanakan sebuah perjalanan wisata.

Mungkin aalasan saya kali nii klise dan banyak orang juga mengalami. Kejenuhan yang memuncak yang disebabkan rutinitas mendorong saya untuk sejenak meninggalkan kesibukan itu. Walaupun ini sebenarnya bukan berarti saya tidak mensyukuri apa yang saya miliki saat ini. Terkadang kita sebagai manusia akan mencapai satu titik tertentu dimana cepatnya perjalanan waktu membuat kita lupa akan siapa diri kita dan lelah untuk menjadi orang lain seperti  yang dituntut oleh lingkungan kita.

  1. TUJUAN

Layaknya setiap perjalanan tujuan adalah syarat wajib sempurnanya perjalanan itu sendiri. Dan dengan tujuan pula perjalanan kita menjadi terarah dan bernilai. Tujuan di sini bukanlah obyek wisata yang akan dikunjungi. Melainkan suatu hal yang ingin kita peroleh dalam perjalanan. Berikut ini beberapa hal yang  ingin saya peroleh dari perjalanan kali ini.

  • Melihat

Ya, melihat di sini memang melihat dengan mata penglihatan kita (bukan dengan mata hati*hehe). Pemandangan alam Bali yang masih alami dan terjaga dengan sangat baik. Kombinasi yang harmoni antara alam yang menakjubkan dengan tradisi budaya masyarakat sangat memanjakan mata kita.

  • Menemukan

Sebagai orang rumahan yang jarang “main” jauh. Tentu perjalanan kali ini memberikan pengalaman yang luar biasa mulai dari betapa mualnya saya ketika pesawat take off dari bandara Juanda hingga landing di bandara Ngurah Rai. Sungguh pengalaman yang menyiksa bagi saya. Betapa ramahnya bapak penjaga rental motor dan masih banyak lagi pengalaman-pengalaman lain akan saya ceritakan di tulisan saya kali ini.

  • Merasakan

Tujuan utama perjalanan berlibur tentunya adalah ketenangan. Kondisi dimana rasa senang dan puas akan pengalaman yang didapat menimbulkan rasa tenang. Dan didukung dengan suasana yang nyaman.

  1. INSPIRASI

Berbicara tentang inspirasi memang sangat subyektif dan setiap orang boleh berbeda-beda dalam merancang liburan. Merancang sebuah liburan bagi orang rumahan seperti  saya  memang sama sulitnya dengan menyusun skripsi semester akhir. Seringkali ditanya mau liburan kemana saya hanya bisa berkata terserah  pada yang mengajak liburan. Namun ada yang berbeda di liburan kali ini. Ada beberapa hal yang menjadi sumber inspirasi saya untuk berlibur kali ini.

  • Film

Mungkin ada beberapa sobat yang rada mengerutkan dahi karena film jadi inspirasi untuk melakukan perjalanan berlibur. Sebenarnya ada banyak sekali film yang menginspirasi kita untuk pergi berlibur sob seperti  The Beach (tahun 2000), Secret Life of Walter Mitty (tahun 2013), 5 Cm (tahun 2012) dan masih banyak lagi. Begitu juga dengan liburan saya kali ini yang terinspirasi  dari film Eat, Pray, Love (tahun 2010).

Eat, Pray, Love dibintangi oleh aktris cantik Hollywood Julia Robert. Film ini mengisahkan seorang perempuan sukses di New York yang kehidupannya berubah 180 derajat. Ditengah rasa kalutnya akibat perceraian dengan sang suami Liz sang tokoh utama merencanakan perjalanan ke tiga negara berbeda. Di Roma Italia dia ingin menemukan kembali gairah hidup dan gairah makannya. Di India dia mencari keseimbangan dalam batinnya dengan bermeditasi dan yoga. Dan terakhir di Bali dia menyempurnakan perjalanannya dengan menemukan ketenangan dan cinta yang baru.

Nah, dari sinilah akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke Ubud Bali, karena ingin mengikuti jejak Liz (Julia Robert) menemukan cinta baru di Bali seperti kata salah seorang tokoh dalam film tersebut  :”In Bali we find Love”.

  • Googling

Kita semua tahu hidup akhir-akhir ini agak sulit lepas dari internet. Daripada mencari buku tentang berbagai obyek wisata di Bali, tentu akan lebih mudah melalui mesin pencari Google. Dengan Google saya menemukan informasi beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi. Informasi penting yang bisa kita peroleh seperti nama-nama tempat wisata yang bisa dikunjungi, transportasi menuju ke sana , waktu tempuh, tarif obyek wisata, tempat makan,  keunikan tempat wisata tersebut dan masih banyak yang lain.

  • Media Sosial

Dari Google biasanya kita dapat sebagian besar informasi tentang tempat  yang akan kita kunjungi. Namun kadang ada sebagian kecil tempat wisata yang sepertinya bagus untuk dikunjungi namun punya jarak yang jauh , dan bisa menghabiskan banyak biaya dan waktu. Bagi sobat yang ingin liburannya berbeda dengan teman yang baru berkunjung ke Bali juga mungkin media sosial bisa jadi solusi. Dalam media sosial kita bisa menemukan banyak foto bagus yang diunggah oleh orang-orang yang pernah berkunjung sebelumnya. Foto-foto itu pasti jauh lebih bagus dan lebih banyak daripada ulasan tentang tempat wisata tersebut. Dari situ kita bisa tentukan apakah tempat wisata yang akan dituju itu layak dikunjungi atau tidak.

  1. DAYS OF TRIP

Nah, ini bagian yang paling saya suka dan sobat alurkayu tunggu. Di sini saya akan bercerita tentang 5 hari liburan saya di Ubud, Bali.

  • Transportasi

Terima kasih banyak untuk Traveloka yang memberikan promo tiket murah tanggal 1 desember 2016 jurusan Surabaya-Denpasar. Cuma dengan Rp.300 ribu saya dan seorang teman bisa terbang ke Denpasar dengan pesawat Citilink. Tiket murah itu ternyata membutuhkan sedikit pengorbanan dengan harus tidur di tempat saya kerja agar bisa berangkat bersama dengan teman yang juga satu tempat kerja. Itu karena pesawat kami berangkat pukul 05.30 yang artinya kami harus tiba di Bandara Juanda 1 jam sebelum keberangkatan.

Begadang semalaman tanggal 30 November membuat kami akhirnya memutuskan berangkat jam 2 dinihari 1 Desember. Dinihari yang lumayan sepi dan tidak kelihatan satu pun taksi yang nongkrong di pelabuhan Tanjung Perak. Akhirnya kami memutuskan untuk memesan taksi online Uber. Yap, lebih mudah karena bisa memanggil taksi untuk datang menjemput kita. Selain mudah juga murah dibandingkan dengan taksi konvensional. Kita bisa menghemat banyak uang dengan selisih sekitar 50%. Dengan jarak yang sama antara Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya ke Bandara Juanda sejauh 35 km kita harus membayar sekitar Rp. 150 ribu, sedangkan untuk taksi online kami hanya membayar sekitar Rp. 80 ribu.

Waktu masih menunjukkan pukul 02.50 ketika kami tiba di bandara Juanda. Perjalanan sangat lancar menuju Bandara karena lalu lintas yang memang masih sangat sepi mengingat masih dini hari.  Setelah habis 2 batang rokok kami pun masuk ke ruang tunggu dengan melalui proses Boarding Pass dan prosedur keamanan Bandara.

Tak lama berselang, kami dan penumpang lain tujuan Denpasar dipersilahkan menuju ke Pesawat. Dan pukul 5.30 pesawat pun berangkat dengan take off yang terasa kasar menurut saya. Take off yang mempengaruhi kenyamanan selama 50 menit perjalanan menuju Denpasar. Rasa mual karena lama sudah tidak naik pesawat membuat saya tersiksa di 10 menit penerbangan. Ditambah lagi 10 menit tambahan karena pesawat belum diijinkan mendarat dikarenakan hujan di Bandara Ngurah Rai. Namun syukurlah pesawat berhasil mendarat dengan mulus

Di luar terminal kedatangan Domestik Bandara Ngurah Rai kami disambut para supir taksi Bandara dan mobil travel sewaan yang siap mengantar kita kemana saja. Di sinilah kita harus tricky jika tak ingin isi dompet kita terkuras sebelum berlibur. Ini karena begitu banyak penawaran harga dan pilihan mobil yang akan kita dapat di sana. Variasi harga yang saya dapat kala itu untuk perjalanan dari Bandara Ngurah Rai ke Ubud adalah Rp. 300 ribu dengan jarak 37 km atau 1,5 jam perjalanan. Penawaran harga itu tentu tidak membuat kami puas, sehingga saya mencoba memesan taksi online lagi. Dan penawaran harga yang kami peroleh adalah Rp. 150 ribu. Alhasil pilihan pun kami berikan pada taksi online lagi. Namun perlu diingat bahwa ada peraturan tertulis yang menyebutkan bahwa taksi online dilarang mengambil penumpang di area Bandara baik di Ngurah Rai atau mungkin di semua Bandara di Indonesia. Jadi, saya sarankan untuk berkomuikasi secara baik dengan calon pengemudi taksi online yang akan kita tumpangi sob. Demi keselamatan kita sebagai calon penumpang dan pengemudi taksi online. Serem ? ya begitulah yang sedang terjadi saat ini. Dan memang itu seperti komppensasi dari harga murah yang kita dapat.

Singkat cerita kami pun naik ke mobil taksi online dan menyampaikan tujuan kami. Dan kami pun terkejut bukan kepalang karena pengemudi taksi online menolak mengantarkan kami ke tujuan dengan harga yang tertera di aplikasi Uber. Cukup lama mobbil terdiam menunggu kami selesai bernegosiasi harga. Sang pengemudi pun membuka penawaran harga baru untuk mengantar kami ke Ubud. Tahukah sobat berapa harga baru yang ditawarkan san pengemudi taksi online ?. dengan berbagai dalil sang pengemudi menawari kami harga Rp.300 ribu untuk perjalanan ke Ubud. Penawaran yang mengejutkan dan menjengkelkan karena itu sama saja kami ikut taksi Bandara yang menawari kami di area kedatangan tadi. Untung teman saya berinisiatif untuk minta diantar ke pantai Kuta. Dengan ongkos hanya Rp. 50 ribu kami tiba di kawasan wisata pantai Kuta.

Sensasi Jet Lag dan jengkel karena kami masih di Kuta sedang seharusnya sudah tiba di Ubud membawa kami untuk bersantai sejenak di pantai Kuta sambil menikmati sebotol minuman ringan.  Kondisi di luar rencana tidak menyurutkan semangat kami, alhasil ide pun muncul seketika. Perkalanan dari Kuta ke Ubud kami lalui dengan mengendarai sepeda motor sewaan. Memang ada banyak sekali tempat persewaan sepeda motor di Kuta. Trik yang bisa sobat gunakan agar tidak mendapat harga mahal saat menyewa pstikan sobat mendapat harga wisatawan lokal. Karena sebenarnya walaupun mereka menawarkan satu harga di awal tapi sbebenarnya ada perbedaan penawaran untuk wisatawan lokal dan mancanegara. Jadi jangan sungkan-sungkan untuk menawar sebelum sepakat harga ya !

Matahari sudah hampir di ubun-ubun ketika kami sampai di Villa Mandi Ubud jalan Singakerta. Dan selanjutnya sepeda motor sewaan inilah yang mengantarkan kami kemana pun tempat yang ingin kami tuju selanjutnya.

  • Akomodasi

Selama di ubud saya menginap di Hotel Villa Mandi Ubud. Tinggal selama 5 hari 4 malam sungguh merupakan pengalaman berharga karena sebenarnya saya memesan untuk kamar tipe biasa dengan harga Rp. 270 ribu permalam, namun ketika kami chec in malah diberi kamar dengan private pool dan itu sungguh luar biasa bagus buat kami. Kamar dengan private pool ini waktu saya lihat di aplikasi harganya sekitar Rp. 700 ribu per malam. Hal ini bisa terjadi karena kamar yang kami pesan sedang ada proyek perbaikan di dekatnya sehingga untuk memastikan kenyamanan tamu maka manajemen hotel memindahkan kami ke kamar yang ada private pool.

Hotel Villa Mandi Ubud ini sangat unik karena dibangun dengan konsep villa dan agak berbeda dengan hotel yang pernah saya kunjungi sebelumnya yang kebanyakan berbentuk gedung bertingkat. Dan letaknya yang agak dipinggiran pusat kotaUbud membuat ketenangan sangat terjaga di sini. Belum lagi lokasinya yang ada di tengah lahan persawahan sangat memanjakan mata.

  • Destinasi

Dengan waktu 5 hari 4 malam di Ubud seharusnya banyak tempat yang bisa ceritakan ke sobat alurkayu namun apalah daya selama 5 hari itu hujan selalu menghiasi setiap harinya. Jadi banyak waktu yang terbuang menunggu hujan reda baik menunggu di pinggir jalan maupun di kamar hotel. Maklum transportasi andalan kami hanya sepeda motor (murah meriah hehe…).

Di hari pertama kami tiba di Ubud tidak banyak tempat yang kami kunjungi karena dari tengah hari sampe petang hari kami hanya istirahat di kamar. Dan malam hari baru bisa berkeliling melihat keramaian pusat kota Ubud,

Monkey Forest adalah obyek wisata yang kami kunjungi pertama kali di Ubud. Dengan harga tiket masuk hanya Rp. 40 ribu per orang kita bisa berkeliling kawasan penangkaran monyet-monyet ekor panjang mirip di Sangeh. Di sana kita bisa memberi makan monyet-monyet ekor panjang dan melihat kompleks Pura Dalem Agung dan Pura Madia Mandala. Monyet-monyet banyak berkeliaran di sekitar Pura Dalem Agung sedang bila kita menulusuri tangga agak ke bawah kita akan menemukan Pura Madia Mandala yang di depannya ada kolam dan candi kecil di tengahnya. Di samping Pura Madia Mandala ada aliran sungai yang deras mengalir di sebuah celah mirip Grand Canyon. Dan kita bisa menelusuri tepian dinding aliran sungai hingga berujung pada pancuran air suci yang airnya sangat segar bila diminum .

Menjelang sore hari turun hujan yang cukup deras yang memaksa kami untuk akhirnya kembali ke hotel dan menunggu hujan benar-benar reda.

Hari ketiga di Ubud kami berencana pergi ke Bali Pulina Agro Turism. Butuh waktu kurang lebih 30 menit dari hotel menuju ke Bali Pulina yang ada di Tegalalang kabupaten Gianyar. Namun percayalah sob setengah jam perjalanan tidak akan terasa karena sepanjang kanan kiri kkita akan disuguhi pemandangan persawahan berundak Bali yang amat tersohor itu. Ada cerita lucu ketika kami menyempatkan untuk sararpan di sebuah kedai di pinggir jalan raya Tegalalang. Menunggu tak terlalu lama pesanan makanan pun datang. Karena yang sudah terseddia di meja baru 1 piring saya mempersilahkan teman saya untuk makan terlebih dahulu namun karena dia merasa lebih muda dia persilahkan saya dulu yang makan dulu. Dan ritual saling mendahulukan berakhir ketika ibu si penjual nasi datang ke meja kami dan mengambil piring tadi. Sambil berjalan kembali ke meja jualannya si ibu bilang “maaf pak saya kira tadi orang sini, ini tadi ada babinya”. Antara harus kaget dan lega kami saling melihat dan tertawa kecil untuk menahan tawa yang terbahak. Dalam hati bersyukur tiada tara karena hampir saja makan daging yang tidak diperkenankan oleh agama (hehe… ). Memang susah-susah gampang menemukan makanan halal di Bali. Tapi kejujuran ibu penjual berhasil menyelamatkan kami.

Setelah perut kenyang perjalanan kami lanjutkan menuju Bali Pulina yang sudah tinggal sepuluh menit lagi. Dan kami pun tiba di Bali Pulina cukup awal daripada turis-turis asing karena yang saya lihat masih jarang ada yang nongkrong dan ngopi. Yap, Bali Pulina memang tempat sempurna untuk menikmati kopi khas Bali dan Kopi Luaknya memang benar-benar nikmat. Dengan tiket masuk senilai Rp.100 ribu per orang, kita bisa menikmati 10 gelas tester minuman mulai dari kopi hitam Bali, kopi jahe, kopi capuchino, coklat panas,  teh jahe, teh hangat, dan lain-lain saya lupa persisnya.

Tidak Cuma soal sruput kopi ditemani pisang goreng, disana juga bisa kita lihat proses pembuatan kopi luak yang masih tradisional. Jangan lupa ketika mampir ke sana abadikan momen sobat dengan kamera. Karena pemandangan dan desain tempat wisatanya memang istimewa.

Belum puas menikmati kopi, hujan turun lagi dan sangat deras. Hampir 2 jam saya menunggu hujan reda dan terjebak cukup lama di Bali Pulina. Hujan yang sebentar reda sebentar lebat akhirnya membuat kami memutuskan untuk mengurungkan niat ke tempat wisata selanjutnya dan kembali ke hotel.

Beberapa dinding tebing yang kami lewati ketika berangkat terlihat mengalami longsor, dan itu membuat kami agak sedikit khawatir.

Hari ke empat kami mengunjungi obyek wisata yang lumayan dekat dengan hotel. Masih di daerah Ubud juga, yaitu air terjun Tegenungan. Air terjun Tegenungan merupakan obat kecewa karena kami gagal pergi ke Singaraja untuk melihat banyak air terjun di sana.

Dengan Rp. 15 ribu per orang kita bisa menyaksikan keindahan air terjun Tegenungan. Setelah menuruni puluhan ank tangga dan melewati tepian sungai tentunya. Seharusnya ini menjadi air terjun terbaik saat itu tapi lagi-lagi hujan tak mengijinkan kami lama-lama menikmati aliran air terjun Tegenungan dari dekat. Saya mulai khawatri dengan warna air terjun yang agak kecoklatan pertanda hujan deras di hulu sungai. Saya memutuskan untuk menikmati air terjun dari deretan kedai makanan dekat tangga turun tadi. Dan benar saja hujan menjadi deras seketika dan memaksa para pengunjung berteduh di kedai.

  1. Konklusi

Perjalanan saya ke Ubud Bali kali ini memang luar biasa. Sangat berkesan dan menarik darena saya bisa menikmati segarnya udara alami Ubud dan kentalnya budaya dan tradisi masyarakatnya. Kesan yang melekat begitu kuat karena ini adalah kali kedua saya berkunjung ke Bali. Maklum yang pertama kali adalah saat liburan perpisahan kelas 3 SMP. Susana tenang dan damai sangat saya rasakan ketika berada di Ubud. Hotel yang nyaman, pemandangan alam yang luar biasa, sambutan yang ramah, adalah kombinasi yang luar biasa untuk liburan.

Semoga artikel kali ini memberikan manfaat bagi sobat. Mohon maaf atas segala kekurangan dalam tulisan ini, mengingat sebagian besar meruspakan penilaian subyektif saya atas kesan yang saya terima ketika berada di ubud Bali. Beri tanda like dan share jika sobat menyukai artikel kali ini. Atau tinggalkan komentar di bawah sebagai bahan evaluasi saya. Sekian dulu tulisan saya kali ini sampai ketemu lagi di tulisan selanjutnya. Have a nice day

#villamandiubud #cafepomegranate  #monkeyforest @airterjuntegenungan #anomalicoffe #traveloka #uber

Trip Ke Ubud Bali (Tugas Mind Mapping KMO )

mind-mapping

DAFTAR ISI

  1. ALASAN
    • Patah Hati
    • Galau
    • Jenuh
  2. TUJUAN
    • Melihat
      • Alam
      • Tradisi
    • Menemukan
      • Pengalaman
      • Kearifan
    • Merasakan
      • Ketenangan
  1. INSPIRASI
    • Film
    • Googling
    • SosMed
  2. DAYS OF TRIP
    • Transportasi
    • Akomodasi
    • Destinasi
  3. KONKLUSI
    • Kesan
    • Pesan

Perjalanan Menuju Kedamaian I (Butiran Air Mata)

Assalamualaikum wr.wb.

Salam hangat sobat alurkayu semoga terhindar dari rasa sedih dan perih, amin ya robbal alamin. Setiap kalimat dalam doa seyogyanya menyelipkan pengharapan untuk kebaikan bagi diri sendiri maupun orang-orang yang kita sayangi. Harapan memperoleh kebaikan berupa kebahagiaan, kemudahan, kelimpahan rejeki dan lain sebagainya. Dan sebaik-baik doa adalah yang ikhlas mengharap kebaikan dar-Nya, hal ini yang pertama kali saya sadari ketika memulai perjalanan ini,

Dalam artikel “Ketidaksengajaan Yang Sangat Sengaja” saya sudah berbagi tetang bagaimana hubungan saya dan Dia kembali terangkai. Dengan perantara buku La Tahzan saya memulai perjalanan untuk menggapai kedamaian yang saat itu terasa hilang dari hidup saya.

Mengapa begitu penting tulisan perjalanan ini ? saya berpandangan bahwa kebanyakan hal baik dalam hidup akan hilang begitu saja disapu hembusan waktu bila tak ditulis. Terpujilah nama Rabb seru sekalian alam yang setiap hati ada di genggam-Nya, semoga niat saya ini dijauhkan dari riya’ dan saya pun berusaha serendah hati mungkin dalam menyampaikan pengalaman ini kepada sobat alurkayu. Saya pun tak lepas dari sifat lupa yang dimana artikel ini bisa membantu saya mengingat kembali hal-hal baik di masa lampau hidup saya, sehingga bisa diambil pelajaran. Lebih-lebih artikel ini bisa memberi manfaat kepada sobat alurkayu yang membaca artikel ini.

air mata

Butiran Air Mata

Ketika rongga dada “menyempit”, telinga tak lagi mendengar apa pun selain setiap ketukan denyut jantung ini. Pandangan memudar seketika bersama dengan pudarnya gambaran masa depan. Dua insan kala itu larut dalam setiap isak tangis kesedihan,

Bibir pun mengerut dan lidah keluh tak mampu berucap sepatah kata pun. Isak tangisnya terus mencengkeram jiwa. Kalimat demi kalimat keluhan  jadi jedah antara tangis dan isaknya. Tingkah laku ini melukainya, memupus harapan baiknya. Hangatnya kenangan indah masa lalu tak mampu melindungi jalinan yang sedang meregang hebat dan diambang perpisahan.

Satu hal yang saat itu dipahami adalah segala keinginan membahagiakannya dan usaha menghangatkan hubungan justru membuatnya tak bahagia. Rasa kecewa mengambbil tahtanya di kerajaan hati, mengubah kasih menjadi benci dan tulus menjadi pamrih. Segala pengorbanan yang jadi dasar hubungan sirna dan larut dalam butiran air mata yang terpisah dari tepian mata.

Momen kesedihan yang benar-benar menyesakkan hati dan memaksa saya untuk meneteskan air mata untuk sebuah perpisahan. Air mata yang bahkan tak keluar saat ditinggal pergi ayahanda kembali kehadirat Sang Pencipta. Air mata yang sama juga tak menetes ketika mengetahui ibunda terkena penyakit serius. Sungguh kesedihan yang sulit saya pahami kala itu.

Momen kesedihan itu telah berlalu namun  hati yang terlanjur tergores tak kunjung sembuh. Hatinya terluka dan hati ini pun terluka karena momen itu. Terbawa perasaan masing-masing menuntun pada kesimpulan untuk memutus jalinan komunikasi. Hati yang dikuasai rasa kecewa begitu terguncang setiap kenangan bersama. Sedih ketika teringat apa yang telah diberikan kepadanya, sedih ketika ingat betapa besarnya harapan kepadanya, sedih karena pengorbanan tak berujung perlakuan yang layak dan kesedihan-kesedihan lain yang menghanguskan kalbu.

Dalam kondisi kalut seperti itu kalimat yang pertama kali membuat saya tersentak adalah “Yang Berlalu Biarlah Berlalu”. Sebuah kalimat di bab-bab awal buku La Tahzan. Hingga muncul pertanyaan dalam benak saya “Mengapa begitu memikirkan apa yang sudah berlalu dan sedih di dalamnya ?”. karena saya berkorban banyak hal deminya dan berharap balasan sama darinya. Ketika harapan itu tak terwujud saya merasa kecewa dan ingin merubah apa yang telah terjadi sehingga sesuai kemauan saya.

Kesedihan mendalam dan merusak itu pun menjadi keniscayaan ketika kita merasa hal buruk hanya hal buruk semata. Kita hanya berpikir bahwa hal buruk itu pantas disesali secara terus menerus. Padahal sebagai orang yang menyadari bahwa setiap hal yang terjadi dalam hidup ini adalah atas kehendak-Nya seharusnya menyadari bahwa akal kita terbatas, kemampuan kita terbatas dan Kehendak-Nya tak terbatas. Dan segala sesuatu dari-Nya pasti baik. Karena Dia paling mengetahui apa yang kita butuhkan dan kita mau dibanding kita sendiri.

Jika kesadaran bahwa kemampuan diri ini terbatas dan kehendak-Nya tak terbatas maka yang selanjutnya ditumbuhkan adalah hanya kepada-Nyalah semua harapan baik digantungkan. Rasa kecewa tak terjadi jika kita tidak berharap pada sesama manusia (pamrih). Karena orang lain yang kita harapkan balasannya itu juga memiliki keterbatasan yang bila kita paksakan untuk berharap kepadanya akan berjung kecewa.

Butiran air mata memang diciptakan untuk meng-khidmat-kan kesedihan kita, seperti titik air hujan yang jadi akibat yang indah dari mendung di langit musim kemarau. Apabila mau sejenak kita renungi dan resapi arti butiran air mata itu mungkin bukan sedih atau kecewa itu yang penting lagi. Karena sedih hanya akan jadi syarat hadrinya kebahagiaan dan kesusahan akan jadi syarat terbitnya cahaya kemudahan.

Ada Nuansa Tertinggal Di Kota Pudak Pagi Itu

Komunikasi yang intensif dengan seorang mantan teman kuliah membawa saya untuk menyusun rencana bersepeda santai dengannya pagi ini. Sebuah aktifitas yang sudah lama ingin saya lakukan bersamanya.

Embun pagi masih enggan beranjak dari daun pohon mangga yang tumbuh di depan rumah ketika saya berganti baju favorit saya unutk bersepeda. Adzan subuh belum lama berlalu sementara saya sudah mulai mempersiapkan sepeda Polygon Premier 2.0 untuk olah raga minggu pagi ini. Memeriksa kondisi sepeda penting dilakukan agar aman dan nyaman ketika dikendarai nanti. Tekanan ban dan kondisi rem masih bagus, tidak lupa saya gunakan helm untuk melengkapi standar keamanan ketika bersepeda.

Senua sudah siap dan setelah menutup pagar rumah saya bersiap berangkat menuju meeting point. Hampir saya lupa menyiapkan aplikasi RunKeeper pada smartphone untuk merekam aktifitas olah raga saya pagi ini. Aplikasi ini bisa menunjukkan data tentang aktifitas olah raga kita seperti seberapa jauh kita bersepeda, berapa lama kita bersepeda, kecepatan kita bersepeda hingga berapa banyak kalori yang dibakar.
image

Perpaduan warna hitam dan biru tua langit menjadi payung saya mengayuh tiap meter jalan raya Pakal yang mulai ramai. Kebanyakan adalah orang – orang yang hendak ke pasar Benowo yang ada beberapa kilometer di depan saya. Dan tidak lama saya melintas di Pasar tersebut ketika kesibukan aktifitas jual beli sedang ramai – ramainya. Riuh ramai pasar mengusir sepi jalan yang saya lalui kala itu. Maklum karena pasar Benowo menjadi tempat berkumpulnya orang dari beberapa kecamatan di Surabaya Barat dan Gresik Bagian Timur yang berbatasan dengan Kecamatan Benowo yang masih masuk wilayah Kotamadya Surabaya.

Sekitar Lima menit dari pasar Benowo saya tiba di meeting point, tapi teman saya belum terlihat sejauh saya memandang. Ini tidak mengherankan karena meeting point kami ada di Terminal Angkot Benowo yang munkin cuma sekitar 3 kilometer dari rumah saya, sedangkan teman saya tinggal di daerah Cerme Kabupaten Gresik yang berjarak sekitar 9 kilometer dari meeting point.

Tak lama menunggu teman saya pun tiba, dia memang sudah lama hobi bersepeda dan sudah biasa bersepda dengan jarak yang jauh, mental dan staminanya sangat teruji. Jauh berbeda dengan saya yang gamapang capek hehe….

Acara bersepeda bersama pun dimulai dengan kecepatan rata – rata 20 Km/jam melalui jalannan akses menuju Stadion Gelora Bung Tomo dan Tempat Pembuangan Sampah Akhir Benowo. Kondisi jalan yang masih sepi dan aspal yang masih bagus sangat mendukung untuk mengayuh dengan kecepatan sedang. Tak lama mengayuh kami masuk wilayah industri Romokalisari yang terpisahkan sungai Kali Lamong dengan wilayah Gresikdi sisi kiri jalan kami. Sungai Kali Lamong merupakan salah satu batas alam antara wilayah Kabupaten Gresik bagian Timur dengan Kotamadya Surabaya bagain Barat Utara.
image

Kemilau air Kali Lamong yang mulai disapa sinar mentari pagi seolah menjadi ucapan selamat datang di Kota Gresik. Setelah melalui jembatan Romokalisari resmilah kami masuk ke wilayah Kota Gresik. Ucapan selamat datang Kali Lamong segera berubah jadi sambutan luar biasa ketika tanjakan dengan kemiringan yang tidak terlalu curam namun panjang mulai saya rasakan. Dengan agak susah payah saya menaklukan tanjakan itu, namun harus menyerah juga untuk beristirahat sejenak. Teman saya yang sudah teruji staminanya untuk tanjakan seperti ini meyakinkan saya untuk mengayuh sedikit lagi untuk mengambil tempat istirahat yang bagus. Dengan sedikit berat hati saya ikuti sarannya yang ternyata tidaklah sia – sia. Kami berhenti dan mengambil nafas di depan Landscape baru Kota Gresik yakni Stadion Joko Samudro. Home Base baru tim sepak bola asal Gresik. Bangunan megah berlatar belakang jingganya langit bertahta mentari pagi menggoda kami untuk berfoto di depan Stadion tersebut.
image

Puas berfoto di Stadion baru kebanggaan warga Gresik, saya melanjutkan kayuhan menuju Pelabuhan Gresik. Dengan track yang naik turun khas daerah pesisir dan jalanan dengan aspal yang cukup bagus membuat stamina tidak banyak terkuras. Bebebrapa menit bersepeda kami tiba di Pelabuhan Gresik. Cuaca yang cerah dan langit yang biru membuat suasan disana sangat terasa nyaman. Lalu lalang truk belum terlalu banyak membuat udara masih nyaman. dan deretan kapal kayu seperti membawa nuansa lawas suasan di dermaga pagi itu. Deretan kapal kayu itu seperti tidak berubah dari ratusan tahun lalu. Kuli – kuli angkut pelabuhan yang memanggul sekarung besar tepung meniti papan kecil benar – benar suasana kuno yang saya dapat disana. Decak kagum seketika meeledak dalam pikiran saya. Benar – benar momen yang luar biasa.
image

Segera saaat di pelabuhan itu saya minta diantar ke daerah – daerah dekat sana yang masih memiliki bangunan – bangunan cagar budaya peninggalan jaman kolonial. Teman saya menyanggupinya dan menuntun saya untuk melanjutkan perjalan menuju ke sebuah bangunan tua yang terkenal di Kota Gresik. Benar saja rasa kagum saya pada Kota ini tak henti – henti terasa ketika sepanjang perjalanan saya melalui deretan gedung – gedung tua. Rasa kagum saya memuncak ketika teman saya berhenti di depan sebuah bangunan berasitektur Belanda  yang terkenal dengan Rumah Gajah Mungkur. Tidak banyak yang bisa saya ketahui dari bangunan indah ini. Karena teman saya sendiri juga tidak banyak tahu tentang riwayat rumah tua ini. Tapi itu tidak mengurangi kekaguman saya atas kemegahan banguanan lama Gajah Mungkur dan bebeapa bangunan di sekitarnya.
image

image

Matahari beranjak tinggi menyadarkan saya untuk segera pulang karena matahari yang terik akan mengurangi kenikmatan bersepeda kami. Dengan rasa berat hati saya harus segera pulang karena daya baterai smartphone saya juga sudah lemah.Dan histeria yang dishasilkan nuansa lawas di daerah kota tua Gresik membuat saya ingin sekali kembali dan mengabadikan lebih detil apa yang saya alami di sana.

Selepas alun – alun kota Gresik kami menuju jalan pulang , jalan sama yang kami lalui ketika berangkat tadi. Pengalaman luar biasa yang saya alami ketika bersepeda yang semula sekedar ingin berolah raga mencari keringat ternyata bisa jadi wisata sejarah.

Tersesat

Kertas putih, ya seperti itu aku merasakan diriku akhir – akhir ini. Kertas putih yang biasanya dianggap kondisi suci oleh banyak orang namun tidak bagiku kali ini. Polos tanpa pola tanpa goresan serupa dengan lembaran – lembaran lain dalam buku baru. Entah bagaimana sesorang bisa merasakan hal seperti ini. Yang jelas aku merasakan ini bukan keadaan yang menyenangkan.

Menjalani waktu dan hidup dengan sangat terlalu wajar dan noral. Merasa sperti setiap detik berlalu begitu saja tanpa ada jejak setitik pun. Jejak setitik yang bisa sekedar untuk kulihat saat menoleh ke belakang. Hanya seperti melangkah di atas lempeng es yang putih dan tiada bertepi.

Bukan, ini bukan sikap tak bersyukur seperti yang dibilang oang. Jika kita benar – benar bersyukur pastilah takkan membiarkan hidup ini tiada bermakna. Setiap hela nafas berlalu dan hilang bersama partikel karbon dioksida yang kita hembuskan. Bersyukur seharusnya menjalani setiap detik ini dengan penuh hasrat, penuh dengan kesadaran dan berusaha maksimal demi hasil terbaik. Ya, seperti itulah hidup seharusnya.

Ini hanya perasaan kosong seperti ketika berdiri di nuansa gelap yang tak tahu dimana kita sedang berada. Itulah akibat dari berjalan dengan melamun dan ketika sadar kaita tak tahu sedang berada dimana. Namun waktu telah beranjak pergi tanpa bisa kembali. Yang kita cintai telahberlalu tanpa sedikit kesan dan yang berharga lenyap seperti birunnya langit ditelan senja. Betapa perih mengingat kita tak sedikit pun berusaha menggapai itu semua dengan sekuat tenaga. Namun malah melangkah menjauh tanpa disadari.

Tuhan selalu ingatkan kita untuk utamakan niat. Niat bukan sekedar kecapan lidah pengolah udara yang datang dari tenggorokan kemudian menjadi kata – kata yang kemudian hilang bersama angin. Niat lebih dari itu, niat adalah hasrat, niat adalah keinginan kuat, niat adalah keyakinan teguh

Bengong

Warna kuning tersembur tak merata diantara warna gelap langit. Sementara itu perahu – perahu pengantar kru kapal bergoyang lambat terempas gelombang seraya bertaut satu sama lain seperti saling berpegangan. Derap – derap kaki kokoh buruh angkut perlahan semakin terdengar dan bersiap menyambut kedatangan kapal pertama hari ini.

Resleting jaket ku rapatkan hingga ke leher untuk menghalau semilir angin pagi pelabuhan yang lumayan dingin. Mataku masih sedikit berat walau sudah sejenak terpejam saat kapal terakhir semalam melepaskan tali kaitnya dari bolder. Diiringi sedikit sakit kepala kupaksakan tubuhku berjalan untuk memeriksa keadaan dermaga.

Kemilau air memantulkan warna langit yang semakin didominasi warna terang yang tanpa kusadsri membawaku pada nuansa pagi dua hari lalu dimana aku sudah berada di ambang pintu bertuliskan DORONG, tentu saja bukan pintu rumahku sendiri melainkan pintu masuk Mc Donald. Bukan kebiasaan yang lazim ku lakukan tapi tak sedikit pun aku sesali. Justru perasaan sesal itu muncul mana kala dua langkah setelah melalui pintu itu aku melihat satu – satunya orang tak berseragam di ruangan itu yang duduk sendiri di pojokan. Ya, tentu saja dia pengunjung pertama restoran pagi itu. Dia salah satu sahabat terlama yang masih bisa kutemui. Namanya Miya teman Sekolah Dasar ketika aku masih tinggal di Sidoarjo. Aku pindah sekolah saat kelas 4, dan dia pun akhirnya pindah tempat tinggal ke Jawa Tengah karena ikut dinas ayahnya.

Tatapanya kosong perpaduan antara lelah dan jenuh karena jadi satu – satunya pengunjung. Tak lantas membuatku langsung menyapa dia karena ingin sedikit bercanda denganya aku memutari tangga ke lantai dua yang dipasang dinding papan kayu utnuk memberi kesan rapi dan agak menyamarkan letak tangga, seraya ku kirim pesan singkat padanya.

Km dmn ?

Belum sempat dia membalas aku sudah muncul dihadapanya. Senyum tipis terkembang begitu pandangannya lurus padaku.

“Hai, udah lama ya ?”, sapaku tanpa salam tidak seperti layaknya orang yang lama tak bertemu.
“Hehehe…. dasar dargombes….” sapaan akrab kami di Blackberry Messeger “…udah jam berapa nih ?”. komplainya padaku.

Ini memang bukan jam lazimnya kami bertemu. Matahari masih belum memancarkan kemilau kuningnya saat aku melirik langit melalui jendela restoran yang lebar.

“Kamu sendirian bengong di sini dari jam setengah dua tadi ?”, tanyaku sambil menunjukkan rasa simpati dan bersalah yang sama kadarnya. “Nggak, mas Gandi baru aja pulang jam setengah lima”, jawabnya dengan ekspresi biasa namun ada sedikit kilatan semangat.

Sepotong birger utuh terlihat dingin karena sudah lama dipesan dan ditemani segelas coklat hangat yang sepertinya juga sudah dingin. Tampak satu nampan lagi namun kosong sepertinya jadi bukti jejak mas Gandi menemaninya semalaman duduk dan ngobrol dari kirai yang aku duduki sekarang.

“Kamu mau pesan lagi nggak ?”, tawaranku ke Miya. “Nggak rud, ini aja belum aku makan”, jawabnya singkat.

Setelah mengiyakan penolakan Miya aku beranjak mendekati meja kasir dan memesan Egg McMuffin dan kopi hangat. Kombinasi yang ganjil mengingat betapa jarangnya aku berkunjung ke restoran cepat saji jam enam pagi.

Dengan nampan yang tidak terlalu berat itu aku kembali ke meja oval rendah berwarna krem sementara lagi – lagi Miya bengong sambil sesekali melihat – lihat layar 4 inchi handphonenya.

“Ngomong- ngomong kamu sampai surabya jam berapa ? “, tanyaku memecah lamunannya samvil meletakkan namapnku di atas nampan bekas mas Gandi.

“Sekitar jam tiga, dan aku masih nagntuk”, jawabnya pelan namun agak berat.
“Trus, langsung ke sini ?”
“Iya”, kali ini dengan posisi duduk bersila menghadap persis padaku seperti bersiap melakukan semedi.

“Lho kok masih ngantuk ? Memang nggak tidur tadi di kereta ?”, pertanyaan kesekian entahlah aku pun lupa.

“Nggak bisa tidur di kereta gara-gara dapat gerbong paling depan”, jawabnya dengan suara lebih tegas namun mata elipsnya yang tajam tersamarkan kaca mata.”Hmm, kok bisa ?”, tanyaku lagi sambil melahap potongan pertama Egg Mc Muffin.

“Hehehe…. takut kalo-kalo ada tabrakan kereta seperti di Cirebon”, dia tertawa kecil namun cukup menghangatkan suasana. “Dasar dargombes….hehe… nggak bisa tdiur gara-gara kepikiran gitu”, sambutku dengan tawa yang sama namun agak lebih keras. “Nggak cuma itu, aku juga beku di dalam gerbong kereta ” tambahnya sambil memperagakan orang kedinginan. Aku pun tertawa setelah melahap potongan terakhir McMuffin. Kami berdua tertawa terbahak saat cerita perjalannya yang lucu berpadu dengan banyolanku.

Merasa moodnya lebih baik dan lelah terlalu banyak tertawa akhirnya burger yang beberapa jam terabaikan akhirnya dia lahap sampai habis.

Beberapa menit  setelah sedotan terakhirnya pada minuman coklat. Dia terbengong lagi kali ini sambil bersandar di tas carrier khas pendaki gunung. Rautnya berubah lesu karena letih dan kantuk yang tak tertahan. Seketika suasana menjadi canggung dan senyap karena aku pun merasa masih kantuk setelah bangun jam setengah 5 dan mengendarai motor ala motoGP di jalanan lengang. Bahkan McMuffin dan segelas kopi hitam pun tak mampu menolongku.

Kebengongan yang cukup lama sampai pada kesepakatan untuk memulai petualangan kamibdi hari minggu menghasiri seminar blog traveler, kumpul klub buku surabaya dan terakhir menikmati festival kuliner di jalan Tunjungan.

Posted from WordPress for Android

Hobi Baru

Matahari masih terik siang itu. Bukan ide yang menarik utnuk berlama lama di ruang tunggu yang hanya memiliki kipas angin sebagai penyejuknya. Ruangan kantor yang ber-AC menjadi tempat favorit untuk sejenak menghabiskan waktu makan siang. Sementara di layar handphone rerpampang rulisan “World War Z” lengkap dengan foto sang aktor utama Brad Pitt. Aku sedang memcari berita tentang sekuel film zombi survivor tersebut yang menurutku menyajikan jalan cerita yang berbeda dan menarik dibanding kebanyakan film zombi.

Yap, meskipun aku suka film bertema mayat hidup alias zombi tp tidak semuanya aku suka. Kebabyakan hanya menyajikan sisi sarkas dan menjijikan dari zombi. Dan alur cerita yang lambat dan jalinan adegan yang payah. Dimana para tokoh hanya sekedar lari2 dari sergapan zombi dengan ending yang menggantung. Kesan inilah yang tidak aku temui di film “World war Z”.

Ketertarikan yang begitu besar pada film ini membawaku pada satu blog yang mengulas cerita asli dari film itu. “Cerita asli ? Yup benar sekali cerita original sebelum diangakat ke layar lebar. Dari novel berjudul sama dengan Max Brooks sebagai penulisnya. Dalam blog itu diulas secara menarik awal mula wabah menyebar hingga menjadi wabah global. Tak cukup sampai di situ digambarkan jelas oleh Max brooks reapon dari para manusia yang tersisa saling berperang hanya karena egoisme semata.

Penyampaian cerita yang sangat menarik membuatku benar2 terkesan. Dan mulai menaruh respect pada novel2 brilian yang ada di belakang film2 hebat. Tak lama kemudian ada seorang teman yang baru2 ini terjun di bidang menulis karya fiksi dan blog yang memberiku link blognya. Disana aku mulai banyak tahu tentang betapa cerdas para penulis dalam menyampaikan ide mereka melakui tulisan. Namun itu belumlah cukup untuk mulai membawaku masuk ke hobi membaca yang sudah lama tak terlalu ku gemari karena 5 memit setelah membaca aku selalu tertidur.

Hingga kemudian aku selesai menonton film “The Da Vinvci Code” yang banyak menuai kontroversi pada tahun film itu dirilis. Sudah sering kali ditayangkan di televisi tapi aku tak pernah bisa menonton hingga akhir. Rasa penasaran memaksaku untuk membeli keping DVDnya. Walhasil, cerita yang luar biasa bagus dengan sedikit bumbu aksi. Tak menyurutkan minatku yang sebenarnya penggemar film aksi. Berbagai pesona film itu memnuntunku pada novel tulisan Dan Brown berjudul The Da Vinci Code. Lagi2 karena malas baca novelnya aku browsing sinopsisnya di blog terkait itu. Dan benar saja, aku dibuat penasaran dengan isi novelnya yang briliant dalam menggambarkan teka teki yang bahkan denga visual pun sulit dipahami. Tentu sudah sukar ditemui novelnya karena rilis 12 tahun lalu. Dari sanalah aku benar2 mulai tertarik dengan novel2 briliant.

Dan sekarang aku memulai dengan buku ceirta fiksi dan kisah nyata. The Silkworm atau dalam bahasa Indonesia berarti ulat sutra karya dari Robert Gailbrath yang ternyata nama samaran dari J.K.Rowling orang dibalik novel Harry Potter yang mendunia. Kemudian kisah perjuangan seorang ayah dari anak laki2 berkebutuhan khusus karya dari Ian Brown. Benar2 bukan hobi baru yang mudah namun banyak membuka alam nalar tentang bagaimama berpikir secara sistematis dan briliant bak seorang penulis. Dan sejak saat itu aku memutuskan utnuk mulai hobi membaca novel.

Dya bukanlah dia

Dya sebuah nama yang tak pernah ku kenal sebelumnya. Memandangku dalam sunyi. Menjadi saksi atas perjalananku pada saat itu. Di dekatku namun terabaikan waktu. Pergi sebelum sempat ku mengukir memori. 

Dya simbol ketegaran. Menjalani fase yang belum seharusnya dia jalani. Bertindak sebelum berpikir. Ditempa oleh panasnya lara. Sendiri bergelut dalam getir. Berjalan dalam pencarian.

Dya memcintaiku dengan caranya yang ajaib. Datang kembali sebagai sosok baru. Terluka oleh cerita cinta tal sempurna. Menyadarkan betapa tak berartinya lukaku. Prinsip cinta yang sederhana namaun bermakna. Sabar akan setiap sukar. Menyentuh wajahku lembut aeraya memalingkanku ke depan. Cemburu yang memburu.

  Dya kini bersedih karena lebodohanku. Namun Dya bersabar dalam harap pasaku. Dya memang bukan wanita ideal lelaku sejenisku. Namun Dya bukan dia yang hanya bisa manja. Dya bukan dia yang hanya peduli dirinya sendiri. Dya bukan dia yang hanya memanfaatkanku. Dya bukan dia yang dengan licik menipuku. Dya bukan dia yang lemah. Dya bukanlah dia karena Dya adalah Kasihku.