Author Archives: josestrike21

AHANGKARA (Sengketa Kekuasaan dan Agama)

IMG_20170725_122443_HDR[1]“Demak tak pernah sanggup tidur nyenyak setelah menghancurkan Majapahit pada tahun 1478 dan menobatkan Nyo Lay Wa sebagai raja boneka. Kekuatan yang masih setia pada Majapahit bisa memberontak kapan saja. Penguasa Demak Trenggana, pun menggalang kekuatan untuk menaklukkan tanah Jawa. Dahampura dan Tuban menjadi dua wilayah pertama yang bakal ditaklukkan. Dahampura siap menyambut pasukan Demak setelah mengungsikan rakyatnya dan lontar-lontar warisan Majapahit. Di Tuban, telik sandi disebar, seluruh pasukan disiagakan. Namun, Demak dibayang-bayangi oleh kekuatan yang ingin membelokkan tujuan perang. Penumpang gelap itu ingin mengubah perang penaklukan Jawa menjadi perang antar-keyakinan. Mereka ingin menghapus agama leluhur Jawasekaligus aliran agama Rasul yang dianggap sesat, terutama aliran Tuban sunan Kalijaga dan aliran Lemahbang  Syekh Siti Jenar.

Seperti keberulan yang sangat kebetulan buku ini terbit di saat negeri ini sedang dilanda gonjang-ganjing isu hukum, politik dan agama. Ini menunjukkan betapa pekanya pengamatan Makimuddin Samin melihat situasi dan kondisi akhir-akhir ini. Dikemas dengan latar waktu masa-masa akhir Kerajaan Majapahit yang kala itu mulai tergantikan posisinya oleh Kesultanan Demak. Peergeseran kutub kekuasaan dari Majapahit ke Demak menimbulkan banyak peperangan yang tak kunjung usai.

Keinginan Demak untuk menyatukan tanah Jawa agar bisa membendung pengaruh Portugis. Namun di luar dugaan usaha mempersatukan tanah Jawa itu mendapat penolakan keras dari kadipaten-kadipaten yang masih setia dengan Majapahit. Di mata para penguasa kadipaten-kadipaten Majapahit Demak tak ubahnya Portugis itu sendiri yang hendak menindas dan merongrong kejayaan Jawa.  Gagalnya para penguasa menemukan jalan tengah untuk bersatu membawa tanah Jawa ke dalam perang saudara yang justru menguntungkan Portugis untuk menguasai jalur perdagangan rempah-rempah.

Di tengah situasi genting diambang perang antara Demak dan sekutunya melawan kadipaten-kadipaten yang ada di BrangWetan (Jawa Timur) seorang prajurit telik sandi (mata-mata) Demak berada di persimpangan. Sagara harus memilih antara membela panji Demak tempatnya mengabdi atau desa tempat kelahirannya beserta para penduduknya. Tak hanya itu dilema Sagara bertambah ketika harus memilih selir kesayangan adipati Tuban dan kekasih yang dicintainya semasa kecil. Sangat menarik mengikuti petualangan Sagara dalam menyelamatkan desa Ambulu dar gelombang serangan pasukan darat Demak. Beragam intrik dan strategi dilakukan untuk mengalahkan pasukan besar Demak.

Selain bisa menikmati sengitnya peperangan kita juga bisa mengambil banyak kutipan-kutipan dalam buku ini. Petuah-petuah para Majelis Wali dan tokoh-tokoh spiritual Siwa Sogata bisa menjadi perspektif baru bagi pembaca untuk menyikapi isu-isu yang sedang hangat di Indonesia akhir-akhir ini.

Novel ini menunjukkan betapa jelinya Makimuddin Samin menyajikan cerita konflik politik, agama dan asmara. Dalam isu-isu sensitif seperti politik dan agama para tokoh dalam novel ditempatkan sebagai manusia yang sangat manusiawi yang bisa benar dan bisa juga salah. Sehingga menghindarkan novel ini dari lembah keberpihakan. Meskipun sebenarnya penulisannya cenderung condong pada pihak Majapahit. Ini disebabkan asng penulis sendiri mengakui bahwa ide pembuatan novel ini muncul dari sebuah candi tua di daerah Tuban asal dari sang penulis.

Berpikir jernih dan adil adalah poin utama yang saya dapatkan ketika selesai membaca novel ini. Ahangkara atau dalam bahasa sehari-hari kita kenal dengan amarah dan kebencian ibarat kotoran dan sampah yang menfotori air sehingga mengurangi kejernihann pikiran dan hati dalam menyikapi permasalahan. Ahangkara pula yang menyulut api permusuhan hingga terjadi perang besar. Meskipun begitu tak ada satu pun manusia yang luput dari ahangkara, mereka yang bisa mengendalikannya adalah yang bisa memenangkan kehidupan.

Sekian dulu ulasan buku Ahangkara-nya, bila ulasan ini bermanfaat bagi sobat alurkayu silahkan klik tombol “like”. Jika ada saran atau masukan silahkan tulis di kolom komentar ya sob.

Alurkayu mohon diri

Wassalam..

Advertisements

YANG SULIT DIMENGERTI ADALAH PEREMPUAN

IMG_20170713_114458_HDR[1]Pada abad ke -21 begitu banyak kemajuan dicapai manusia di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita bisa mneyebutkan beberapa contoh kemajuan di bidang ilmu pengetahuan ketika para ilmuwan sudah mulai mampu menemukan cara agar manusia bisa tinggal di planet Mars. Atau penemuan teknologi internet kecepatan tinggi seperti 4,5G. Dan masih banyak lagi kemajuan yang dihasilkan dari kberhasilan manusia memahami, menganalisa, dan menemukan solusi dari masalah kehidupan sehari-hari.

Namun dari semua keberhasilan manusia dalam pencapaian di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi masih ada banyak sekali problematika di sekitar kita yang masih belum terpecahkan. Dan uniknya permasalahan itu bukanlah hal yang jauh dari manusia, melainkan hal-hal yang sering kita temuai.dan novel yang saya beli meallui layanan online menyadarkan bahwa masalah klasik yang sulit terpecahkan itu memang benar-benar dekat dengan kita.

Novel berjudul “Yang Paling Sulit Dimengerti Adalah Perempuan” membuat saya sedikit tergelitik membayangkan bagaimana mungkin ketika manusia sudah hampir tinggal di planet Mars namun masih belum mengerti tentang perempuan. Ya perempuan, makhluk yang sudah ada sejak kaum lelaki pun ada ini ternyata masih sulit dimengerti oleh para lelaki. Agak lucu memang, namun Fitrawan Umar menuliskan kegelisahan seorang lelaki yang berjuang memenangkan hati perempuan pujaan hatinya dengan sangat serius dan realistis.

Meskipun menempatkan salah satu gender (perempuan) sebagai judul menurut saya novel ini layak dibaca perempuan. Bukan untuk menggurui atau menyudutkan kaum perempuan melainkan sebagai wahana para kaum hawa untuk memahami bahwa cinta sangatlah luas, agung dan indah. Karena dalam bagian akhir penulis menyelipkan harapan agar pembaca bisa terus menikmati perjalanan menemukan cinta yang dipenuhi rimba antah berantah penuh jebakan kesedihan dan tak sedikit pula mata air keahagiaan.

Dan bagi kaum lelaki yang sudah tentu menjadi subyek yang digali pemikirannya oleh Fitrawan Umar akan menjadi renungan dan cerminan betapa cinta memang tak sesederhana yang dibayangkan. Bagi para lelaki yang akan, sedang atau telah dilanda jatuhcinta buku ini sangatlah cocok. Dengan bahasa dan pemikiran skeptisnya tokoh utama dalam novel ini amatlah mencerminkan kondisi nyata bukan lelaki yang muram, pendiam, dan terlalu melankolis yang amat membosankan bagi pembaca lelaki.

Baik sekian sedikit ulasan yang bisa saya berikan tentang novel “Yang Paling Sulit Dimengerti Adalah Perempuan”. Satu poin penting yang saya ambil dari novel tersebut adallah memahami perempuan dan rasa cinta kita kepadanya memang sulit dipahami dan dimengerti namun memang untuk itulah kita diciptakan, karena sesulit-sulitnya mengerti perempuan masih lebih baik daripada mengerti lelaki ya… ngapain juga ???? hehehe……

Oh ya sob, jangan lupa klik tombol “like” kalau kamu suka dengan artikel ini dan jangan lupa klik follow untuk tau lebih banyak artikel-artikel terbaru.

Sekian terima kasih

Seratus Dua Puluh Jam Membuang Cinta (Part 1)

Apa yang terlintas di pikiran ketika mendengar kata patah hati ? kebanyakan dari kita pasti menjawab soal putus cinta, perselingkuhan, ditolak, atau mungkin gagal merried. Ya, apa pun jawabannya sebenarnya sah – sah saja. Karena yang akan dibahas dalam artikel ini bukan soal kenapa kita patah hati tetapi tentang apa yang kita pikirkan saat mengalami patah hati dan bagaimana melaluinya. Dan ini murni perspektif pribadi dan dari bebrapa pengalaman teman, so semoga bermanfaat bagi anda yang membaca.

Seratus dua puluh jam membuang cinta adalah salah satu metode yang saya jalani untuk mengobati patah hati saya sama mantan. Kumpulan peristiwa dan kejadian yang membawa pada satu posisi berpikir baru pasca patah hati.

24 jam pertama

Satu jam pertama adalah saat – saat menegangkan dan sangat menentukan dalam menjalani step – step berikutnya. Karena saat – saat selama satu jam itulah rasa kecewa dan patah hati benar – benar hilang dan tidak terasa kesedihan sama sekali.  Semua rasa itu hilang begitu saja dan berganti rasa mual. Yap, anda tidak salah baca, itu memang rasa mual karena lama tidak melakukan perjalanan udara dengan pesawat terbang. Singkat cerita saat itu saya merasakan mabuk di 10 menti terakhir penerbangan dari Surabaya menuju Denpasar.

Suasana baru, orang – orang baru begitu menarik perhatian saya yang merubah rasa mual tadi menjadi rasa antusias yang tingg. Debur ombak pantai Kuta memberikan ketenangan batin yang cukup lama saya rindukan. Hingga kemudian perjalanan harus berlanjut menuju Ubud. Dan wow, 2 jam perjalanan yang cukup melelahkan terbayar dengan keindahan alam Ubud. Deretan petak – petak sawah menghampar sejauh mata memandang dan diselimuti udara sejuk yang mengusir segala penat pikiran siapa pun yang memandang.  Dan terakhir disambut dengan kamar hotel mewah yang tentu kenyamanannya jauh dia atas dibanding dengan harga yang harus dibayar.

24 jam pertama yang luar biasa dan semua panca indra merasakan sensasi yang hebat dan membahagiakan. Sehingga rasa sedih akibat patah hati sirna begitu saja. (Bersambung)

Trip ke Ubud Bali

Indonesia sebagai salah satu negara kepulauan dengan lebih dari 15 ribu pulau selalu memiliki daya tarik untuk dikunjungi. Ribuan turis mancanegara datang setiap tahun untuk menikmati keindahan alam Indonesia dan keanekaragaman budayanya, belum lagi ditambah dengan wisatawan domestik. Data dari kementrian pariwisata menyebutkan lebih dari 9 juta orang wisatawan mancanegara mengunjungi Indonesia di tahun 2014. Dan 250 ribu lebih perjalanan yang dilakukan wisatawan domestik di tahun 2013.

Dari sekian banyak pulau di Nusantara saya berkesempatan mengunjungi salah satu pulau yang reputasinya sudah mendunia., mana lagi kalau bukan Pulau Dewata Bali. Di artikel ini saya ingin berbagi cerita perjalanan saya tersebut. Semoga cerita saya ini bisa bermanfaat dan tentunya menarik minat sobat alurkayu untuk pergi berlibur.

  1. ALASAM

Ada banyak pilihan kata untuk judul Bab ini, namun yang terlintas justru kata alasan mungkin supaya saya gampang untuk mengabstraksikan tentang apa yang akan saya ceritakan di bab ini (Hehee*ngelesmodeon).  Setiap hal yang terjadi di dunia pasti terikat dengan hukum sebab akibat yang digariskan Tuhan. Seperti itu jugalah perjalanan saya kali ini yang pasti ada alasan atau sebab yang memicunya.

Pada dasarnya saya adalah pria rumahan yang banyak menghabiskan waktu di rumah daripada di luar rumah. Kegiatan di luar rumah seperti traveling bukan hobi saya. Untuk bepergian jauh membutuhkan alasan yang cukup kuat bagi saya. Seperti keperluan keluarga, kepentingan dinas atau memang acara tur yang diadakan sekolah atau kampus tempat saya belajar. Dan ternyata alasan itu muncul dari saya sendiri. Usia yang sudah tidak lagi muda dan dianggap “mapan” oleh lingkungan sekitar memunculkan berbagai dorongan atau kadang agak sedikit berbau paksaan untuk segera menikah.

Belum lagi kandasnya hubungan yang saya jalin selama dua tahun dengan pasangan saya memberikan beban yang cukup berat di pikiran saya. Rasa kecewa yang mendalam dan keinginan untuk melupakan kenangan bersamanya mendorong saya untuk merencanakan sebuah perjalanan wisata.

Mungkin aalasan saya kali nii klise dan banyak orang juga mengalami. Kejenuhan yang memuncak yang disebabkan rutinitas mendorong saya untuk sejenak meninggalkan kesibukan itu. Walaupun ini sebenarnya bukan berarti saya tidak mensyukuri apa yang saya miliki saat ini. Terkadang kita sebagai manusia akan mencapai satu titik tertentu dimana cepatnya perjalanan waktu membuat kita lupa akan siapa diri kita dan lelah untuk menjadi orang lain seperti  yang dituntut oleh lingkungan kita.

  1. TUJUAN

Layaknya setiap perjalanan tujuan adalah syarat wajib sempurnanya perjalanan itu sendiri. Dan dengan tujuan pula perjalanan kita menjadi terarah dan bernilai. Tujuan di sini bukanlah obyek wisata yang akan dikunjungi. Melainkan suatu hal yang ingin kita peroleh dalam perjalanan. Berikut ini beberapa hal yang  ingin saya peroleh dari perjalanan kali ini.

  • Melihat

Ya, melihat di sini memang melihat dengan mata penglihatan kita (bukan dengan mata hati*hehe). Pemandangan alam Bali yang masih alami dan terjaga dengan sangat baik. Kombinasi yang harmoni antara alam yang menakjubkan dengan tradisi budaya masyarakat sangat memanjakan mata kita.

  • Menemukan

Sebagai orang rumahan yang jarang “main” jauh. Tentu perjalanan kali ini memberikan pengalaman yang luar biasa mulai dari betapa mualnya saya ketika pesawat take off dari bandara Juanda hingga landing di bandara Ngurah Rai. Sungguh pengalaman yang menyiksa bagi saya. Betapa ramahnya bapak penjaga rental motor dan masih banyak lagi pengalaman-pengalaman lain akan saya ceritakan di tulisan saya kali ini.

  • Merasakan

Tujuan utama perjalanan berlibur tentunya adalah ketenangan. Kondisi dimana rasa senang dan puas akan pengalaman yang didapat menimbulkan rasa tenang. Dan didukung dengan suasana yang nyaman.

  1. INSPIRASI

Berbicara tentang inspirasi memang sangat subyektif dan setiap orang boleh berbeda-beda dalam merancang liburan. Merancang sebuah liburan bagi orang rumahan seperti  saya  memang sama sulitnya dengan menyusun skripsi semester akhir. Seringkali ditanya mau liburan kemana saya hanya bisa berkata terserah  pada yang mengajak liburan. Namun ada yang berbeda di liburan kali ini. Ada beberapa hal yang menjadi sumber inspirasi saya untuk berlibur kali ini.

  • Film

Mungkin ada beberapa sobat yang rada mengerutkan dahi karena film jadi inspirasi untuk melakukan perjalanan berlibur. Sebenarnya ada banyak sekali film yang menginspirasi kita untuk pergi berlibur sob seperti  The Beach (tahun 2000), Secret Life of Walter Mitty (tahun 2013), 5 Cm (tahun 2012) dan masih banyak lagi. Begitu juga dengan liburan saya kali ini yang terinspirasi  dari film Eat, Pray, Love (tahun 2010).

Eat, Pray, Love dibintangi oleh aktris cantik Hollywood Julia Robert. Film ini mengisahkan seorang perempuan sukses di New York yang kehidupannya berubah 180 derajat. Ditengah rasa kalutnya akibat perceraian dengan sang suami Liz sang tokoh utama merencanakan perjalanan ke tiga negara berbeda. Di Roma Italia dia ingin menemukan kembali gairah hidup dan gairah makannya. Di India dia mencari keseimbangan dalam batinnya dengan bermeditasi dan yoga. Dan terakhir di Bali dia menyempurnakan perjalanannya dengan menemukan ketenangan dan cinta yang baru.

Nah, dari sinilah akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke Ubud Bali, karena ingin mengikuti jejak Liz (Julia Robert) menemukan cinta baru di Bali seperti kata salah seorang tokoh dalam film tersebut  :”In Bali we find Love”.

  • Googling

Kita semua tahu hidup akhir-akhir ini agak sulit lepas dari internet. Daripada mencari buku tentang berbagai obyek wisata di Bali, tentu akan lebih mudah melalui mesin pencari Google. Dengan Google saya menemukan informasi beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi. Informasi penting yang bisa kita peroleh seperti nama-nama tempat wisata yang bisa dikunjungi, transportasi menuju ke sana , waktu tempuh, tarif obyek wisata, tempat makan,  keunikan tempat wisata tersebut dan masih banyak yang lain.

  • Media Sosial

Dari Google biasanya kita dapat sebagian besar informasi tentang tempat  yang akan kita kunjungi. Namun kadang ada sebagian kecil tempat wisata yang sepertinya bagus untuk dikunjungi namun punya jarak yang jauh , dan bisa menghabiskan banyak biaya dan waktu. Bagi sobat yang ingin liburannya berbeda dengan teman yang baru berkunjung ke Bali juga mungkin media sosial bisa jadi solusi. Dalam media sosial kita bisa menemukan banyak foto bagus yang diunggah oleh orang-orang yang pernah berkunjung sebelumnya. Foto-foto itu pasti jauh lebih bagus dan lebih banyak daripada ulasan tentang tempat wisata tersebut. Dari situ kita bisa tentukan apakah tempat wisata yang akan dituju itu layak dikunjungi atau tidak.

  1. DAYS OF TRIP

Nah, ini bagian yang paling saya suka dan sobat alurkayu tunggu. Di sini saya akan bercerita tentang 5 hari liburan saya di Ubud, Bali.

  • Transportasi

Terima kasih banyak untuk Traveloka yang memberikan promo tiket murah tanggal 1 desember 2016 jurusan Surabaya-Denpasar. Cuma dengan Rp.300 ribu saya dan seorang teman bisa terbang ke Denpasar dengan pesawat Citilink. Tiket murah itu ternyata membutuhkan sedikit pengorbanan dengan harus tidur di tempat saya kerja agar bisa berangkat bersama dengan teman yang juga satu tempat kerja. Itu karena pesawat kami berangkat pukul 05.30 yang artinya kami harus tiba di Bandara Juanda 1 jam sebelum keberangkatan.

Begadang semalaman tanggal 30 November membuat kami akhirnya memutuskan berangkat jam 2 dinihari 1 Desember. Dinihari yang lumayan sepi dan tidak kelihatan satu pun taksi yang nongkrong di pelabuhan Tanjung Perak. Akhirnya kami memutuskan untuk memesan taksi online Uber. Yap, lebih mudah karena bisa memanggil taksi untuk datang menjemput kita. Selain mudah juga murah dibandingkan dengan taksi konvensional. Kita bisa menghemat banyak uang dengan selisih sekitar 50%. Dengan jarak yang sama antara Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya ke Bandara Juanda sejauh 35 km kita harus membayar sekitar Rp. 150 ribu, sedangkan untuk taksi online kami hanya membayar sekitar Rp. 80 ribu.

Waktu masih menunjukkan pukul 02.50 ketika kami tiba di bandara Juanda. Perjalanan sangat lancar menuju Bandara karena lalu lintas yang memang masih sangat sepi mengingat masih dini hari.  Setelah habis 2 batang rokok kami pun masuk ke ruang tunggu dengan melalui proses Boarding Pass dan prosedur keamanan Bandara.

Tak lama berselang, kami dan penumpang lain tujuan Denpasar dipersilahkan menuju ke Pesawat. Dan pukul 5.30 pesawat pun berangkat dengan take off yang terasa kasar menurut saya. Take off yang mempengaruhi kenyamanan selama 50 menit perjalanan menuju Denpasar. Rasa mual karena lama sudah tidak naik pesawat membuat saya tersiksa di 10 menit penerbangan. Ditambah lagi 10 menit tambahan karena pesawat belum diijinkan mendarat dikarenakan hujan di Bandara Ngurah Rai. Namun syukurlah pesawat berhasil mendarat dengan mulus

Di luar terminal kedatangan Domestik Bandara Ngurah Rai kami disambut para supir taksi Bandara dan mobil travel sewaan yang siap mengantar kita kemana saja. Di sinilah kita harus tricky jika tak ingin isi dompet kita terkuras sebelum berlibur. Ini karena begitu banyak penawaran harga dan pilihan mobil yang akan kita dapat di sana. Variasi harga yang saya dapat kala itu untuk perjalanan dari Bandara Ngurah Rai ke Ubud adalah Rp. 300 ribu dengan jarak 37 km atau 1,5 jam perjalanan. Penawaran harga itu tentu tidak membuat kami puas, sehingga saya mencoba memesan taksi online lagi. Dan penawaran harga yang kami peroleh adalah Rp. 150 ribu. Alhasil pilihan pun kami berikan pada taksi online lagi. Namun perlu diingat bahwa ada peraturan tertulis yang menyebutkan bahwa taksi online dilarang mengambil penumpang di area Bandara baik di Ngurah Rai atau mungkin di semua Bandara di Indonesia. Jadi, saya sarankan untuk berkomuikasi secara baik dengan calon pengemudi taksi online yang akan kita tumpangi sob. Demi keselamatan kita sebagai calon penumpang dan pengemudi taksi online. Serem ? ya begitulah yang sedang terjadi saat ini. Dan memang itu seperti komppensasi dari harga murah yang kita dapat.

Singkat cerita kami pun naik ke mobil taksi online dan menyampaikan tujuan kami. Dan kami pun terkejut bukan kepalang karena pengemudi taksi online menolak mengantarkan kami ke tujuan dengan harga yang tertera di aplikasi Uber. Cukup lama mobbil terdiam menunggu kami selesai bernegosiasi harga. Sang pengemudi pun membuka penawaran harga baru untuk mengantar kami ke Ubud. Tahukah sobat berapa harga baru yang ditawarkan san pengemudi taksi online ?. dengan berbagai dalil sang pengemudi menawari kami harga Rp.300 ribu untuk perjalanan ke Ubud. Penawaran yang mengejutkan dan menjengkelkan karena itu sama saja kami ikut taksi Bandara yang menawari kami di area kedatangan tadi. Untung teman saya berinisiatif untuk minta diantar ke pantai Kuta. Dengan ongkos hanya Rp. 50 ribu kami tiba di kawasan wisata pantai Kuta.

Sensasi Jet Lag dan jengkel karena kami masih di Kuta sedang seharusnya sudah tiba di Ubud membawa kami untuk bersantai sejenak di pantai Kuta sambil menikmati sebotol minuman ringan.  Kondisi di luar rencana tidak menyurutkan semangat kami, alhasil ide pun muncul seketika. Perkalanan dari Kuta ke Ubud kami lalui dengan mengendarai sepeda motor sewaan. Memang ada banyak sekali tempat persewaan sepeda motor di Kuta. Trik yang bisa sobat gunakan agar tidak mendapat harga mahal saat menyewa pstikan sobat mendapat harga wisatawan lokal. Karena sebenarnya walaupun mereka menawarkan satu harga di awal tapi sbebenarnya ada perbedaan penawaran untuk wisatawan lokal dan mancanegara. Jadi jangan sungkan-sungkan untuk menawar sebelum sepakat harga ya !

Matahari sudah hampir di ubun-ubun ketika kami sampai di Villa Mandi Ubud jalan Singakerta. Dan selanjutnya sepeda motor sewaan inilah yang mengantarkan kami kemana pun tempat yang ingin kami tuju selanjutnya.

  • Akomodasi

Selama di ubud saya menginap di Hotel Villa Mandi Ubud. Tinggal selama 5 hari 4 malam sungguh merupakan pengalaman berharga karena sebenarnya saya memesan untuk kamar tipe biasa dengan harga Rp. 270 ribu permalam, namun ketika kami chec in malah diberi kamar dengan private pool dan itu sungguh luar biasa bagus buat kami. Kamar dengan private pool ini waktu saya lihat di aplikasi harganya sekitar Rp. 700 ribu per malam. Hal ini bisa terjadi karena kamar yang kami pesan sedang ada proyek perbaikan di dekatnya sehingga untuk memastikan kenyamanan tamu maka manajemen hotel memindahkan kami ke kamar yang ada private pool.

Hotel Villa Mandi Ubud ini sangat unik karena dibangun dengan konsep villa dan agak berbeda dengan hotel yang pernah saya kunjungi sebelumnya yang kebanyakan berbentuk gedung bertingkat. Dan letaknya yang agak dipinggiran pusat kotaUbud membuat ketenangan sangat terjaga di sini. Belum lagi lokasinya yang ada di tengah lahan persawahan sangat memanjakan mata.

  • Destinasi

Dengan waktu 5 hari 4 malam di Ubud seharusnya banyak tempat yang bisa ceritakan ke sobat alurkayu namun apalah daya selama 5 hari itu hujan selalu menghiasi setiap harinya. Jadi banyak waktu yang terbuang menunggu hujan reda baik menunggu di pinggir jalan maupun di kamar hotel. Maklum transportasi andalan kami hanya sepeda motor (murah meriah hehe…).

Di hari pertama kami tiba di Ubud tidak banyak tempat yang kami kunjungi karena dari tengah hari sampe petang hari kami hanya istirahat di kamar. Dan malam hari baru bisa berkeliling melihat keramaian pusat kota Ubud,

Monkey Forest adalah obyek wisata yang kami kunjungi pertama kali di Ubud. Dengan harga tiket masuk hanya Rp. 40 ribu per orang kita bisa berkeliling kawasan penangkaran monyet-monyet ekor panjang mirip di Sangeh. Di sana kita bisa memberi makan monyet-monyet ekor panjang dan melihat kompleks Pura Dalem Agung dan Pura Madia Mandala. Monyet-monyet banyak berkeliaran di sekitar Pura Dalem Agung sedang bila kita menulusuri tangga agak ke bawah kita akan menemukan Pura Madia Mandala yang di depannya ada kolam dan candi kecil di tengahnya. Di samping Pura Madia Mandala ada aliran sungai yang deras mengalir di sebuah celah mirip Grand Canyon. Dan kita bisa menelusuri tepian dinding aliran sungai hingga berujung pada pancuran air suci yang airnya sangat segar bila diminum .

Menjelang sore hari turun hujan yang cukup deras yang memaksa kami untuk akhirnya kembali ke hotel dan menunggu hujan benar-benar reda.

Hari ketiga di Ubud kami berencana pergi ke Bali Pulina Agro Turism. Butuh waktu kurang lebih 30 menit dari hotel menuju ke Bali Pulina yang ada di Tegalalang kabupaten Gianyar. Namun percayalah sob setengah jam perjalanan tidak akan terasa karena sepanjang kanan kiri kkita akan disuguhi pemandangan persawahan berundak Bali yang amat tersohor itu. Ada cerita lucu ketika kami menyempatkan untuk sararpan di sebuah kedai di pinggir jalan raya Tegalalang. Menunggu tak terlalu lama pesanan makanan pun datang. Karena yang sudah terseddia di meja baru 1 piring saya mempersilahkan teman saya untuk makan terlebih dahulu namun karena dia merasa lebih muda dia persilahkan saya dulu yang makan dulu. Dan ritual saling mendahulukan berakhir ketika ibu si penjual nasi datang ke meja kami dan mengambil piring tadi. Sambil berjalan kembali ke meja jualannya si ibu bilang “maaf pak saya kira tadi orang sini, ini tadi ada babinya”. Antara harus kaget dan lega kami saling melihat dan tertawa kecil untuk menahan tawa yang terbahak. Dalam hati bersyukur tiada tara karena hampir saja makan daging yang tidak diperkenankan oleh agama (hehe… ). Memang susah-susah gampang menemukan makanan halal di Bali. Tapi kejujuran ibu penjual berhasil menyelamatkan kami.

Setelah perut kenyang perjalanan kami lanjutkan menuju Bali Pulina yang sudah tinggal sepuluh menit lagi. Dan kami pun tiba di Bali Pulina cukup awal daripada turis-turis asing karena yang saya lihat masih jarang ada yang nongkrong dan ngopi. Yap, Bali Pulina memang tempat sempurna untuk menikmati kopi khas Bali dan Kopi Luaknya memang benar-benar nikmat. Dengan tiket masuk senilai Rp.100 ribu per orang, kita bisa menikmati 10 gelas tester minuman mulai dari kopi hitam Bali, kopi jahe, kopi capuchino, coklat panas,  teh jahe, teh hangat, dan lain-lain saya lupa persisnya.

Tidak Cuma soal sruput kopi ditemani pisang goreng, disana juga bisa kita lihat proses pembuatan kopi luak yang masih tradisional. Jangan lupa ketika mampir ke sana abadikan momen sobat dengan kamera. Karena pemandangan dan desain tempat wisatanya memang istimewa.

Belum puas menikmati kopi, hujan turun lagi dan sangat deras. Hampir 2 jam saya menunggu hujan reda dan terjebak cukup lama di Bali Pulina. Hujan yang sebentar reda sebentar lebat akhirnya membuat kami memutuskan untuk mengurungkan niat ke tempat wisata selanjutnya dan kembali ke hotel.

Beberapa dinding tebing yang kami lewati ketika berangkat terlihat mengalami longsor, dan itu membuat kami agak sedikit khawatir.

Hari ke empat kami mengunjungi obyek wisata yang lumayan dekat dengan hotel. Masih di daerah Ubud juga, yaitu air terjun Tegenungan. Air terjun Tegenungan merupakan obat kecewa karena kami gagal pergi ke Singaraja untuk melihat banyak air terjun di sana.

Dengan Rp. 15 ribu per orang kita bisa menyaksikan keindahan air terjun Tegenungan. Setelah menuruni puluhan ank tangga dan melewati tepian sungai tentunya. Seharusnya ini menjadi air terjun terbaik saat itu tapi lagi-lagi hujan tak mengijinkan kami lama-lama menikmati aliran air terjun Tegenungan dari dekat. Saya mulai khawatri dengan warna air terjun yang agak kecoklatan pertanda hujan deras di hulu sungai. Saya memutuskan untuk menikmati air terjun dari deretan kedai makanan dekat tangga turun tadi. Dan benar saja hujan menjadi deras seketika dan memaksa para pengunjung berteduh di kedai.

  1. Konklusi

Perjalanan saya ke Ubud Bali kali ini memang luar biasa. Sangat berkesan dan menarik darena saya bisa menikmati segarnya udara alami Ubud dan kentalnya budaya dan tradisi masyarakatnya. Kesan yang melekat begitu kuat karena ini adalah kali kedua saya berkunjung ke Bali. Maklum yang pertama kali adalah saat liburan perpisahan kelas 3 SMP. Susana tenang dan damai sangat saya rasakan ketika berada di Ubud. Hotel yang nyaman, pemandangan alam yang luar biasa, sambutan yang ramah, adalah kombinasi yang luar biasa untuk liburan.

Semoga artikel kali ini memberikan manfaat bagi sobat. Mohon maaf atas segala kekurangan dalam tulisan ini, mengingat sebagian besar meruspakan penilaian subyektif saya atas kesan yang saya terima ketika berada di ubud Bali. Beri tanda like dan share jika sobat menyukai artikel kali ini. Atau tinggalkan komentar di bawah sebagai bahan evaluasi saya. Sekian dulu tulisan saya kali ini sampai ketemu lagi di tulisan selanjutnya. Have a nice day

#villamandiubud #cafepomegranate  #monkeyforest @airterjuntegenungan #anomalicoffe #traveloka #uber

Trip Ke Ubud Bali (Tugas Mind Mapping KMO )

mind-mapping

DAFTAR ISI

  1. ALASAN
    • Patah Hati
    • Galau
    • Jenuh
  2. TUJUAN
    • Melihat
      • Alam
      • Tradisi
    • Menemukan
      • Pengalaman
      • Kearifan
    • Merasakan
      • Ketenangan
  1. INSPIRASI
    • Film
    • Googling
    • SosMed
  2. DAYS OF TRIP
    • Transportasi
    • Akomodasi
    • Destinasi
  3. KONKLUSI
    • Kesan
    • Pesan

Perjalanan Menuju Kedamaian I (Butiran Air Mata)

Assalamualaikum wr.wb.

Salam hangat sobat alurkayu semoga terhindar dari rasa sedih dan perih, amin ya robbal alamin. Setiap kalimat dalam doa seyogyanya menyelipkan pengharapan untuk kebaikan bagi diri sendiri maupun orang-orang yang kita sayangi. Harapan memperoleh kebaikan berupa kebahagiaan, kemudahan, kelimpahan rejeki dan lain sebagainya. Dan sebaik-baik doa adalah yang ikhlas mengharap kebaikan dar-Nya, hal ini yang pertama kali saya sadari ketika memulai perjalanan ini,

Dalam artikel “Ketidaksengajaan Yang Sangat Sengaja” saya sudah berbagi tetang bagaimana hubungan saya dan Dia kembali terangkai. Dengan perantara buku La Tahzan saya memulai perjalanan untuk menggapai kedamaian yang saat itu terasa hilang dari hidup saya.

Mengapa begitu penting tulisan perjalanan ini ? saya berpandangan bahwa kebanyakan hal baik dalam hidup akan hilang begitu saja disapu hembusan waktu bila tak ditulis. Terpujilah nama Rabb seru sekalian alam yang setiap hati ada di genggam-Nya, semoga niat saya ini dijauhkan dari riya’ dan saya pun berusaha serendah hati mungkin dalam menyampaikan pengalaman ini kepada sobat alurkayu. Saya pun tak lepas dari sifat lupa yang dimana artikel ini bisa membantu saya mengingat kembali hal-hal baik di masa lampau hidup saya, sehingga bisa diambil pelajaran. Lebih-lebih artikel ini bisa memberi manfaat kepada sobat alurkayu yang membaca artikel ini.

air mata

Butiran Air Mata

Ketika rongga dada “menyempit”, telinga tak lagi mendengar apa pun selain setiap ketukan denyut jantung ini. Pandangan memudar seketika bersama dengan pudarnya gambaran masa depan. Dua insan kala itu larut dalam setiap isak tangis kesedihan,

Bibir pun mengerut dan lidah keluh tak mampu berucap sepatah kata pun. Isak tangisnya terus mencengkeram jiwa. Kalimat demi kalimat keluhan  jadi jedah antara tangis dan isaknya. Tingkah laku ini melukainya, memupus harapan baiknya. Hangatnya kenangan indah masa lalu tak mampu melindungi jalinan yang sedang meregang hebat dan diambang perpisahan.

Satu hal yang saat itu dipahami adalah segala keinginan membahagiakannya dan usaha menghangatkan hubungan justru membuatnya tak bahagia. Rasa kecewa mengambbil tahtanya di kerajaan hati, mengubah kasih menjadi benci dan tulus menjadi pamrih. Segala pengorbanan yang jadi dasar hubungan sirna dan larut dalam butiran air mata yang terpisah dari tepian mata.

Momen kesedihan yang benar-benar menyesakkan hati dan memaksa saya untuk meneteskan air mata untuk sebuah perpisahan. Air mata yang bahkan tak keluar saat ditinggal pergi ayahanda kembali kehadirat Sang Pencipta. Air mata yang sama juga tak menetes ketika mengetahui ibunda terkena penyakit serius. Sungguh kesedihan yang sulit saya pahami kala itu.

Momen kesedihan itu telah berlalu namun  hati yang terlanjur tergores tak kunjung sembuh. Hatinya terluka dan hati ini pun terluka karena momen itu. Terbawa perasaan masing-masing menuntun pada kesimpulan untuk memutus jalinan komunikasi. Hati yang dikuasai rasa kecewa begitu terguncang setiap kenangan bersama. Sedih ketika teringat apa yang telah diberikan kepadanya, sedih ketika ingat betapa besarnya harapan kepadanya, sedih karena pengorbanan tak berujung perlakuan yang layak dan kesedihan-kesedihan lain yang menghanguskan kalbu.

Dalam kondisi kalut seperti itu kalimat yang pertama kali membuat saya tersentak adalah “Yang Berlalu Biarlah Berlalu”. Sebuah kalimat di bab-bab awal buku La Tahzan. Hingga muncul pertanyaan dalam benak saya “Mengapa begitu memikirkan apa yang sudah berlalu dan sedih di dalamnya ?”. karena saya berkorban banyak hal deminya dan berharap balasan sama darinya. Ketika harapan itu tak terwujud saya merasa kecewa dan ingin merubah apa yang telah terjadi sehingga sesuai kemauan saya.

Kesedihan mendalam dan merusak itu pun menjadi keniscayaan ketika kita merasa hal buruk hanya hal buruk semata. Kita hanya berpikir bahwa hal buruk itu pantas disesali secara terus menerus. Padahal sebagai orang yang menyadari bahwa setiap hal yang terjadi dalam hidup ini adalah atas kehendak-Nya seharusnya menyadari bahwa akal kita terbatas, kemampuan kita terbatas dan Kehendak-Nya tak terbatas. Dan segala sesuatu dari-Nya pasti baik. Karena Dia paling mengetahui apa yang kita butuhkan dan kita mau dibanding kita sendiri.

Jika kesadaran bahwa kemampuan diri ini terbatas dan kehendak-Nya tak terbatas maka yang selanjutnya ditumbuhkan adalah hanya kepada-Nyalah semua harapan baik digantungkan. Rasa kecewa tak terjadi jika kita tidak berharap pada sesama manusia (pamrih). Karena orang lain yang kita harapkan balasannya itu juga memiliki keterbatasan yang bila kita paksakan untuk berharap kepadanya akan berjung kecewa.

Butiran air mata memang diciptakan untuk meng-khidmat-kan kesedihan kita, seperti titik air hujan yang jadi akibat yang indah dari mendung di langit musim kemarau. Apabila mau sejenak kita renungi dan resapi arti butiran air mata itu mungkin bukan sedih atau kecewa itu yang penting lagi. Karena sedih hanya akan jadi syarat hadrinya kebahagiaan dan kesusahan akan jadi syarat terbitnya cahaya kemudahan.

Ketidaksengajaan yang Sangat Sengaja

Assalamualaikum wr.wb. Salam hangat sobat alurkayu dimana pun berada, semoga selalu  semnagat dan bahagia. Sangat penting bagi kita untuk mencapai kebahagiaan dalam hidup. Bayangan akan kebahagiaan yang ingin dicapai membeuat setap waktu kita terasa berharga, setiap langkah terasa ringan, mood jadi bagus dan hal – hal inilah yang menandakan semangat sedang mengalir dalam diri kita. Pada kenyataannya hidup kita tak selalu sesuai dengan yang kita mau sehingga muncul rasa kecewa, sedih dan khawatir. sekujur tubuh terasa lemah dan kehilangan tenaga manakala kesedihan menghampiri kita. Nafas terasa sesak karena himpitan kekhawatiran akan terjadinya hal – hal yang tidak inginkan.

Dalam artikel ini saya mencoba berbagi pengalaman dalam memahami kebahagiaan dan kesedihan dengan rujukan buku La Tahzan (Jangan Bersedih). Sebuah buku yang ditulis oleh Dr. Aidh al-Qarni yang membuka jalan saya untuk memahami Interaksi antara alam pikiran dan keadaan yang saya alami, entah itu kebahagiaan atau kesedihan. Sehingga memberikan pemahaman baru dan penegasan terhadap nasehat–nasehat baik yang saya terima sebelumnya.

Ketidaksengajaan

Seperti halnya pemuda kebanyakan saat sebelum saya menemukan buku La Tahzan, saya kesulitan memahami mengapa saya harus merasa bahagia dan bersyukur, lalu mengapa saya harus merasa sedih dan mengeluh. Meskipun sudah lama saya dengar nasehat guru dan orang tua bahwa harus banyak bersabar dan berseyukur. Tak kurang juga ceramah agama menyampaikan keutamaan–keutamaan bersyukur dalam agama.

Di tengah kedangkalan pemahaman itu saya mengalami masalah dalam hubungan dengan pasangan yang sudah lama dibina dan berencana ke jenjang serius malah berada diambang perpisahan. Pasangan yang sebentar lagi akan saya ajak ke pelaminan memutuskan untuk menyudahi hubungan kami. Kenyataan itu membuat saya jatuh dalam jurang kesedihan dan keputus-asa-an. Meratap dan bermuram hati adalah kegiatan yang nikmat dilakukan untuk mengisi hari–hari setelah itu.

Hingga suatu ketika teman yang ber-empati terhadap keadaan saya berniat menghibur saya dengan mengajak saya ke sebuah toko buku untuk melihat–lihat. Hobi membaca yang sedang redup mendadak tersentak melihat sebuah buku tebal bersampul kuning dengan judul yang seolah – olah bicara kepada saya tentang perasaan yang saya alami.

“Jangan Bersedih”

Buku tebal yang sekilas nampak membosankan untuk dibaca. Sulit membayangkan bisa selesai membaca buku La Tahzan ini dalam kondisi mood jelek untuk membaca. Dan harga yang relatif lebih mahal dari buku–buku yang saya beli. Tidak tahu kenapa saya begitu mantab membawa pulang buku ini hanya karena judulnya yang seolah menggoda untukk dibaca.

IMG_20160808_202726

Kesengajaan yang “sangat sengaja”

Entah bagaimana saya harus memberi sub-judul untuk bagian ini. Terbersit kata “sengaja” saja di pikiran ini. Tidak ada kata sepadan selain kata “sengaja” untuk menggambarkan campur tangan Sang Maha Berkehendak lagi Maha Penyayang. Apa yang menuntun saya pada sebuah perjalanan baru menuju danau–danau hikmah yang airnya jernih dan menenangkan jiwa.

Sebuah keberuntungan yang tak terhingga ketika saya bisa memulai perjalanan dari “tempat” yang seharusnya jadi “tempat” meng-akhir-i perjalanan pula. Dalam kepercayaan yang saya anut semua hal yang ada di dunia ini berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Sehinggga dimulai dengan memahami bahwa sekuat apa pun kita berusaha tetap saja ada bagian yang kita tidak akan bisa mengendalikannya, dan sebaik apa pun akal kita memahami suatu masalah tetap ada saat ketika akal kita tak mampu menggapai solusi.

Masalah hubungan antara laki – laki dan perempuan yang biasa dikeluhkan teman kepada saya dan seolah mudah bagi akal saya untuk mencerna masalah itu menjadi solusi. Namun keadaan sekarang berubah dan menempatkan saya pada posisi yang dialami teman saya tersebut. Dan ternyata akal pun mengakui bahwa ada sisi dimana logika tak mampu memproses hitungan. Hitungan tentang perasaan mendalam pada seseorang dan ikatan yang menyatukan dua insan sedang diambang perpisahan.

Dalam rasa sedih dan kecewa yang semakin menjadi–jadi setiap hari karena bayangan perpisahan itu. Bahasa lembut-Nya menyapa jiwa dengan perantara buku La Tahzan. Menyadarkan saya bahwa betapa tak pantasnya rasa sedih berlebihan bertahta di dalam hati orang–orang yang percaya pada-Nya. Karena begitu banyak kasih sayang dan anugerah yang Dia berikan kepada kita. Mengerti bahwa sedih itu sendiri hanya syarat untuk hadirnya kebahagiaan. Setiap tetes air mata akan diganti dengan kepuasan dan ketenangan hati jika mau bersyukur dan pasrah kepada-Nya.

Uluran tangan yang luar biasa indah dan hangat memeluk jiwa. Tuhan tahu saya bukan ahli kitab yang rajin membaca firman–firman-Nya. Dia pun tahu kalau saya umat-Nya yang dangkal pemahaman tentang-Nya. Dan akhirnya saya mengerti bahwa Dia selalu melihat, mendengar dan menolong saya dalam keadaan apa pun.

-Seleeai-

Note : Artikel ini bukan resensi, ini hanya cara saya untuk menerjemahkan apa yang saya pahami dan alami. Saya menyadari banyak kekurangan dalam pemahaman saya ini, sehingga artikel ini tak berhenti di bahasan ini dan akan terus dikembangkan seiring pemahamn dan pengalaman saya. Besar harapan saya artikel ini memberi manfaat bagi sobat alurkayu.

Saran dan masukan sangat saya harapkan untuk bisa menghasilkan tulisan yang lebih baik lagi. Atau bagi sobat yang ingin berbagi pengalaman yang sama tentang buku La Tahzan silahkan tulis di kolom komentar di bawah. Boleh berupa tulisan atau share link web/blog sobat. Akhirnya sekian dan terima kasih. Wassalam

Ada Nuansa Tertinggal Di Kota Pudak Pagi Itu

Komunikasi yang intensif dengan seorang mantan teman kuliah membawa saya untuk menyusun rencana bersepeda santai dengannya pagi ini. Sebuah aktifitas yang sudah lama ingin saya lakukan bersamanya.

Embun pagi masih enggan beranjak dari daun pohon mangga yang tumbuh di depan rumah ketika saya berganti baju favorit saya unutk bersepeda. Adzan subuh belum lama berlalu sementara saya sudah mulai mempersiapkan sepeda Polygon Premier 2.0 untuk olah raga minggu pagi ini. Memeriksa kondisi sepeda penting dilakukan agar aman dan nyaman ketika dikendarai nanti. Tekanan ban dan kondisi rem masih bagus, tidak lupa saya gunakan helm untuk melengkapi standar keamanan ketika bersepeda.

Senua sudah siap dan setelah menutup pagar rumah saya bersiap berangkat menuju meeting point. Hampir saya lupa menyiapkan aplikasi RunKeeper pada smartphone untuk merekam aktifitas olah raga saya pagi ini. Aplikasi ini bisa menunjukkan data tentang aktifitas olah raga kita seperti seberapa jauh kita bersepeda, berapa lama kita bersepeda, kecepatan kita bersepeda hingga berapa banyak kalori yang dibakar.
image

Perpaduan warna hitam dan biru tua langit menjadi payung saya mengayuh tiap meter jalan raya Pakal yang mulai ramai. Kebanyakan adalah orang – orang yang hendak ke pasar Benowo yang ada beberapa kilometer di depan saya. Dan tidak lama saya melintas di Pasar tersebut ketika kesibukan aktifitas jual beli sedang ramai – ramainya. Riuh ramai pasar mengusir sepi jalan yang saya lalui kala itu. Maklum karena pasar Benowo menjadi tempat berkumpulnya orang dari beberapa kecamatan di Surabaya Barat dan Gresik Bagian Timur yang berbatasan dengan Kecamatan Benowo yang masih masuk wilayah Kotamadya Surabaya.

Sekitar Lima menit dari pasar Benowo saya tiba di meeting point, tapi teman saya belum terlihat sejauh saya memandang. Ini tidak mengherankan karena meeting point kami ada di Terminal Angkot Benowo yang munkin cuma sekitar 3 kilometer dari rumah saya, sedangkan teman saya tinggal di daerah Cerme Kabupaten Gresik yang berjarak sekitar 9 kilometer dari meeting point.

Tak lama menunggu teman saya pun tiba, dia memang sudah lama hobi bersepeda dan sudah biasa bersepda dengan jarak yang jauh, mental dan staminanya sangat teruji. Jauh berbeda dengan saya yang gamapang capek hehe….

Acara bersepeda bersama pun dimulai dengan kecepatan rata – rata 20 Km/jam melalui jalannan akses menuju Stadion Gelora Bung Tomo dan Tempat Pembuangan Sampah Akhir Benowo. Kondisi jalan yang masih sepi dan aspal yang masih bagus sangat mendukung untuk mengayuh dengan kecepatan sedang. Tak lama mengayuh kami masuk wilayah industri Romokalisari yang terpisahkan sungai Kali Lamong dengan wilayah Gresikdi sisi kiri jalan kami. Sungai Kali Lamong merupakan salah satu batas alam antara wilayah Kabupaten Gresik bagian Timur dengan Kotamadya Surabaya bagain Barat Utara.
image

Kemilau air Kali Lamong yang mulai disapa sinar mentari pagi seolah menjadi ucapan selamat datang di Kota Gresik. Setelah melalui jembatan Romokalisari resmilah kami masuk ke wilayah Kota Gresik. Ucapan selamat datang Kali Lamong segera berubah jadi sambutan luar biasa ketika tanjakan dengan kemiringan yang tidak terlalu curam namun panjang mulai saya rasakan. Dengan agak susah payah saya menaklukan tanjakan itu, namun harus menyerah juga untuk beristirahat sejenak. Teman saya yang sudah teruji staminanya untuk tanjakan seperti ini meyakinkan saya untuk mengayuh sedikit lagi untuk mengambil tempat istirahat yang bagus. Dengan sedikit berat hati saya ikuti sarannya yang ternyata tidaklah sia – sia. Kami berhenti dan mengambil nafas di depan Landscape baru Kota Gresik yakni Stadion Joko Samudro. Home Base baru tim sepak bola asal Gresik. Bangunan megah berlatar belakang jingganya langit bertahta mentari pagi menggoda kami untuk berfoto di depan Stadion tersebut.
image

Puas berfoto di Stadion baru kebanggaan warga Gresik, saya melanjutkan kayuhan menuju Pelabuhan Gresik. Dengan track yang naik turun khas daerah pesisir dan jalanan dengan aspal yang cukup bagus membuat stamina tidak banyak terkuras. Bebebrapa menit bersepeda kami tiba di Pelabuhan Gresik. Cuaca yang cerah dan langit yang biru membuat suasan disana sangat terasa nyaman. Lalu lalang truk belum terlalu banyak membuat udara masih nyaman. dan deretan kapal kayu seperti membawa nuansa lawas suasan di dermaga pagi itu. Deretan kapal kayu itu seperti tidak berubah dari ratusan tahun lalu. Kuli – kuli angkut pelabuhan yang memanggul sekarung besar tepung meniti papan kecil benar – benar suasana kuno yang saya dapat disana. Decak kagum seketika meeledak dalam pikiran saya. Benar – benar momen yang luar biasa.
image

Segera saaat di pelabuhan itu saya minta diantar ke daerah – daerah dekat sana yang masih memiliki bangunan – bangunan cagar budaya peninggalan jaman kolonial. Teman saya menyanggupinya dan menuntun saya untuk melanjutkan perjalan menuju ke sebuah bangunan tua yang terkenal di Kota Gresik. Benar saja rasa kagum saya pada Kota ini tak henti – henti terasa ketika sepanjang perjalanan saya melalui deretan gedung – gedung tua. Rasa kagum saya memuncak ketika teman saya berhenti di depan sebuah bangunan berasitektur Belanda  yang terkenal dengan Rumah Gajah Mungkur. Tidak banyak yang bisa saya ketahui dari bangunan indah ini. Karena teman saya sendiri juga tidak banyak tahu tentang riwayat rumah tua ini. Tapi itu tidak mengurangi kekaguman saya atas kemegahan banguanan lama Gajah Mungkur dan bebeapa bangunan di sekitarnya.
image

image

Matahari beranjak tinggi menyadarkan saya untuk segera pulang karena matahari yang terik akan mengurangi kenikmatan bersepeda kami. Dengan rasa berat hati saya harus segera pulang karena daya baterai smartphone saya juga sudah lemah.Dan histeria yang dishasilkan nuansa lawas di daerah kota tua Gresik membuat saya ingin sekali kembali dan mengabadikan lebih detil apa yang saya alami di sana.

Selepas alun – alun kota Gresik kami menuju jalan pulang , jalan sama yang kami lalui ketika berangkat tadi. Pengalaman luar biasa yang saya alami ketika bersepeda yang semula sekedar ingin berolah raga mencari keringat ternyata bisa jadi wisata sejarah.

Tersesat

Kertas putih, ya seperti itu aku merasakan diriku akhir – akhir ini. Kertas putih yang biasanya dianggap kondisi suci oleh banyak orang namun tidak bagiku kali ini. Polos tanpa pola tanpa goresan serupa dengan lembaran – lembaran lain dalam buku baru. Entah bagaimana sesorang bisa merasakan hal seperti ini. Yang jelas aku merasakan ini bukan keadaan yang menyenangkan.

Menjalani waktu dan hidup dengan sangat terlalu wajar dan noral. Merasa sperti setiap detik berlalu begitu saja tanpa ada jejak setitik pun. Jejak setitik yang bisa sekedar untuk kulihat saat menoleh ke belakang. Hanya seperti melangkah di atas lempeng es yang putih dan tiada bertepi.

Bukan, ini bukan sikap tak bersyukur seperti yang dibilang oang. Jika kita benar – benar bersyukur pastilah takkan membiarkan hidup ini tiada bermakna. Setiap hela nafas berlalu dan hilang bersama partikel karbon dioksida yang kita hembuskan. Bersyukur seharusnya menjalani setiap detik ini dengan penuh hasrat, penuh dengan kesadaran dan berusaha maksimal demi hasil terbaik. Ya, seperti itulah hidup seharusnya.

Ini hanya perasaan kosong seperti ketika berdiri di nuansa gelap yang tak tahu dimana kita sedang berada. Itulah akibat dari berjalan dengan melamun dan ketika sadar kaita tak tahu sedang berada dimana. Namun waktu telah beranjak pergi tanpa bisa kembali. Yang kita cintai telahberlalu tanpa sedikit kesan dan yang berharga lenyap seperti birunnya langit ditelan senja. Betapa perih mengingat kita tak sedikit pun berusaha menggapai itu semua dengan sekuat tenaga. Namun malah melangkah menjauh tanpa disadari.

Tuhan selalu ingatkan kita untuk utamakan niat. Niat bukan sekedar kecapan lidah pengolah udara yang datang dari tenggorokan kemudian menjadi kata – kata yang kemudian hilang bersama angin. Niat lebih dari itu, niat adalah hasrat, niat adalah keinginan kuat, niat adalah keyakinan teguh

Salam Embun untuk Lilin

Malam hampir tiba di akhir perjalanannya namun aku tak lelah membelah kesunyian. Bergerak lembut keutara terbawa angin malam, tak lelah ku arungi malam. Bintang – bintang berkedip genit membuatku malah semakin menjadi – jadi membelah malam. Hingga aku lupa dimana aku harus berhenti. Dan bintang pun memudar seiring datangnya pagi. Kecewaku merasuk karena janji semu si bintang untuk bertemu di dahan cemara hanyalah semu.

Tak jauh dari cemara itu ku lihat kilat cahaya lain seperti bintang namun berbeda. Dia tak datang dari langit melainkan dari bumi. Snarnya yang lembut dan dekat menjanjikan kehangatan . Rasa kecewa yang ditorehkan bintang dan dingin yang menusuk membawaku semakin dekat pada sebuah rumah sederhana berdinding anyaman bambu. Dari celah dinding bisa kulihat asal cahaya lembut itu. Dialah Lilin cahaya dalam gelap yang memberi kehangatan.

Tak perlu waktu lama untuk kami saling mengenal dan saking mengerti satu sama lain. Lama ku dengar dia bercerita bahwa dari tengah malam dia sudah melihatku kesana kemari mengejar bintang. Memandangiku dari celah anyaman bambu, dinding pemisahku denganya saat itu. Pagi segera menjelang dan kami berjanji tuk bertemu di mlaam berikutnya.

Malam kedua aku tak lagi tergoda kelip bintang. Hatiku senang karena telah bertaut janji dengan cahaya yang nyata dan hangat. Dan tengah malam menjelang saat cahaya lembut yang sama kembali kudekati. Namun da yang aneh dengan Cahaya itu kini lebih terang tapi tubuh si lilin semakin pendek dari kemarin. Cahayanya yang terang dan hangat membahagiakanku. Itu karena aku sudah bosan dengan dinginnya angin malam yang mengantarku kesana kemari di tengah malam. Rasa senang karena kini ada cahaya yang bisa kupandang setiap saat dan kurasakan hangatnya dar jarak yang dekat. Rasa bahagia membuatku ingin semakin dekat dengannya, menyentuhnya dan memilikinya.

Setiap bagian dalam hidup tak selalu sesuai dengan keinginan kita, namun selalu ada pelajaran yang bisa diambil, begitulah kata orang bijak. Keinginanku untuk menyentuh llilin malah membuat cahayanya meredup, cerianya memudar. Aku yang dingin ini terlalu dingin untuknya. semakin dekat aku padanya semakin dia kehilangan daya untuk menerangi. Aku baru sadar ternyata pertemuan ini hanyalah sepihak. Aku hanya bisa merasakan bahagia yang dia berikan tanpa bisa memberi hal sama kepadanya. Lilin memberiku cahaya dan kehangatan namun aku memberikan dingin dan kesepian. Dia membahagiakanku dan aku menyakitinya. Bukan sesuatu yang kuinginkan namun tak mampu kuhindari.

Lilin terluka perih disisa akhir malam dalam tubuhnya yang semakin tak berbentuk menyisakan sumbunya. Aku bahagia sekaligus kecewa. Bahagia karena mencintainya dan kecewa karena tak mampu bahagiakannya. Rasa sedih mendalamku mengetahui cahaya semakin redup dan redup lalu lenyap  dalam kesedihan. Lilinku pergi, cahayaku menghilang meninggalkanku dalam gelap.  Tak ada lagi yang bisa kujadikan teman menghabiskan malam. Aku sedih dan aku berduka. Kutautkan sedihku pada daun pinus hingga mentari menjelang. Sang pemilik cahaya datang dan kuhadapkan diriku padanya hingga embun menjadi bbutiran air yang menetes dari daun pinus ke tanah.. Tempat rasaku, cintaku dan harapku untuk lilin teriring salam penuh cinta.

SAlam dari Embun untuk Lilin