Monthly Archives: December 2016

Trip ke Ubud Bali

Indonesia sebagai salah satu negara kepulauan dengan lebih dari 15 ribu pulau selalu memiliki daya tarik untuk dikunjungi. Ribuan turis mancanegara datang setiap tahun untuk menikmati keindahan alam Indonesia dan keanekaragaman budayanya, belum lagi ditambah dengan wisatawan domestik. Data dari kementrian pariwisata menyebutkan lebih dari 9 juta orang wisatawan mancanegara mengunjungi Indonesia di tahun 2014. Dan 250 ribu lebih perjalanan yang dilakukan wisatawan domestik di tahun 2013.

Dari sekian banyak pulau di Nusantara saya berkesempatan mengunjungi salah satu pulau yang reputasinya sudah mendunia., mana lagi kalau bukan Pulau Dewata Bali. Di artikel ini saya ingin berbagi cerita perjalanan saya tersebut. Semoga cerita saya ini bisa bermanfaat dan tentunya menarik minat sobat alurkayu untuk pergi berlibur.

  1. ALASAM

Ada banyak pilihan kata untuk judul Bab ini, namun yang terlintas justru kata alasan mungkin supaya saya gampang untuk mengabstraksikan tentang apa yang akan saya ceritakan di bab ini (Hehee*ngelesmodeon).  Setiap hal yang terjadi di dunia pasti terikat dengan hukum sebab akibat yang digariskan Tuhan. Seperti itu jugalah perjalanan saya kali ini yang pasti ada alasan atau sebab yang memicunya.

Pada dasarnya saya adalah pria rumahan yang banyak menghabiskan waktu di rumah daripada di luar rumah. Kegiatan di luar rumah seperti traveling bukan hobi saya. Untuk bepergian jauh membutuhkan alasan yang cukup kuat bagi saya. Seperti keperluan keluarga, kepentingan dinas atau memang acara tur yang diadakan sekolah atau kampus tempat saya belajar. Dan ternyata alasan itu muncul dari saya sendiri. Usia yang sudah tidak lagi muda dan dianggap “mapan” oleh lingkungan sekitar memunculkan berbagai dorongan atau kadang agak sedikit berbau paksaan untuk segera menikah.

Belum lagi kandasnya hubungan yang saya jalin selama dua tahun dengan pasangan saya memberikan beban yang cukup berat di pikiran saya. Rasa kecewa yang mendalam dan keinginan untuk melupakan kenangan bersamanya mendorong saya untuk merencanakan sebuah perjalanan wisata.

Mungkin aalasan saya kali nii klise dan banyak orang juga mengalami. Kejenuhan yang memuncak yang disebabkan rutinitas mendorong saya untuk sejenak meninggalkan kesibukan itu. Walaupun ini sebenarnya bukan berarti saya tidak mensyukuri apa yang saya miliki saat ini. Terkadang kita sebagai manusia akan mencapai satu titik tertentu dimana cepatnya perjalanan waktu membuat kita lupa akan siapa diri kita dan lelah untuk menjadi orang lain seperti  yang dituntut oleh lingkungan kita.

  1. TUJUAN

Layaknya setiap perjalanan tujuan adalah syarat wajib sempurnanya perjalanan itu sendiri. Dan dengan tujuan pula perjalanan kita menjadi terarah dan bernilai. Tujuan di sini bukanlah obyek wisata yang akan dikunjungi. Melainkan suatu hal yang ingin kita peroleh dalam perjalanan. Berikut ini beberapa hal yang  ingin saya peroleh dari perjalanan kali ini.

  • Melihat

Ya, melihat di sini memang melihat dengan mata penglihatan kita (bukan dengan mata hati*hehe). Pemandangan alam Bali yang masih alami dan terjaga dengan sangat baik. Kombinasi yang harmoni antara alam yang menakjubkan dengan tradisi budaya masyarakat sangat memanjakan mata kita.

  • Menemukan

Sebagai orang rumahan yang jarang “main” jauh. Tentu perjalanan kali ini memberikan pengalaman yang luar biasa mulai dari betapa mualnya saya ketika pesawat take off dari bandara Juanda hingga landing di bandara Ngurah Rai. Sungguh pengalaman yang menyiksa bagi saya. Betapa ramahnya bapak penjaga rental motor dan masih banyak lagi pengalaman-pengalaman lain akan saya ceritakan di tulisan saya kali ini.

  • Merasakan

Tujuan utama perjalanan berlibur tentunya adalah ketenangan. Kondisi dimana rasa senang dan puas akan pengalaman yang didapat menimbulkan rasa tenang. Dan didukung dengan suasana yang nyaman.

  1. INSPIRASI

Berbicara tentang inspirasi memang sangat subyektif dan setiap orang boleh berbeda-beda dalam merancang liburan. Merancang sebuah liburan bagi orang rumahan seperti  saya  memang sama sulitnya dengan menyusun skripsi semester akhir. Seringkali ditanya mau liburan kemana saya hanya bisa berkata terserah  pada yang mengajak liburan. Namun ada yang berbeda di liburan kali ini. Ada beberapa hal yang menjadi sumber inspirasi saya untuk berlibur kali ini.

  • Film

Mungkin ada beberapa sobat yang rada mengerutkan dahi karena film jadi inspirasi untuk melakukan perjalanan berlibur. Sebenarnya ada banyak sekali film yang menginspirasi kita untuk pergi berlibur sob seperti  The Beach (tahun 2000), Secret Life of Walter Mitty (tahun 2013), 5 Cm (tahun 2012) dan masih banyak lagi. Begitu juga dengan liburan saya kali ini yang terinspirasi  dari film Eat, Pray, Love (tahun 2010).

Eat, Pray, Love dibintangi oleh aktris cantik Hollywood Julia Robert. Film ini mengisahkan seorang perempuan sukses di New York yang kehidupannya berubah 180 derajat. Ditengah rasa kalutnya akibat perceraian dengan sang suami Liz sang tokoh utama merencanakan perjalanan ke tiga negara berbeda. Di Roma Italia dia ingin menemukan kembali gairah hidup dan gairah makannya. Di India dia mencari keseimbangan dalam batinnya dengan bermeditasi dan yoga. Dan terakhir di Bali dia menyempurnakan perjalanannya dengan menemukan ketenangan dan cinta yang baru.

Nah, dari sinilah akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke Ubud Bali, karena ingin mengikuti jejak Liz (Julia Robert) menemukan cinta baru di Bali seperti kata salah seorang tokoh dalam film tersebut  :”In Bali we find Love”.

  • Googling

Kita semua tahu hidup akhir-akhir ini agak sulit lepas dari internet. Daripada mencari buku tentang berbagai obyek wisata di Bali, tentu akan lebih mudah melalui mesin pencari Google. Dengan Google saya menemukan informasi beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi. Informasi penting yang bisa kita peroleh seperti nama-nama tempat wisata yang bisa dikunjungi, transportasi menuju ke sana , waktu tempuh, tarif obyek wisata, tempat makan,  keunikan tempat wisata tersebut dan masih banyak yang lain.

  • Media Sosial

Dari Google biasanya kita dapat sebagian besar informasi tentang tempat  yang akan kita kunjungi. Namun kadang ada sebagian kecil tempat wisata yang sepertinya bagus untuk dikunjungi namun punya jarak yang jauh , dan bisa menghabiskan banyak biaya dan waktu. Bagi sobat yang ingin liburannya berbeda dengan teman yang baru berkunjung ke Bali juga mungkin media sosial bisa jadi solusi. Dalam media sosial kita bisa menemukan banyak foto bagus yang diunggah oleh orang-orang yang pernah berkunjung sebelumnya. Foto-foto itu pasti jauh lebih bagus dan lebih banyak daripada ulasan tentang tempat wisata tersebut. Dari situ kita bisa tentukan apakah tempat wisata yang akan dituju itu layak dikunjungi atau tidak.

  1. DAYS OF TRIP

Nah, ini bagian yang paling saya suka dan sobat alurkayu tunggu. Di sini saya akan bercerita tentang 5 hari liburan saya di Ubud, Bali.

  • Transportasi

Terima kasih banyak untuk Traveloka yang memberikan promo tiket murah tanggal 1 desember 2016 jurusan Surabaya-Denpasar. Cuma dengan Rp.300 ribu saya dan seorang teman bisa terbang ke Denpasar dengan pesawat Citilink. Tiket murah itu ternyata membutuhkan sedikit pengorbanan dengan harus tidur di tempat saya kerja agar bisa berangkat bersama dengan teman yang juga satu tempat kerja. Itu karena pesawat kami berangkat pukul 05.30 yang artinya kami harus tiba di Bandara Juanda 1 jam sebelum keberangkatan.

Begadang semalaman tanggal 30 November membuat kami akhirnya memutuskan berangkat jam 2 dinihari 1 Desember. Dinihari yang lumayan sepi dan tidak kelihatan satu pun taksi yang nongkrong di pelabuhan Tanjung Perak. Akhirnya kami memutuskan untuk memesan taksi online Uber. Yap, lebih mudah karena bisa memanggil taksi untuk datang menjemput kita. Selain mudah juga murah dibandingkan dengan taksi konvensional. Kita bisa menghemat banyak uang dengan selisih sekitar 50%. Dengan jarak yang sama antara Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya ke Bandara Juanda sejauh 35 km kita harus membayar sekitar Rp. 150 ribu, sedangkan untuk taksi online kami hanya membayar sekitar Rp. 80 ribu.

Waktu masih menunjukkan pukul 02.50 ketika kami tiba di bandara Juanda. Perjalanan sangat lancar menuju Bandara karena lalu lintas yang memang masih sangat sepi mengingat masih dini hari.  Setelah habis 2 batang rokok kami pun masuk ke ruang tunggu dengan melalui proses Boarding Pass dan prosedur keamanan Bandara.

Tak lama berselang, kami dan penumpang lain tujuan Denpasar dipersilahkan menuju ke Pesawat. Dan pukul 5.30 pesawat pun berangkat dengan take off yang terasa kasar menurut saya. Take off yang mempengaruhi kenyamanan selama 50 menit perjalanan menuju Denpasar. Rasa mual karena lama sudah tidak naik pesawat membuat saya tersiksa di 10 menit penerbangan. Ditambah lagi 10 menit tambahan karena pesawat belum diijinkan mendarat dikarenakan hujan di Bandara Ngurah Rai. Namun syukurlah pesawat berhasil mendarat dengan mulus

Di luar terminal kedatangan Domestik Bandara Ngurah Rai kami disambut para supir taksi Bandara dan mobil travel sewaan yang siap mengantar kita kemana saja. Di sinilah kita harus tricky jika tak ingin isi dompet kita terkuras sebelum berlibur. Ini karena begitu banyak penawaran harga dan pilihan mobil yang akan kita dapat di sana. Variasi harga yang saya dapat kala itu untuk perjalanan dari Bandara Ngurah Rai ke Ubud adalah Rp. 300 ribu dengan jarak 37 km atau 1,5 jam perjalanan. Penawaran harga itu tentu tidak membuat kami puas, sehingga saya mencoba memesan taksi online lagi. Dan penawaran harga yang kami peroleh adalah Rp. 150 ribu. Alhasil pilihan pun kami berikan pada taksi online lagi. Namun perlu diingat bahwa ada peraturan tertulis yang menyebutkan bahwa taksi online dilarang mengambil penumpang di area Bandara baik di Ngurah Rai atau mungkin di semua Bandara di Indonesia. Jadi, saya sarankan untuk berkomuikasi secara baik dengan calon pengemudi taksi online yang akan kita tumpangi sob. Demi keselamatan kita sebagai calon penumpang dan pengemudi taksi online. Serem ? ya begitulah yang sedang terjadi saat ini. Dan memang itu seperti komppensasi dari harga murah yang kita dapat.

Singkat cerita kami pun naik ke mobil taksi online dan menyampaikan tujuan kami. Dan kami pun terkejut bukan kepalang karena pengemudi taksi online menolak mengantarkan kami ke tujuan dengan harga yang tertera di aplikasi Uber. Cukup lama mobbil terdiam menunggu kami selesai bernegosiasi harga. Sang pengemudi pun membuka penawaran harga baru untuk mengantar kami ke Ubud. Tahukah sobat berapa harga baru yang ditawarkan san pengemudi taksi online ?. dengan berbagai dalil sang pengemudi menawari kami harga Rp.300 ribu untuk perjalanan ke Ubud. Penawaran yang mengejutkan dan menjengkelkan karena itu sama saja kami ikut taksi Bandara yang menawari kami di area kedatangan tadi. Untung teman saya berinisiatif untuk minta diantar ke pantai Kuta. Dengan ongkos hanya Rp. 50 ribu kami tiba di kawasan wisata pantai Kuta.

Sensasi Jet Lag dan jengkel karena kami masih di Kuta sedang seharusnya sudah tiba di Ubud membawa kami untuk bersantai sejenak di pantai Kuta sambil menikmati sebotol minuman ringan.  Kondisi di luar rencana tidak menyurutkan semangat kami, alhasil ide pun muncul seketika. Perkalanan dari Kuta ke Ubud kami lalui dengan mengendarai sepeda motor sewaan. Memang ada banyak sekali tempat persewaan sepeda motor di Kuta. Trik yang bisa sobat gunakan agar tidak mendapat harga mahal saat menyewa pstikan sobat mendapat harga wisatawan lokal. Karena sebenarnya walaupun mereka menawarkan satu harga di awal tapi sbebenarnya ada perbedaan penawaran untuk wisatawan lokal dan mancanegara. Jadi jangan sungkan-sungkan untuk menawar sebelum sepakat harga ya !

Matahari sudah hampir di ubun-ubun ketika kami sampai di Villa Mandi Ubud jalan Singakerta. Dan selanjutnya sepeda motor sewaan inilah yang mengantarkan kami kemana pun tempat yang ingin kami tuju selanjutnya.

  • Akomodasi

Selama di ubud saya menginap di Hotel Villa Mandi Ubud. Tinggal selama 5 hari 4 malam sungguh merupakan pengalaman berharga karena sebenarnya saya memesan untuk kamar tipe biasa dengan harga Rp. 270 ribu permalam, namun ketika kami chec in malah diberi kamar dengan private pool dan itu sungguh luar biasa bagus buat kami. Kamar dengan private pool ini waktu saya lihat di aplikasi harganya sekitar Rp. 700 ribu per malam. Hal ini bisa terjadi karena kamar yang kami pesan sedang ada proyek perbaikan di dekatnya sehingga untuk memastikan kenyamanan tamu maka manajemen hotel memindahkan kami ke kamar yang ada private pool.

Hotel Villa Mandi Ubud ini sangat unik karena dibangun dengan konsep villa dan agak berbeda dengan hotel yang pernah saya kunjungi sebelumnya yang kebanyakan berbentuk gedung bertingkat. Dan letaknya yang agak dipinggiran pusat kotaUbud membuat ketenangan sangat terjaga di sini. Belum lagi lokasinya yang ada di tengah lahan persawahan sangat memanjakan mata.

  • Destinasi

Dengan waktu 5 hari 4 malam di Ubud seharusnya banyak tempat yang bisa ceritakan ke sobat alurkayu namun apalah daya selama 5 hari itu hujan selalu menghiasi setiap harinya. Jadi banyak waktu yang terbuang menunggu hujan reda baik menunggu di pinggir jalan maupun di kamar hotel. Maklum transportasi andalan kami hanya sepeda motor (murah meriah hehe…).

Di hari pertama kami tiba di Ubud tidak banyak tempat yang kami kunjungi karena dari tengah hari sampe petang hari kami hanya istirahat di kamar. Dan malam hari baru bisa berkeliling melihat keramaian pusat kota Ubud,

Monkey Forest adalah obyek wisata yang kami kunjungi pertama kali di Ubud. Dengan harga tiket masuk hanya Rp. 40 ribu per orang kita bisa berkeliling kawasan penangkaran monyet-monyet ekor panjang mirip di Sangeh. Di sana kita bisa memberi makan monyet-monyet ekor panjang dan melihat kompleks Pura Dalem Agung dan Pura Madia Mandala. Monyet-monyet banyak berkeliaran di sekitar Pura Dalem Agung sedang bila kita menulusuri tangga agak ke bawah kita akan menemukan Pura Madia Mandala yang di depannya ada kolam dan candi kecil di tengahnya. Di samping Pura Madia Mandala ada aliran sungai yang deras mengalir di sebuah celah mirip Grand Canyon. Dan kita bisa menelusuri tepian dinding aliran sungai hingga berujung pada pancuran air suci yang airnya sangat segar bila diminum .

Menjelang sore hari turun hujan yang cukup deras yang memaksa kami untuk akhirnya kembali ke hotel dan menunggu hujan benar-benar reda.

Hari ketiga di Ubud kami berencana pergi ke Bali Pulina Agro Turism. Butuh waktu kurang lebih 30 menit dari hotel menuju ke Bali Pulina yang ada di Tegalalang kabupaten Gianyar. Namun percayalah sob setengah jam perjalanan tidak akan terasa karena sepanjang kanan kiri kkita akan disuguhi pemandangan persawahan berundak Bali yang amat tersohor itu. Ada cerita lucu ketika kami menyempatkan untuk sararpan di sebuah kedai di pinggir jalan raya Tegalalang. Menunggu tak terlalu lama pesanan makanan pun datang. Karena yang sudah terseddia di meja baru 1 piring saya mempersilahkan teman saya untuk makan terlebih dahulu namun karena dia merasa lebih muda dia persilahkan saya dulu yang makan dulu. Dan ritual saling mendahulukan berakhir ketika ibu si penjual nasi datang ke meja kami dan mengambil piring tadi. Sambil berjalan kembali ke meja jualannya si ibu bilang “maaf pak saya kira tadi orang sini, ini tadi ada babinya”. Antara harus kaget dan lega kami saling melihat dan tertawa kecil untuk menahan tawa yang terbahak. Dalam hati bersyukur tiada tara karena hampir saja makan daging yang tidak diperkenankan oleh agama (hehe… ). Memang susah-susah gampang menemukan makanan halal di Bali. Tapi kejujuran ibu penjual berhasil menyelamatkan kami.

Setelah perut kenyang perjalanan kami lanjutkan menuju Bali Pulina yang sudah tinggal sepuluh menit lagi. Dan kami pun tiba di Bali Pulina cukup awal daripada turis-turis asing karena yang saya lihat masih jarang ada yang nongkrong dan ngopi. Yap, Bali Pulina memang tempat sempurna untuk menikmati kopi khas Bali dan Kopi Luaknya memang benar-benar nikmat. Dengan tiket masuk senilai Rp.100 ribu per orang, kita bisa menikmati 10 gelas tester minuman mulai dari kopi hitam Bali, kopi jahe, kopi capuchino, coklat panas,  teh jahe, teh hangat, dan lain-lain saya lupa persisnya.

Tidak Cuma soal sruput kopi ditemani pisang goreng, disana juga bisa kita lihat proses pembuatan kopi luak yang masih tradisional. Jangan lupa ketika mampir ke sana abadikan momen sobat dengan kamera. Karena pemandangan dan desain tempat wisatanya memang istimewa.

Belum puas menikmati kopi, hujan turun lagi dan sangat deras. Hampir 2 jam saya menunggu hujan reda dan terjebak cukup lama di Bali Pulina. Hujan yang sebentar reda sebentar lebat akhirnya membuat kami memutuskan untuk mengurungkan niat ke tempat wisata selanjutnya dan kembali ke hotel.

Beberapa dinding tebing yang kami lewati ketika berangkat terlihat mengalami longsor, dan itu membuat kami agak sedikit khawatir.

Hari ke empat kami mengunjungi obyek wisata yang lumayan dekat dengan hotel. Masih di daerah Ubud juga, yaitu air terjun Tegenungan. Air terjun Tegenungan merupakan obat kecewa karena kami gagal pergi ke Singaraja untuk melihat banyak air terjun di sana.

Dengan Rp. 15 ribu per orang kita bisa menyaksikan keindahan air terjun Tegenungan. Setelah menuruni puluhan ank tangga dan melewati tepian sungai tentunya. Seharusnya ini menjadi air terjun terbaik saat itu tapi lagi-lagi hujan tak mengijinkan kami lama-lama menikmati aliran air terjun Tegenungan dari dekat. Saya mulai khawatri dengan warna air terjun yang agak kecoklatan pertanda hujan deras di hulu sungai. Saya memutuskan untuk menikmati air terjun dari deretan kedai makanan dekat tangga turun tadi. Dan benar saja hujan menjadi deras seketika dan memaksa para pengunjung berteduh di kedai.

  1. Konklusi

Perjalanan saya ke Ubud Bali kali ini memang luar biasa. Sangat berkesan dan menarik darena saya bisa menikmati segarnya udara alami Ubud dan kentalnya budaya dan tradisi masyarakatnya. Kesan yang melekat begitu kuat karena ini adalah kali kedua saya berkunjung ke Bali. Maklum yang pertama kali adalah saat liburan perpisahan kelas 3 SMP. Susana tenang dan damai sangat saya rasakan ketika berada di Ubud. Hotel yang nyaman, pemandangan alam yang luar biasa, sambutan yang ramah, adalah kombinasi yang luar biasa untuk liburan.

Semoga artikel kali ini memberikan manfaat bagi sobat. Mohon maaf atas segala kekurangan dalam tulisan ini, mengingat sebagian besar meruspakan penilaian subyektif saya atas kesan yang saya terima ketika berada di ubud Bali. Beri tanda like dan share jika sobat menyukai artikel kali ini. Atau tinggalkan komentar di bawah sebagai bahan evaluasi saya. Sekian dulu tulisan saya kali ini sampai ketemu lagi di tulisan selanjutnya. Have a nice day

#villamandiubud #cafepomegranate  #monkeyforest @airterjuntegenungan #anomalicoffe #traveloka #uber

Advertisements

Trip Ke Ubud Bali (Tugas Mind Mapping KMO )

mind-mapping

DAFTAR ISI

  1. ALASAN
    • Patah Hati
    • Galau
    • Jenuh
  2. TUJUAN
    • Melihat
      • Alam
      • Tradisi
    • Menemukan
      • Pengalaman
      • Kearifan
    • Merasakan
      • Ketenangan
  1. INSPIRASI
    • Film
    • Googling
    • SosMed
  2. DAYS OF TRIP
    • Transportasi
    • Akomodasi
    • Destinasi
  3. KONKLUSI
    • Kesan
    • Pesan