Perjalanan Menuju Kedamaian I (Butiran Air Mata)

Assalamualaikum wr.wb.

Salam hangat sobat alurkayu semoga terhindar dari rasa sedih dan perih, amin ya robbal alamin. Setiap kalimat dalam doa seyogyanya menyelipkan pengharapan untuk kebaikan bagi diri sendiri maupun orang-orang yang kita sayangi. Harapan memperoleh kebaikan berupa kebahagiaan, kemudahan, kelimpahan rejeki dan lain sebagainya. Dan sebaik-baik doa adalah yang ikhlas mengharap kebaikan dar-Nya, hal ini yang pertama kali saya sadari ketika memulai perjalanan ini,

Dalam artikel “Ketidaksengajaan Yang Sangat Sengaja” saya sudah berbagi tetang bagaimana hubungan saya dan Dia kembali terangkai. Dengan perantara buku La Tahzan saya memulai perjalanan untuk menggapai kedamaian yang saat itu terasa hilang dari hidup saya.

Mengapa begitu penting tulisan perjalanan ini ? saya berpandangan bahwa kebanyakan hal baik dalam hidup akan hilang begitu saja disapu hembusan waktu bila tak ditulis. Terpujilah nama Rabb seru sekalian alam yang setiap hati ada di genggam-Nya, semoga niat saya ini dijauhkan dari riya’ dan saya pun berusaha serendah hati mungkin dalam menyampaikan pengalaman ini kepada sobat alurkayu. Saya pun tak lepas dari sifat lupa yang dimana artikel ini bisa membantu saya mengingat kembali hal-hal baik di masa lampau hidup saya, sehingga bisa diambil pelajaran. Lebih-lebih artikel ini bisa memberi manfaat kepada sobat alurkayu yang membaca artikel ini.

air mata

Butiran Air Mata

Ketika rongga dada “menyempit”, telinga tak lagi mendengar apa pun selain setiap ketukan denyut jantung ini. Pandangan memudar seketika bersama dengan pudarnya gambaran masa depan. Dua insan kala itu larut dalam setiap isak tangis kesedihan,

Bibir pun mengerut dan lidah keluh tak mampu berucap sepatah kata pun. Isak tangisnya terus mencengkeram jiwa. Kalimat demi kalimat keluhan  jadi jedah antara tangis dan isaknya. Tingkah laku ini melukainya, memupus harapan baiknya. Hangatnya kenangan indah masa lalu tak mampu melindungi jalinan yang sedang meregang hebat dan diambang perpisahan.

Satu hal yang saat itu dipahami adalah segala keinginan membahagiakannya dan usaha menghangatkan hubungan justru membuatnya tak bahagia. Rasa kecewa mengambbil tahtanya di kerajaan hati, mengubah kasih menjadi benci dan tulus menjadi pamrih. Segala pengorbanan yang jadi dasar hubungan sirna dan larut dalam butiran air mata yang terpisah dari tepian mata.

Momen kesedihan yang benar-benar menyesakkan hati dan memaksa saya untuk meneteskan air mata untuk sebuah perpisahan. Air mata yang bahkan tak keluar saat ditinggal pergi ayahanda kembali kehadirat Sang Pencipta. Air mata yang sama juga tak menetes ketika mengetahui ibunda terkena penyakit serius. Sungguh kesedihan yang sulit saya pahami kala itu.

Momen kesedihan itu telah berlalu namun  hati yang terlanjur tergores tak kunjung sembuh. Hatinya terluka dan hati ini pun terluka karena momen itu. Terbawa perasaan masing-masing menuntun pada kesimpulan untuk memutus jalinan komunikasi. Hati yang dikuasai rasa kecewa begitu terguncang setiap kenangan bersama. Sedih ketika teringat apa yang telah diberikan kepadanya, sedih ketika ingat betapa besarnya harapan kepadanya, sedih karena pengorbanan tak berujung perlakuan yang layak dan kesedihan-kesedihan lain yang menghanguskan kalbu.

Dalam kondisi kalut seperti itu kalimat yang pertama kali membuat saya tersentak adalah “Yang Berlalu Biarlah Berlalu”. Sebuah kalimat di bab-bab awal buku La Tahzan. Hingga muncul pertanyaan dalam benak saya “Mengapa begitu memikirkan apa yang sudah berlalu dan sedih di dalamnya ?”. karena saya berkorban banyak hal deminya dan berharap balasan sama darinya. Ketika harapan itu tak terwujud saya merasa kecewa dan ingin merubah apa yang telah terjadi sehingga sesuai kemauan saya.

Kesedihan mendalam dan merusak itu pun menjadi keniscayaan ketika kita merasa hal buruk hanya hal buruk semata. Kita hanya berpikir bahwa hal buruk itu pantas disesali secara terus menerus. Padahal sebagai orang yang menyadari bahwa setiap hal yang terjadi dalam hidup ini adalah atas kehendak-Nya seharusnya menyadari bahwa akal kita terbatas, kemampuan kita terbatas dan Kehendak-Nya tak terbatas. Dan segala sesuatu dari-Nya pasti baik. Karena Dia paling mengetahui apa yang kita butuhkan dan kita mau dibanding kita sendiri.

Jika kesadaran bahwa kemampuan diri ini terbatas dan kehendak-Nya tak terbatas maka yang selanjutnya ditumbuhkan adalah hanya kepada-Nyalah semua harapan baik digantungkan. Rasa kecewa tak terjadi jika kita tidak berharap pada sesama manusia (pamrih). Karena orang lain yang kita harapkan balasannya itu juga memiliki keterbatasan yang bila kita paksakan untuk berharap kepadanya akan berjung kecewa.

Butiran air mata memang diciptakan untuk meng-khidmat-kan kesedihan kita, seperti titik air hujan yang jadi akibat yang indah dari mendung di langit musim kemarau. Apabila mau sejenak kita renungi dan resapi arti butiran air mata itu mungkin bukan sedih atau kecewa itu yang penting lagi. Karena sedih hanya akan jadi syarat hadrinya kebahagiaan dan kesusahan akan jadi syarat terbitnya cahaya kemudahan.

Advertisements

About josestrike21

Orang Indonesia

Posted on August 26, 2016, in Catatan. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: