Monthly Archives: August 2016

Perjalanan Menuju Kedamaian I (Butiran Air Mata)

Assalamualaikum wr.wb.

Salam hangat sobat alurkayu semoga terhindar dari rasa sedih dan perih, amin ya robbal alamin. Setiap kalimat dalam doa seyogyanya menyelipkan pengharapan untuk kebaikan bagi diri sendiri maupun orang-orang yang kita sayangi. Harapan memperoleh kebaikan berupa kebahagiaan, kemudahan, kelimpahan rejeki dan lain sebagainya. Dan sebaik-baik doa adalah yang ikhlas mengharap kebaikan dar-Nya, hal ini yang pertama kali saya sadari ketika memulai perjalanan ini,

Dalam artikel “Ketidaksengajaan Yang Sangat Sengaja” saya sudah berbagi tetang bagaimana hubungan saya dan Dia kembali terangkai. Dengan perantara buku La Tahzan saya memulai perjalanan untuk menggapai kedamaian yang saat itu terasa hilang dari hidup saya.

Mengapa begitu penting tulisan perjalanan ini ? saya berpandangan bahwa kebanyakan hal baik dalam hidup akan hilang begitu saja disapu hembusan waktu bila tak ditulis. Terpujilah nama Rabb seru sekalian alam yang setiap hati ada di genggam-Nya, semoga niat saya ini dijauhkan dari riya’ dan saya pun berusaha serendah hati mungkin dalam menyampaikan pengalaman ini kepada sobat alurkayu. Saya pun tak lepas dari sifat lupa yang dimana artikel ini bisa membantu saya mengingat kembali hal-hal baik di masa lampau hidup saya, sehingga bisa diambil pelajaran. Lebih-lebih artikel ini bisa memberi manfaat kepada sobat alurkayu yang membaca artikel ini.

air mata

Butiran Air Mata

Ketika rongga dada “menyempit”, telinga tak lagi mendengar apa pun selain setiap ketukan denyut jantung ini. Pandangan memudar seketika bersama dengan pudarnya gambaran masa depan. Dua insan kala itu larut dalam setiap isak tangis kesedihan,

Bibir pun mengerut dan lidah keluh tak mampu berucap sepatah kata pun. Isak tangisnya terus mencengkeram jiwa. Kalimat demi kalimat keluhan  jadi jedah antara tangis dan isaknya. Tingkah laku ini melukainya, memupus harapan baiknya. Hangatnya kenangan indah masa lalu tak mampu melindungi jalinan yang sedang meregang hebat dan diambang perpisahan.

Satu hal yang saat itu dipahami adalah segala keinginan membahagiakannya dan usaha menghangatkan hubungan justru membuatnya tak bahagia. Rasa kecewa mengambbil tahtanya di kerajaan hati, mengubah kasih menjadi benci dan tulus menjadi pamrih. Segala pengorbanan yang jadi dasar hubungan sirna dan larut dalam butiran air mata yang terpisah dari tepian mata.

Momen kesedihan yang benar-benar menyesakkan hati dan memaksa saya untuk meneteskan air mata untuk sebuah perpisahan. Air mata yang bahkan tak keluar saat ditinggal pergi ayahanda kembali kehadirat Sang Pencipta. Air mata yang sama juga tak menetes ketika mengetahui ibunda terkena penyakit serius. Sungguh kesedihan yang sulit saya pahami kala itu.

Momen kesedihan itu telah berlalu namun  hati yang terlanjur tergores tak kunjung sembuh. Hatinya terluka dan hati ini pun terluka karena momen itu. Terbawa perasaan masing-masing menuntun pada kesimpulan untuk memutus jalinan komunikasi. Hati yang dikuasai rasa kecewa begitu terguncang setiap kenangan bersama. Sedih ketika teringat apa yang telah diberikan kepadanya, sedih ketika ingat betapa besarnya harapan kepadanya, sedih karena pengorbanan tak berujung perlakuan yang layak dan kesedihan-kesedihan lain yang menghanguskan kalbu.

Dalam kondisi kalut seperti itu kalimat yang pertama kali membuat saya tersentak adalah “Yang Berlalu Biarlah Berlalu”. Sebuah kalimat di bab-bab awal buku La Tahzan. Hingga muncul pertanyaan dalam benak saya “Mengapa begitu memikirkan apa yang sudah berlalu dan sedih di dalamnya ?”. karena saya berkorban banyak hal deminya dan berharap balasan sama darinya. Ketika harapan itu tak terwujud saya merasa kecewa dan ingin merubah apa yang telah terjadi sehingga sesuai kemauan saya.

Kesedihan mendalam dan merusak itu pun menjadi keniscayaan ketika kita merasa hal buruk hanya hal buruk semata. Kita hanya berpikir bahwa hal buruk itu pantas disesali secara terus menerus. Padahal sebagai orang yang menyadari bahwa setiap hal yang terjadi dalam hidup ini adalah atas kehendak-Nya seharusnya menyadari bahwa akal kita terbatas, kemampuan kita terbatas dan Kehendak-Nya tak terbatas. Dan segala sesuatu dari-Nya pasti baik. Karena Dia paling mengetahui apa yang kita butuhkan dan kita mau dibanding kita sendiri.

Jika kesadaran bahwa kemampuan diri ini terbatas dan kehendak-Nya tak terbatas maka yang selanjutnya ditumbuhkan adalah hanya kepada-Nyalah semua harapan baik digantungkan. Rasa kecewa tak terjadi jika kita tidak berharap pada sesama manusia (pamrih). Karena orang lain yang kita harapkan balasannya itu juga memiliki keterbatasan yang bila kita paksakan untuk berharap kepadanya akan berjung kecewa.

Butiran air mata memang diciptakan untuk meng-khidmat-kan kesedihan kita, seperti titik air hujan yang jadi akibat yang indah dari mendung di langit musim kemarau. Apabila mau sejenak kita renungi dan resapi arti butiran air mata itu mungkin bukan sedih atau kecewa itu yang penting lagi. Karena sedih hanya akan jadi syarat hadrinya kebahagiaan dan kesusahan akan jadi syarat terbitnya cahaya kemudahan.

Ketidaksengajaan yang Sangat Sengaja

Assalamualaikum wr.wb. Salam hangat sobat alurkayu dimana pun berada, semoga selalu  semnagat dan bahagia. Sangat penting bagi kita untuk mencapai kebahagiaan dalam hidup. Bayangan akan kebahagiaan yang ingin dicapai membeuat setap waktu kita terasa berharga, setiap langkah terasa ringan, mood jadi bagus dan hal – hal inilah yang menandakan semangat sedang mengalir dalam diri kita. Pada kenyataannya hidup kita tak selalu sesuai dengan yang kita mau sehingga muncul rasa kecewa, sedih dan khawatir. sekujur tubuh terasa lemah dan kehilangan tenaga manakala kesedihan menghampiri kita. Nafas terasa sesak karena himpitan kekhawatiran akan terjadinya hal – hal yang tidak inginkan.

Dalam artikel ini saya mencoba berbagi pengalaman dalam memahami kebahagiaan dan kesedihan dengan rujukan buku La Tahzan (Jangan Bersedih). Sebuah buku yang ditulis oleh Dr. Aidh al-Qarni yang membuka jalan saya untuk memahami Interaksi antara alam pikiran dan keadaan yang saya alami, entah itu kebahagiaan atau kesedihan. Sehingga memberikan pemahaman baru dan penegasan terhadap nasehat–nasehat baik yang saya terima sebelumnya.

Ketidaksengajaan

Seperti halnya pemuda kebanyakan saat sebelum saya menemukan buku La Tahzan, saya kesulitan memahami mengapa saya harus merasa bahagia dan bersyukur, lalu mengapa saya harus merasa sedih dan mengeluh. Meskipun sudah lama saya dengar nasehat guru dan orang tua bahwa harus banyak bersabar dan berseyukur. Tak kurang juga ceramah agama menyampaikan keutamaan–keutamaan bersyukur dalam agama.

Di tengah kedangkalan pemahaman itu saya mengalami masalah dalam hubungan dengan pasangan yang sudah lama dibina dan berencana ke jenjang serius malah berada diambang perpisahan. Pasangan yang sebentar lagi akan saya ajak ke pelaminan memutuskan untuk menyudahi hubungan kami. Kenyataan itu membuat saya jatuh dalam jurang kesedihan dan keputus-asa-an. Meratap dan bermuram hati adalah kegiatan yang nikmat dilakukan untuk mengisi hari–hari setelah itu.

Hingga suatu ketika teman yang ber-empati terhadap keadaan saya berniat menghibur saya dengan mengajak saya ke sebuah toko buku untuk melihat–lihat. Hobi membaca yang sedang redup mendadak tersentak melihat sebuah buku tebal bersampul kuning dengan judul yang seolah – olah bicara kepada saya tentang perasaan yang saya alami.

“Jangan Bersedih”

Buku tebal yang sekilas nampak membosankan untuk dibaca. Sulit membayangkan bisa selesai membaca buku La Tahzan ini dalam kondisi mood jelek untuk membaca. Dan harga yang relatif lebih mahal dari buku–buku yang saya beli. Tidak tahu kenapa saya begitu mantab membawa pulang buku ini hanya karena judulnya yang seolah menggoda untukk dibaca.

IMG_20160808_202726

Kesengajaan yang “sangat sengaja”

Entah bagaimana saya harus memberi sub-judul untuk bagian ini. Terbersit kata “sengaja” saja di pikiran ini. Tidak ada kata sepadan selain kata “sengaja” untuk menggambarkan campur tangan Sang Maha Berkehendak lagi Maha Penyayang. Apa yang menuntun saya pada sebuah perjalanan baru menuju danau–danau hikmah yang airnya jernih dan menenangkan jiwa.

Sebuah keberuntungan yang tak terhingga ketika saya bisa memulai perjalanan dari “tempat” yang seharusnya jadi “tempat” meng-akhir-i perjalanan pula. Dalam kepercayaan yang saya anut semua hal yang ada di dunia ini berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Sehinggga dimulai dengan memahami bahwa sekuat apa pun kita berusaha tetap saja ada bagian yang kita tidak akan bisa mengendalikannya, dan sebaik apa pun akal kita memahami suatu masalah tetap ada saat ketika akal kita tak mampu menggapai solusi.

Masalah hubungan antara laki – laki dan perempuan yang biasa dikeluhkan teman kepada saya dan seolah mudah bagi akal saya untuk mencerna masalah itu menjadi solusi. Namun keadaan sekarang berubah dan menempatkan saya pada posisi yang dialami teman saya tersebut. Dan ternyata akal pun mengakui bahwa ada sisi dimana logika tak mampu memproses hitungan. Hitungan tentang perasaan mendalam pada seseorang dan ikatan yang menyatukan dua insan sedang diambang perpisahan.

Dalam rasa sedih dan kecewa yang semakin menjadi–jadi setiap hari karena bayangan perpisahan itu. Bahasa lembut-Nya menyapa jiwa dengan perantara buku La Tahzan. Menyadarkan saya bahwa betapa tak pantasnya rasa sedih berlebihan bertahta di dalam hati orang–orang yang percaya pada-Nya. Karena begitu banyak kasih sayang dan anugerah yang Dia berikan kepada kita. Mengerti bahwa sedih itu sendiri hanya syarat untuk hadirnya kebahagiaan. Setiap tetes air mata akan diganti dengan kepuasan dan ketenangan hati jika mau bersyukur dan pasrah kepada-Nya.

Uluran tangan yang luar biasa indah dan hangat memeluk jiwa. Tuhan tahu saya bukan ahli kitab yang rajin membaca firman–firman-Nya. Dia pun tahu kalau saya umat-Nya yang dangkal pemahaman tentang-Nya. Dan akhirnya saya mengerti bahwa Dia selalu melihat, mendengar dan menolong saya dalam keadaan apa pun.

-Seleeai-

Note : Artikel ini bukan resensi, ini hanya cara saya untuk menerjemahkan apa yang saya pahami dan alami. Saya menyadari banyak kekurangan dalam pemahaman saya ini, sehingga artikel ini tak berhenti di bahasan ini dan akan terus dikembangkan seiring pemahamn dan pengalaman saya. Besar harapan saya artikel ini memberi manfaat bagi sobat alurkayu.

Saran dan masukan sangat saya harapkan untuk bisa menghasilkan tulisan yang lebih baik lagi. Atau bagi sobat yang ingin berbagi pengalaman yang sama tentang buku La Tahzan silahkan tulis di kolom komentar di bawah. Boleh berupa tulisan atau share link web/blog sobat. Akhirnya sekian dan terima kasih. Wassalam