Ada Nuansa Tertinggal Di Kota Pudak Pagi Itu

Komunikasi yang intensif dengan seorang mantan teman kuliah membawa saya untuk menyusun rencana bersepeda santai dengannya pagi ini. Sebuah aktifitas yang sudah lama ingin saya lakukan bersamanya.

Embun pagi masih enggan beranjak dari daun pohon mangga yang tumbuh di depan rumah ketika saya berganti baju favorit saya unutk bersepeda. Adzan subuh belum lama berlalu sementara saya sudah mulai mempersiapkan sepeda Polygon Premier 2.0 untuk olah raga minggu pagi ini. Memeriksa kondisi sepeda penting dilakukan agar aman dan nyaman ketika dikendarai nanti. Tekanan ban dan kondisi rem masih bagus, tidak lupa saya gunakan helm untuk melengkapi standar keamanan ketika bersepeda.

Senua sudah siap dan setelah menutup pagar rumah saya bersiap berangkat menuju meeting point. Hampir saya lupa menyiapkan aplikasi RunKeeper pada smartphone untuk merekam aktifitas olah raga saya pagi ini. Aplikasi ini bisa menunjukkan data tentang aktifitas olah raga kita seperti seberapa jauh kita bersepeda, berapa lama kita bersepeda, kecepatan kita bersepeda hingga berapa banyak kalori yang dibakar.
image

Perpaduan warna hitam dan biru tua langit menjadi payung saya mengayuh tiap meter jalan raya Pakal yang mulai ramai. Kebanyakan adalah orang – orang yang hendak ke pasar Benowo yang ada beberapa kilometer di depan saya. Dan tidak lama saya melintas di Pasar tersebut ketika kesibukan aktifitas jual beli sedang ramai – ramainya. Riuh ramai pasar mengusir sepi jalan yang saya lalui kala itu. Maklum karena pasar Benowo menjadi tempat berkumpulnya orang dari beberapa kecamatan di Surabaya Barat dan Gresik Bagian Timur yang berbatasan dengan Kecamatan Benowo yang masih masuk wilayah Kotamadya Surabaya.

Sekitar Lima menit dari pasar Benowo saya tiba di meeting point, tapi teman saya belum terlihat sejauh saya memandang. Ini tidak mengherankan karena meeting point kami ada di Terminal Angkot Benowo yang munkin cuma sekitar 3 kilometer dari rumah saya, sedangkan teman saya tinggal di daerah Cerme Kabupaten Gresik yang berjarak sekitar 9 kilometer dari meeting point.

Tak lama menunggu teman saya pun tiba, dia memang sudah lama hobi bersepeda dan sudah biasa bersepda dengan jarak yang jauh, mental dan staminanya sangat teruji. Jauh berbeda dengan saya yang gamapang capek hehe….

Acara bersepeda bersama pun dimulai dengan kecepatan rata – rata 20 Km/jam melalui jalannan akses menuju Stadion Gelora Bung Tomo dan Tempat Pembuangan Sampah Akhir Benowo. Kondisi jalan yang masih sepi dan aspal yang masih bagus sangat mendukung untuk mengayuh dengan kecepatan sedang. Tak lama mengayuh kami masuk wilayah industri Romokalisari yang terpisahkan sungai Kali Lamong dengan wilayah Gresikdi sisi kiri jalan kami. Sungai Kali Lamong merupakan salah satu batas alam antara wilayah Kabupaten Gresik bagian Timur dengan Kotamadya Surabaya bagain Barat Utara.
image

Kemilau air Kali Lamong yang mulai disapa sinar mentari pagi seolah menjadi ucapan selamat datang di Kota Gresik. Setelah melalui jembatan Romokalisari resmilah kami masuk ke wilayah Kota Gresik. Ucapan selamat datang Kali Lamong segera berubah jadi sambutan luar biasa ketika tanjakan dengan kemiringan yang tidak terlalu curam namun panjang mulai saya rasakan. Dengan agak susah payah saya menaklukan tanjakan itu, namun harus menyerah juga untuk beristirahat sejenak. Teman saya yang sudah teruji staminanya untuk tanjakan seperti ini meyakinkan saya untuk mengayuh sedikit lagi untuk mengambil tempat istirahat yang bagus. Dengan sedikit berat hati saya ikuti sarannya yang ternyata tidaklah sia – sia. Kami berhenti dan mengambil nafas di depan Landscape baru Kota Gresik yakni Stadion Joko Samudro. Home Base baru tim sepak bola asal Gresik. Bangunan megah berlatar belakang jingganya langit bertahta mentari pagi menggoda kami untuk berfoto di depan Stadion tersebut.
image

Puas berfoto di Stadion baru kebanggaan warga Gresik, saya melanjutkan kayuhan menuju Pelabuhan Gresik. Dengan track yang naik turun khas daerah pesisir dan jalanan dengan aspal yang cukup bagus membuat stamina tidak banyak terkuras. Bebebrapa menit bersepeda kami tiba di Pelabuhan Gresik. Cuaca yang cerah dan langit yang biru membuat suasan disana sangat terasa nyaman. Lalu lalang truk belum terlalu banyak membuat udara masih nyaman. dan deretan kapal kayu seperti membawa nuansa lawas suasan di dermaga pagi itu. Deretan kapal kayu itu seperti tidak berubah dari ratusan tahun lalu. Kuli – kuli angkut pelabuhan yang memanggul sekarung besar tepung meniti papan kecil benar – benar suasana kuno yang saya dapat disana. Decak kagum seketika meeledak dalam pikiran saya. Benar – benar momen yang luar biasa.
image

Segera saaat di pelabuhan itu saya minta diantar ke daerah – daerah dekat sana yang masih memiliki bangunan – bangunan cagar budaya peninggalan jaman kolonial. Teman saya menyanggupinya dan menuntun saya untuk melanjutkan perjalan menuju ke sebuah bangunan tua yang terkenal di Kota Gresik. Benar saja rasa kagum saya pada Kota ini tak henti – henti terasa ketika sepanjang perjalanan saya melalui deretan gedung – gedung tua. Rasa kagum saya memuncak ketika teman saya berhenti di depan sebuah bangunan berasitektur Belanda  yang terkenal dengan Rumah Gajah Mungkur. Tidak banyak yang bisa saya ketahui dari bangunan indah ini. Karena teman saya sendiri juga tidak banyak tahu tentang riwayat rumah tua ini. Tapi itu tidak mengurangi kekaguman saya atas kemegahan banguanan lama Gajah Mungkur dan bebeapa bangunan di sekitarnya.
image

image

Matahari beranjak tinggi menyadarkan saya untuk segera pulang karena matahari yang terik akan mengurangi kenikmatan bersepeda kami. Dengan rasa berat hati saya harus segera pulang karena daya baterai smartphone saya juga sudah lemah.Dan histeria yang dishasilkan nuansa lawas di daerah kota tua Gresik membuat saya ingin sekali kembali dan mengabadikan lebih detil apa yang saya alami di sana.

Selepas alun – alun kota Gresik kami menuju jalan pulang , jalan sama yang kami lalui ketika berangkat tadi. Pengalaman luar biasa yang saya alami ketika bersepeda yang semula sekedar ingin berolah raga mencari keringat ternyata bisa jadi wisata sejarah.

Advertisements

About josestrike21

Orang Indonesia

Posted on February 10, 2016, in Catatan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: