Salam Embun untuk Lilin

Malam hampir tiba di akhir perjalanannya namun aku tak lelah membelah kesunyian. Bergerak lembut keutara terbawa angin malam, tak lelah ku arungi malam. Bintang – bintang berkedip genit membuatku malah semakin menjadi – jadi membelah malam. Hingga aku lupa dimana aku harus berhenti. Dan bintang pun memudar seiring datangnya pagi. Kecewaku merasuk karena janji semu si bintang untuk bertemu di dahan cemara hanyalah semu.

Tak jauh dari cemara itu ku lihat kilat cahaya lain seperti bintang namun berbeda. Dia tak datang dari langit melainkan dari bumi. Snarnya yang lembut dan dekat menjanjikan kehangatan . Rasa kecewa yang ditorehkan bintang dan dingin yang menusuk membawaku semakin dekat pada sebuah rumah sederhana berdinding anyaman bambu. Dari celah dinding bisa kulihat asal cahaya lembut itu. Dialah Lilin cahaya dalam gelap yang memberi kehangatan.

Tak perlu waktu lama untuk kami saling mengenal dan saking mengerti satu sama lain. Lama ku dengar dia bercerita bahwa dari tengah malam dia sudah melihatku kesana kemari mengejar bintang. Memandangiku dari celah anyaman bambu, dinding pemisahku denganya saat itu. Pagi segera menjelang dan kami berjanji tuk bertemu di mlaam berikutnya.

Malam kedua aku tak lagi tergoda kelip bintang. Hatiku senang karena telah bertaut janji dengan cahaya yang nyata dan hangat. Dan tengah malam menjelang saat cahaya lembut yang sama kembali kudekati. Namun da yang aneh dengan Cahaya itu kini lebih terang tapi tubuh si lilin semakin pendek dari kemarin. Cahayanya yang terang dan hangat membahagiakanku. Itu karena aku sudah bosan dengan dinginnya angin malam yang mengantarku kesana kemari di tengah malam. Rasa senang karena kini ada cahaya yang bisa kupandang setiap saat dan kurasakan hangatnya dar jarak yang dekat. Rasa bahagia membuatku ingin semakin dekat dengannya, menyentuhnya dan memilikinya.

Setiap bagian dalam hidup tak selalu sesuai dengan keinginan kita, namun selalu ada pelajaran yang bisa diambil, begitulah kata orang bijak. Keinginanku untuk menyentuh llilin malah membuat cahayanya meredup, cerianya memudar. Aku yang dingin ini terlalu dingin untuknya. semakin dekat aku padanya semakin dia kehilangan daya untuk menerangi. Aku baru sadar ternyata pertemuan ini hanyalah sepihak. Aku hanya bisa merasakan bahagia yang dia berikan tanpa bisa memberi hal sama kepadanya. Lilin memberiku cahaya dan kehangatan namun aku memberikan dingin dan kesepian. Dia membahagiakanku dan aku menyakitinya. Bukan sesuatu yang kuinginkan namun tak mampu kuhindari.

Lilin terluka perih disisa akhir malam dalam tubuhnya yang semakin tak berbentuk menyisakan sumbunya. Aku bahagia sekaligus kecewa. Bahagia karena mencintainya dan kecewa karena tak mampu bahagiakannya. Rasa sedih mendalamku mengetahui cahaya semakin redup dan redup lalu lenyap  dalam kesedihan. Lilinku pergi, cahayaku menghilang meninggalkanku dalam gelap.  Tak ada lagi yang bisa kujadikan teman menghabiskan malam. Aku sedih dan aku berduka. Kutautkan sedihku pada daun pinus hingga mentari menjelang. Sang pemilik cahaya datang dan kuhadapkan diriku padanya hingga embun menjadi bbutiran air yang menetes dari daun pinus ke tanah.. Tempat rasaku, cintaku dan harapku untuk lilin teriring salam penuh cinta.

SAlam dari Embun untuk Lilin

Advertisements

About josestrike21

Orang Indonesia

Posted on September 6, 2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. masnya kebanyakan baca buku….

    Liked by 1 person

  2. trus enaknya banyak apa dong nbak ? hehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: