Bengong

Warna kuning tersembur tak merata diantara warna gelap langit. Sementara itu perahu – perahu pengantar kru kapal bergoyang lambat terempas gelombang seraya bertaut satu sama lain seperti saling berpegangan. Derap – derap kaki kokoh buruh angkut perlahan semakin terdengar dan bersiap menyambut kedatangan kapal pertama hari ini.

Resleting jaket ku rapatkan hingga ke leher untuk menghalau semilir angin pagi pelabuhan yang lumayan dingin. Mataku masih sedikit berat walau sudah sejenak terpejam saat kapal terakhir semalam melepaskan tali kaitnya dari bolder. Diiringi sedikit sakit kepala kupaksakan tubuhku berjalan untuk memeriksa keadaan dermaga.

Kemilau air memantulkan warna langit yang semakin didominasi warna terang yang tanpa kusadsri membawaku pada nuansa pagi dua hari lalu dimana aku sudah berada di ambang pintu bertuliskan DORONG, tentu saja bukan pintu rumahku sendiri melainkan pintu masuk Mc Donald. Bukan kebiasaan yang lazim ku lakukan tapi tak sedikit pun aku sesali. Justru perasaan sesal itu muncul mana kala dua langkah setelah melalui pintu itu aku melihat satu – satunya orang tak berseragam di ruangan itu yang duduk sendiri di pojokan. Ya, tentu saja dia pengunjung pertama restoran pagi itu. Dia salah satu sahabat terlama yang masih bisa kutemui. Namanya Miya teman Sekolah Dasar ketika aku masih tinggal di Sidoarjo. Aku pindah sekolah saat kelas 4, dan dia pun akhirnya pindah tempat tinggal ke Jawa Tengah karena ikut dinas ayahnya.

Tatapanya kosong perpaduan antara lelah dan jenuh karena jadi satu – satunya pengunjung. Tak lantas membuatku langsung menyapa dia karena ingin sedikit bercanda denganya aku memutari tangga ke lantai dua yang dipasang dinding papan kayu utnuk memberi kesan rapi dan agak menyamarkan letak tangga, seraya ku kirim pesan singkat padanya.

Km dmn ?

Belum sempat dia membalas aku sudah muncul dihadapanya. Senyum tipis terkembang begitu pandangannya lurus padaku.

“Hai, udah lama ya ?”, sapaku tanpa salam tidak seperti layaknya orang yang lama tak bertemu.
“Hehehe…. dasar dargombes….” sapaan akrab kami di Blackberry Messeger “…udah jam berapa nih ?”. komplainya padaku.

Ini memang bukan jam lazimnya kami bertemu. Matahari masih belum memancarkan kemilau kuningnya saat aku melirik langit melalui jendela restoran yang lebar.

“Kamu sendirian bengong di sini dari jam setengah dua tadi ?”, tanyaku sambil menunjukkan rasa simpati dan bersalah yang sama kadarnya. “Nggak, mas Gandi baru aja pulang jam setengah lima”, jawabnya dengan ekspresi biasa namun ada sedikit kilatan semangat.

Sepotong birger utuh terlihat dingin karena sudah lama dipesan dan ditemani segelas coklat hangat yang sepertinya juga sudah dingin. Tampak satu nampan lagi namun kosong sepertinya jadi bukti jejak mas Gandi menemaninya semalaman duduk dan ngobrol dari kirai yang aku duduki sekarang.

“Kamu mau pesan lagi nggak ?”, tawaranku ke Miya. “Nggak rud, ini aja belum aku makan”, jawabnya singkat.

Setelah mengiyakan penolakan Miya aku beranjak mendekati meja kasir dan memesan Egg McMuffin dan kopi hangat. Kombinasi yang ganjil mengingat betapa jarangnya aku berkunjung ke restoran cepat saji jam enam pagi.

Dengan nampan yang tidak terlalu berat itu aku kembali ke meja oval rendah berwarna krem sementara lagi – lagi Miya bengong sambil sesekali melihat – lihat layar 4 inchi handphonenya.

“Ngomong- ngomong kamu sampai surabya jam berapa ? “, tanyaku memecah lamunannya samvil meletakkan namapnku di atas nampan bekas mas Gandi.

“Sekitar jam tiga, dan aku masih nagntuk”, jawabnya pelan namun agak berat.
“Trus, langsung ke sini ?”
“Iya”, kali ini dengan posisi duduk bersila menghadap persis padaku seperti bersiap melakukan semedi.

“Lho kok masih ngantuk ? Memang nggak tidur tadi di kereta ?”, pertanyaan kesekian entahlah aku pun lupa.

“Nggak bisa tidur di kereta gara-gara dapat gerbong paling depan”, jawabnya dengan suara lebih tegas namun mata elipsnya yang tajam tersamarkan kaca mata.”Hmm, kok bisa ?”, tanyaku lagi sambil melahap potongan pertama Egg Mc Muffin.

“Hehehe…. takut kalo-kalo ada tabrakan kereta seperti di Cirebon”, dia tertawa kecil namun cukup menghangatkan suasana. “Dasar dargombes….hehe… nggak bisa tdiur gara-gara kepikiran gitu”, sambutku dengan tawa yang sama namun agak lebih keras. “Nggak cuma itu, aku juga beku di dalam gerbong kereta ” tambahnya sambil memperagakan orang kedinginan. Aku pun tertawa setelah melahap potongan terakhir McMuffin. Kami berdua tertawa terbahak saat cerita perjalannya yang lucu berpadu dengan banyolanku.

Merasa moodnya lebih baik dan lelah terlalu banyak tertawa akhirnya burger yang beberapa jam terabaikan akhirnya dia lahap sampai habis.

Beberapa menit  setelah sedotan terakhirnya pada minuman coklat. Dia terbengong lagi kali ini sambil bersandar di tas carrier khas pendaki gunung. Rautnya berubah lesu karena letih dan kantuk yang tak tertahan. Seketika suasana menjadi canggung dan senyap karena aku pun merasa masih kantuk setelah bangun jam setengah 5 dan mengendarai motor ala motoGP di jalanan lengang. Bahkan McMuffin dan segelas kopi hitam pun tak mampu menolongku.

Kebengongan yang cukup lama sampai pada kesepakatan untuk memulai petualangan kamibdi hari minggu menghasiri seminar blog traveler, kumpul klub buku surabaya dan terakhir menikmati festival kuliner di jalan Tunjungan.

Posted from WordPress for Android

Advertisements

About josestrike21

Orang Indonesia

Posted on May 26, 2015, in Catatan and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: