Monthly Archives: May 2015

Bengong

Warna kuning tersembur tak merata diantara warna gelap langit. Sementara itu perahu – perahu pengantar kru kapal bergoyang lambat terempas gelombang seraya bertaut satu sama lain seperti saling berpegangan. Derap – derap kaki kokoh buruh angkut perlahan semakin terdengar dan bersiap menyambut kedatangan kapal pertama hari ini.

Resleting jaket ku rapatkan hingga ke leher untuk menghalau semilir angin pagi pelabuhan yang lumayan dingin. Mataku masih sedikit berat walau sudah sejenak terpejam saat kapal terakhir semalam melepaskan tali kaitnya dari bolder. Diiringi sedikit sakit kepala kupaksakan tubuhku berjalan untuk memeriksa keadaan dermaga.

Kemilau air memantulkan warna langit yang semakin didominasi warna terang yang tanpa kusadsri membawaku pada nuansa pagi dua hari lalu dimana aku sudah berada di ambang pintu bertuliskan DORONG, tentu saja bukan pintu rumahku sendiri melainkan pintu masuk Mc Donald. Bukan kebiasaan yang lazim ku lakukan tapi tak sedikit pun aku sesali. Justru perasaan sesal itu muncul mana kala dua langkah setelah melalui pintu itu aku melihat satu – satunya orang tak berseragam di ruangan itu yang duduk sendiri di pojokan. Ya, tentu saja dia pengunjung pertama restoran pagi itu. Dia salah satu sahabat terlama yang masih bisa kutemui. Namanya Miya teman Sekolah Dasar ketika aku masih tinggal di Sidoarjo. Aku pindah sekolah saat kelas 4, dan dia pun akhirnya pindah tempat tinggal ke Jawa Tengah karena ikut dinas ayahnya.

Tatapanya kosong perpaduan antara lelah dan jenuh karena jadi satu – satunya pengunjung. Tak lantas membuatku langsung menyapa dia karena ingin sedikit bercanda denganya aku memutari tangga ke lantai dua yang dipasang dinding papan kayu utnuk memberi kesan rapi dan agak menyamarkan letak tangga, seraya ku kirim pesan singkat padanya.

Km dmn ?

Belum sempat dia membalas aku sudah muncul dihadapanya. Senyum tipis terkembang begitu pandangannya lurus padaku.

“Hai, udah lama ya ?”, sapaku tanpa salam tidak seperti layaknya orang yang lama tak bertemu.
“Hehehe…. dasar dargombes….” sapaan akrab kami di Blackberry Messeger “…udah jam berapa nih ?”. komplainya padaku.

Ini memang bukan jam lazimnya kami bertemu. Matahari masih belum memancarkan kemilau kuningnya saat aku melirik langit melalui jendela restoran yang lebar.

“Kamu sendirian bengong di sini dari jam setengah dua tadi ?”, tanyaku sambil menunjukkan rasa simpati dan bersalah yang sama kadarnya. “Nggak, mas Gandi baru aja pulang jam setengah lima”, jawabnya dengan ekspresi biasa namun ada sedikit kilatan semangat.

Sepotong birger utuh terlihat dingin karena sudah lama dipesan dan ditemani segelas coklat hangat yang sepertinya juga sudah dingin. Tampak satu nampan lagi namun kosong sepertinya jadi bukti jejak mas Gandi menemaninya semalaman duduk dan ngobrol dari kirai yang aku duduki sekarang.

“Kamu mau pesan lagi nggak ?”, tawaranku ke Miya. “Nggak rud, ini aja belum aku makan”, jawabnya singkat.

Setelah mengiyakan penolakan Miya aku beranjak mendekati meja kasir dan memesan Egg McMuffin dan kopi hangat. Kombinasi yang ganjil mengingat betapa jarangnya aku berkunjung ke restoran cepat saji jam enam pagi.

Dengan nampan yang tidak terlalu berat itu aku kembali ke meja oval rendah berwarna krem sementara lagi – lagi Miya bengong sambil sesekali melihat – lihat layar 4 inchi handphonenya.

“Ngomong- ngomong kamu sampai surabya jam berapa ? “, tanyaku memecah lamunannya samvil meletakkan namapnku di atas nampan bekas mas Gandi.

“Sekitar jam tiga, dan aku masih nagntuk”, jawabnya pelan namun agak berat.
“Trus, langsung ke sini ?”
“Iya”, kali ini dengan posisi duduk bersila menghadap persis padaku seperti bersiap melakukan semedi.

“Lho kok masih ngantuk ? Memang nggak tidur tadi di kereta ?”, pertanyaan kesekian entahlah aku pun lupa.

“Nggak bisa tidur di kereta gara-gara dapat gerbong paling depan”, jawabnya dengan suara lebih tegas namun mata elipsnya yang tajam tersamarkan kaca mata.”Hmm, kok bisa ?”, tanyaku lagi sambil melahap potongan pertama Egg Mc Muffin.

“Hehehe…. takut kalo-kalo ada tabrakan kereta seperti di Cirebon”, dia tertawa kecil namun cukup menghangatkan suasana. “Dasar dargombes….hehe… nggak bisa tdiur gara-gara kepikiran gitu”, sambutku dengan tawa yang sama namun agak lebih keras. “Nggak cuma itu, aku juga beku di dalam gerbong kereta ” tambahnya sambil memperagakan orang kedinginan. Aku pun tertawa setelah melahap potongan terakhir McMuffin. Kami berdua tertawa terbahak saat cerita perjalannya yang lucu berpadu dengan banyolanku.

Merasa moodnya lebih baik dan lelah terlalu banyak tertawa akhirnya burger yang beberapa jam terabaikan akhirnya dia lahap sampai habis.

Beberapa menit  setelah sedotan terakhirnya pada minuman coklat. Dia terbengong lagi kali ini sambil bersandar di tas carrier khas pendaki gunung. Rautnya berubah lesu karena letih dan kantuk yang tak tertahan. Seketika suasana menjadi canggung dan senyap karena aku pun merasa masih kantuk setelah bangun jam setengah 5 dan mengendarai motor ala motoGP di jalanan lengang. Bahkan McMuffin dan segelas kopi hitam pun tak mampu menolongku.

Kebengongan yang cukup lama sampai pada kesepakatan untuk memulai petualangan kamibdi hari minggu menghasiri seminar blog traveler, kumpul klub buku surabaya dan terakhir menikmati festival kuliner di jalan Tunjungan.

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Malam Minggu Rasa Jogja

“Taruh sini aja mas” sambut suara pria paruh baya ramah mengenakan rompi oranye bergaris terang. Perlahan kuparkirkan motorku pada jajaran yang masih cukup longgar.
Jarum jam masih menunjuk angka delapan dan enam ketika kepalaku tengak tengok mencari meja yang kosong di Angkringan yang mulai ramai pengunjung di malam minggu.

Suasana santai dengan cahaya lampu yang tak terlalu terang menambah kesan penghilang penat dari rutinitas. Meja – meja persegi berkaki rendah ditata berjajar di atas karpet sebagai alas duduk penggunjung memberi esan lesehan jogja.Ada juga meja – meja besi tinggi yang sudah penuh oleh pengunjung.

image

image

Tak butuh waktu lama untuk segera memutuskan menempati meja lesehan yang ada di depan meja si penjual minuman yang lebih mirip pukulan penjual keliling jaman dulu. Dan meja penjual minuman itulag yang membuat angan – angan terbawa pada kenangan akan jogja. Berjajar jajanan khas warung kooi tersedia disitu. Belum lagi panci merebus air yang jadul menambah kesan antik dan unik warung kopi tang satu ini.

image

image

image

Walaupun ini kunjunganku yang kesekian kali tapi baru malam ini aku berkesempatan melihat penampilan dari live music di aarung kopi. Meskipun hanya orgen tunggal namun cukup membuat suasana malam itu menjadi cukup syahdu.

Menu yang ditawarkan pun cukup unik dan berbeda dengan warung kopi kebanyakan. Salah satu yang menarik dari warung angkringan ini adalah makanan sego kucingnya yang memang lekat dengan khas jogja. Harganya pun sangat ramah bagi kantong. Sangat disesuaikan mengingat letaknya yang bersebelahan  dengan kampus Universitas Wijaya Kusuma. Jadi harganya pun harga mahasiswa.

Dengan harga yang bersahabat dan suasana yang khas jogja, angkringan ini jadi jujukan santai dan kongko favorit di Surabaya Barat.

Posted from WordPress for Android

Hobi Baru

Matahari masih terik siang itu. Bukan ide yang menarik utnuk berlama lama di ruang tunggu yang hanya memiliki kipas angin sebagai penyejuknya. Ruangan kantor yang ber-AC menjadi tempat favorit untuk sejenak menghabiskan waktu makan siang. Sementara di layar handphone rerpampang rulisan “World War Z” lengkap dengan foto sang aktor utama Brad Pitt. Aku sedang memcari berita tentang sekuel film zombi survivor tersebut yang menurutku menyajikan jalan cerita yang berbeda dan menarik dibanding kebanyakan film zombi.

Yap, meskipun aku suka film bertema mayat hidup alias zombi tp tidak semuanya aku suka. Kebabyakan hanya menyajikan sisi sarkas dan menjijikan dari zombi. Dan alur cerita yang lambat dan jalinan adegan yang payah. Dimana para tokoh hanya sekedar lari2 dari sergapan zombi dengan ending yang menggantung. Kesan inilah yang tidak aku temui di film “World war Z”.

Ketertarikan yang begitu besar pada film ini membawaku pada satu blog yang mengulas cerita asli dari film itu. “Cerita asli ? Yup benar sekali cerita original sebelum diangakat ke layar lebar. Dari novel berjudul sama dengan Max Brooks sebagai penulisnya. Dalam blog itu diulas secara menarik awal mula wabah menyebar hingga menjadi wabah global. Tak cukup sampai di situ digambarkan jelas oleh Max brooks reapon dari para manusia yang tersisa saling berperang hanya karena egoisme semata.

Penyampaian cerita yang sangat menarik membuatku benar2 terkesan. Dan mulai menaruh respect pada novel2 brilian yang ada di belakang film2 hebat. Tak lama kemudian ada seorang teman yang baru2 ini terjun di bidang menulis karya fiksi dan blog yang memberiku link blognya. Disana aku mulai banyak tahu tentang betapa cerdas para penulis dalam menyampaikan ide mereka melakui tulisan. Namun itu belumlah cukup untuk mulai membawaku masuk ke hobi membaca yang sudah lama tak terlalu ku gemari karena 5 memit setelah membaca aku selalu tertidur.

Hingga kemudian aku selesai menonton film “The Da Vinvci Code” yang banyak menuai kontroversi pada tahun film itu dirilis. Sudah sering kali ditayangkan di televisi tapi aku tak pernah bisa menonton hingga akhir. Rasa penasaran memaksaku untuk membeli keping DVDnya. Walhasil, cerita yang luar biasa bagus dengan sedikit bumbu aksi. Tak menyurutkan minatku yang sebenarnya penggemar film aksi. Berbagai pesona film itu memnuntunku pada novel tulisan Dan Brown berjudul The Da Vinci Code. Lagi2 karena malas baca novelnya aku browsing sinopsisnya di blog terkait itu. Dan benar saja, aku dibuat penasaran dengan isi novelnya yang briliant dalam menggambarkan teka teki yang bahkan denga visual pun sulit dipahami. Tentu sudah sukar ditemui novelnya karena rilis 12 tahun lalu. Dari sanalah aku benar2 mulai tertarik dengan novel2 briliant.

Dan sekarang aku memulai dengan buku ceirta fiksi dan kisah nyata. The Silkworm atau dalam bahasa Indonesia berarti ulat sutra karya dari Robert Gailbrath yang ternyata nama samaran dari J.K.Rowling orang dibalik novel Harry Potter yang mendunia. Kemudian kisah perjuangan seorang ayah dari anak laki2 berkebutuhan khusus karya dari Ian Brown. Benar2 bukan hobi baru yang mudah namun banyak membuka alam nalar tentang bagaimama berpikir secara sistematis dan briliant bak seorang penulis. Dan sejak saat itu aku memutuskan utnuk mulai hobi membaca novel.

Dya bukanlah dia

Dya sebuah nama yang tak pernah ku kenal sebelumnya. Memandangku dalam sunyi. Menjadi saksi atas perjalananku pada saat itu. Di dekatku namun terabaikan waktu. Pergi sebelum sempat ku mengukir memori. 

Dya simbol ketegaran. Menjalani fase yang belum seharusnya dia jalani. Bertindak sebelum berpikir. Ditempa oleh panasnya lara. Sendiri bergelut dalam getir. Berjalan dalam pencarian.

Dya memcintaiku dengan caranya yang ajaib. Datang kembali sebagai sosok baru. Terluka oleh cerita cinta tal sempurna. Menyadarkan betapa tak berartinya lukaku. Prinsip cinta yang sederhana namaun bermakna. Sabar akan setiap sukar. Menyentuh wajahku lembut aeraya memalingkanku ke depan. Cemburu yang memburu.

  Dya kini bersedih karena lebodohanku. Namun Dya bersabar dalam harap pasaku. Dya memang bukan wanita ideal lelaku sejenisku. Namun Dya bukan dia yang hanya bisa manja. Dya bukan dia yang hanya peduli dirinya sendiri. Dya bukan dia yang hanya memanfaatkanku. Dya bukan dia yang dengan licik menipuku. Dya bukan dia yang lemah. Dya bukanlah dia karena Dya adalah Kasihku.

Alur Kayu

Waktu terus bergulir ke depan tanpa bisa dibendung. Meninggalkan segala kenangan di belakang tanpa kompromi menggilas setiap kesempatan dan mengubahnya menjadi satu kebabggan atau penyesalan. Tak peduli seberapa pahit getir kenangan dan rasa trauma berdiri angkuh waktu kan merobohkannya.
Berapa pun lamanya waktu yang kita miliki tak kan ada yg tersisa selain sejarah dan harapan. Sejarah baik maupun buruk memberi kita alasan tuk tetap berharap dan mengukir makna bagai alur kayu di batang pohon.
Alur kayu seperti rekaman masa lalu dan gambaran masa depan. Tak ubahnya sidik jari pada manusia, dia pun menjadi ciri pembeda antara ohon satu dan yang lain. Alur kayu jadi bukti perjalanan hidup. Alur kayu jadi tempat kita berinterospeksi. Alur kayu tak sekedar catatan sejarah namun memberi visi masa depan yang lebih baik.
Mari berbagai cerita, pengalaman, pengetahuan demi masa depan lebih baik.

Salam Alur Kayu